Site icon NTD Indonesia

Asal dan Sejarah Singkat Kue Bulan

Kue bulan

Kue bulan. @Pixabay

Kue bulan memiliki beberapa nama. Dulunya disebut kue Hu, kue istana, kue kecil, atau kue reuni. Hidangan ini terutama digunakan sebagai persembahan kepada Dewa Bulan. Akibat perubahan budaya sepanjang sejarah, kue ini menjadi hidangan untuk Festival Pertengahan Musim Gugur. Namun karena terdapat beragam tradisi rakyat lainnya, kue bulan telah kehilangan nilai spiritual dan puitisnya, dan menjadi semakin sekuler.

Kue bulan paling awal tampaknya sering dikaitkan dengan Wen Zhong, seorang guru legendaris dari periode Shang (1600-1046 SM). Saat itu, di Provinsi Zhejiang di Tiongkok selatan, sejenis kue dengan pinggiran tipis bernama “Kue Guru” sedang dibuat. Inilah asal mula kue bulan.

Ketika pejabat Dinasti Han, Zhang Qian mengunjungi wilayah barat Tiongkok pada abad kedua, ia membawa kembali biji wijen dan kenari, yang merupakan bahan umum kue bulan. Karena biji wijen dan kenari berasal dari daerah etnis minoritas (disebut juga “Hu”), kue bulan disebut “kue Hu”. Hal ini berlangsung hingga Dinasti Tang (618-907).

Saat itu, ada banyak toko kue di ibu kota Tang, Chang’an. Di suatu Festival Pertengahan Musim Gugur, Kaisar Xuanzong mencoba kue Hu dan mengagumi rasanya. Selirnya, Nyonya Yang, menatap ke langit malam dan melihat bulan purnama. Dia menyarankan untuk menamainya kue bulan yang manis.

Selama masa Dinasti Song (960-1279), kue bulan juga disebut “kue kecil” dan “bola bulan”. Meskipun penyair terkenal Su Dongpo menulis puisi tentang “kue kecil”, orang masih menyebutnya kue bulan.

Di masa dinasti Ming (1368-1644) dan Qing (1644-1911), kue bulan mengalami perbaikan. Cangkang kue bulan menjadi lebih halus, tetapi tidak banyak yang berubah selama bertahun-tahun. Seperti banyak bentuk seni lainnya, setelah mencapai ketinggian artistiknya, menjadi sulit untuk memperbaikinya.

Seiring berjalannya waktu, kue bulan juga telah mengembangkan ciri khas daerah berdasarkan makanan dan adat istiadat setempat. Sekarang ada kue bulan gaya Beijing, gaya Suzhou, gaya Guangdong, gaya Chaozhou, dan gaya Sichuan. Kue bulan gaya Beijing memiliki cangkang coklat yang renyah, sedangkan kue bulan gaya Suzhou memiliki beberapa lapisan kulit tipis dan berwarna pucat. Gaya Guangzhou memiliki cangkang yang tebal dan lembut serta isian yang beragam. Di kawasan muslim, warga menggunakan daging sapi sebagai isian. Di Taiwan, ubi jalar juga digunakan untuk isian kue bulan.

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan kemajuan teknologi, beberapa jenis kue bulan baru bermunculan. Penemuan baru tersebut mencakup kue bulan bercangkang es yang tidak memerlukan pemanggangan, tetapi harus tetap beku, kue bulan sayur atau buah, kue bulan makanan laut isi abalon atau ikan, kue bulan santan, dan kue bulan berbentuk hewan.

Kemasan kue bulan juga semakin mewah. Rasanya seperti mencoba bersaing dengan kue bulan itu sendiri. Mudah-mudahan ini hanya proses eksplorasi, dan pembuatnya kembali memfokuskan perhatiannya pada perbaikan kue bulan. (eva/visiontimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI