Budaya

Asal Usul Bakcang dan Tradisi Mendirikan Telur Pada Festival Perahu Naga

Bakcang
Bakcang. @Unsplash

Festival Perahu Naga, atau Festival Duanwu, memiliki sejarah lebih dari 2.000 tahun. Itu dirayakan pada hari kelima bulan kelima kalender lunar, yang jatuh pada bulan Juni kalender masehi. 

Ada banyak legenda tentang asal usul festival ini. Salah satu yang paling terkenal mengatakan untuk memperingati kematian Qu Yuan (ju yuen), seorang penyair, cendekiawan, dan penasihat Kerajaan Chu selama Periode Negara-Negara Berperang dari Dinasti Zhou Tiongkok (475?221 SM).

Qu Yuan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjadi penasihat setia raja, dan membantu Kerajaan Chu menjadi lebih kuat. Sayangnya, dia dituduh melakukan pengkhianatan oleh pejabat lain yang iri dan jahat, sehingga dia diasingkan oleh Raja.

Kemudian, Kerajaan Qin yang bermusuhan, ingin menaklukkan Kerajaan Chu. Karena sedih dan kecewa, pada hari kelima bulan kelima kalender lunar, Qu Yuan bunuh diri di Sungai Miluo di Provinsi Hunan.

Ketika penduduk setempat mendengar berita itu, mereka mendayung perahu mereka ke sungai untuk mencari jenazahnya. Ketika mereka tidak berhasil, mereka melemparkan beras ke dalam air untuk memberi makan ikan, sehingga mereka tidak akan memakan tubuh Qu Yuan.

Seiring berjalannya waktu, ini menjadi tradisi abadi untuk Festival Perahu Naga: Mendayung perahu berbentuk lomba balap perahu naga, dan nasi yang dikepalkan berevolusi menjadi bakcang.

Bakcang, yang dimakan secara tradisional selama Festival Perahu Naga, dibuat dari beras ketan dan berbagai isian lezat, mulai dari yang manis hingga gurih, berdasarkan bahan-bahan daerah dan kesukaan masyarakat setempat. Bakcang dibungkus dengan daun bambu yang harum, dikukus hingga aromanya meresap ke seluruh dapur Anda.

Membuat bakcang di rumah membutuhkan kerja keras, tetapi hasil yang dinikmati sepadan dengan usahanya. Video pembuatannya dapat dilihat selengkapnya di Youtube: https://youtu.be/qkzAIzYiQGQ

Telur Berdiri

Selain bakcang, setiap daerah juga memiliki kegiatan uniknya sendiri untuk merayakan Festival Duan Wu. Sebagai contoh, di Taiwan, pada tengah hari pada hari kelima di bulan kelima, tepat pada tengah hari, orang-orang mencoba meletakkan telur berdiri tegak di tanah. Para warga keturunan Tionghoa di daerah Pasar Lama Tangerang juga memiliki tradisi mendirikan telur ini pada festival Duan Wu (atau disebut juga festival Peh Cun).

Rekor mendirikan telur Duan Wu terpanjang ditetapkan pada tahun 2010 di Kabupaten Chiayi, Taiwan. Tiga telur masih berdiri lebih dari tiga bulan kemudian setelah diletakkan di tanah pada hari Duan Wu.  

Di Kabupaten Tainan di Taiwan selatan, orang-orang mengatur lebih dari 1.000 telur untuk berdiri di jalan, mengitari kota hampir setengah mil! Ini disebut membentuk “naga telur.”

Anda boleh coba, pada hari-hari biasa sungguh sulit untuk bisa mendirikan telur, tapi pada saat festival Duan Wu, telur dapat berdiri tegak di atas tanah atau di permukaan meja dengan mudahnya.(epochtimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI