Site icon NTD Indonesia

Bodhisattva Avalokitesvara | Legenda Kwan Im (12)

Bodhisattva Avalokitesvara

Berikut adalah cerita legenda putri dari Raja Miao Zhuang, yaitu putri Miao Shan, yang berhasil kultivasi menjadi Bodhisattva Avalokitesvara (Guan Yin / Kwan Im), dikutip dari catatan literatur Dinasti Qing. Dengan sakral dijadikan sebagai referensi.

(Baca Bagian 1 disini)

Bab 12: Sandal Jerami direbut oleh Manusia hitam, Biksuni Suci datang menunggangi Gajah Putih

Konon setelah Maha Guru Miao Shan mendengar nasihat Yong Lian, dia segera mengumpulkan jiwa pikirannya, berulang kali berkata: “Baik, baik, baik! Jalan, jalan, jalan!” Mereka bergegas melangkah maju, tapi belum sampai tiga puluh langkah, tiba-tiba terdengar suara yang aneh seperti suara orang barbar berbicara, terdengar dari dalam hutan yang lebat. Ketika tiga orang itu mendengarnya, mereka sadar situasinya tidak baik, dan saat memfokuskan mata memandang, mereka melihat sekelompok yaksha hantu liar dari hutan bergerak langsung ke arah mereka. Mereka tidak melihatnya tentu akan baik-baik saja, namun karena sekarang telah melihat sekelompok yaksha ini, mau tak mau semua orang menjadi ketakutan bukan main, tak sabar menarik kaki melarikan diri, tapi anehnya, dua batang kaki mereka seolah-olah tumbuh akar, tidak bisa mengangkatnya sedikit pun.

Melihat para hantu jahat itu semakin mendekat, Yong Lian dalam situasi krisis ini, tidak memikirkan apa pun, dia segera meraih tangan Maha Guru Miao Shan, menarik kaki dan berlari, tergopoh-gopoh, berlari tidak seberapa jauh, Maha Guru Miao Shan sudah terjatuh ke tanah. Alhasil ada sesosok yaksha yang berhasil sampai di hadapan Maha Guru, sekali meraihkan tangan telah berhasil menangkapnya.

Yong Lian tidak punya pilihan lain, terpaksa meninggalkan Maha Guru, dan terus berlari sejauh dua – tiga Li, ketika melihat ke belakang tidak terlihat ada yaksha yang mengejar, barulah tenang dirinya, dia melambatkan langkahnya, dan berjalan perlahan-lahan, sambil merenung sepanjang jalan: “Kali ini berakhirlah sudah. Maha Guru telah ditangkap oleh yaksha, dan nenek tua pengasuh juga tidak diketahui keberadaannya, memang sulit untuk menghindari bencana ini! Sekarang hanya tersisa saya sendirian, berjalan sendirian tanpa tujuan, bagaimana baiknya ya?”

Tepat saat dia bingung tanpa arah, tiba-tiba seseorang dari belakang memanggil, “Yong Lian mohon perlahan, tunggu saya sebentar!”

Yong Lian sekali mendengarnya, tahu bahwa itu adalah suara pengasuh, langsung berhenti dan berbalik untuk melihat, sungguh terlihat pengasuh berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya. Yong Lian bertanya dengan khawatir: “Nenek, anda ternyata berhasil selamat, bagaimana keadaan Maha Guru?”

Sang pengasuh menggelengkan kepala sambil terengah-engah berkata: “Istirahat dulu barulah bicara, setelah kelompok yaksha itu menangkap Maha Guru, satu per satu bersorak-sorai dan melompat-lompat, mengelilingi dia menuju ke dalam hutan belantara, tapi malah meninggalkan saya, sama sekali tidak mempedulikan. Ketika saya melihat kamu melarikan diri, maka saya khusus bergegas datang untuk berkumpul bersamamu, dan mendiskusikan rencana penyelamatan.

Yong Lian berkata, “Kelompok hantu yaksha itu begitu ganas, saya yakin Maha Guru telah diculik oleh mereka, tentu ini hal buruk, saya dan nenek adalah orang bertenaga lemah, apakah ada cara untuk menyelamatkannya?”

Pengasuh berkata: “Meskipun begitu, melihat kematian tanpa memberi pertolongan, pada akhirnya telah kehilangan semangat belas kasih seorang biksu. Saya pikir tidak jauh dari sini ada Benteng Saishi, kita sebaiknya pergi ke sana, mencari beberapa orang baik hati, bersama-sama merencanakan cara untuk menyelamatkan Maha Guru. Sebenarnya, ini juga hanyalah cara dalam kondisi tak berdaya, kita melakukan sebisa mungkin saja.”

Mereka berdua pun sepakat dan melanjutkan perjalanan menuju Benteng Saishi, tanpa berpanjang lebar lagi.

Saya menulis sampai di sini, tidak terelakkan harus menjelaskan tentang masalah yaksha, untuk menghindari kebingungan pembaca.

Apakah kelompok hantu hitam itu, sungguh benaran adalah yaksha? Sebenarnya mereka adalah jenis manusia unik di pegunungan. Kelompok manusia ini belum beradab, mereka masih hidup dengan makanan mentah: di badan tidak memakai pakaian, tubuh mereka ditumbuhi bulu hitam panjang, meskipun bulu di wajah mereka lebih pendek, tapi cukup untuk menutupi kulit mereka, hanya menampilkan dua mata yang sipit dan mulut besar seperti bejana darah, terlihat sangat menakutkan. Yong Lian dan lainnya tidak tahu tentang hal ini, hanya menganggap mereka sebagai hantu liar yaksha.

Sekelompok manusia berbulu yang belum beradab ini, hidup terisolasi dari dunia luar. Mereka tinggal di pegunungan dan memburu binatang liar untuk mengenyangkan perut, setelah makan kenyang juga tidak berkeliaran ke segala arah, hanya tiduran saja di dalam hutan. Tapi orang dari luar, jika lewat di depan gunung, tanpa membuat suara, mereka di kedalaman lembah juga tidak akan mendengarnya, bisa berlalu dengan tenang. Jika ketahuan oleh mereka, maka mereka akan keluar menyusahkan orang. Jika orang dari tempat jauh tidak tahu bahaya, tersesat masuk ke lembah mereka, maka mereka jangan harap bisa kembali hidup-hidup, karena sifat dasar mereka tidak normal dan sangat kejam, tawanan yang tertangkap akan disiksa, diadakan pertunjukkan dikuliti, isi perut dan dada dikeluarkan, dan cara keji lainnya. Oleh karena itu orang-orang setempat, jika tidak ada perlu atau bisa jalan memutar, tidak akan bersedia melewati Gunung Jinlun, sekalipun harus melalui jalan ini, mereka juga akan mencoba untuk tetap tenang, melewatinya diam-diam, sama sekali tidak berani mengeluarkan suara mengganggu mereka.

Kali ini Maha Guru Miao Shan harus melewati tempat ini, oleh sebab itu Tuan Liu pernah mengingatkannya berulang kali, hanya tidak menyebutkan alasannya. Jika itu sudah dijelaskan sebelumnya, Maha Guru Miao Shan tidak akan begitu terikat untuk menikmati pemandangan gunung, dan terlibat dalam debat dengan Yong Lian, sehingga mengusik sekelompok manusia berbulu ini, dan menciptakan bencana jatuh ke dalam mulut harimau. Sebenarnya ini juga adalah suatu bencana iblis yang ditakdirkan dalam hidupnya, tidak dapat dihindari!

Pengasuh dan Yong Lian berdua tidak berhenti berjalan, mereka terus menuju ke arah Benteng Saishi, berjalan setengah jam penuh sebelum akhirnya sampai di luar benteng. Saat itu di luar benteng tepat ada sekelompok orang sedang mengangkat tanah liat dan air, untuk memperbaiki dinding benteng, ketika mereka melihat dua orang tersebut, segera tahu bahwa mereka adalah pengunjung dari luar, karena di tempat itu tidak ada biksuni, sekali lihat dari pakaiannya segera tahu. Mereka merasa heran dan menghentikan pekerjaan mereka, mendekati dua orang tersebut untuk bertanya. Sang pengasuh melakukan Heshi sebagai tanda hormat, kemudian menjelaskan asal-usulnya dengan detail kepada mereka, dilanjutkan cerita perjalanan melalui Gunung Jinlun, dan kejadian Maha Guru Miao Shan ditangkap oleh para yaksha kepada orang-orang tersebut.

Ketika orang-orang mendengar ini, tanpa sadar semua menjulurkan lidah mereka, untuk beberapa saat sulit untuk mengembalikannya ke dalam mulut, serentak mereka berkata: “Bahaya sekali, bahaya sekali! Kalian berdua tidak tahu keberuntungan kalian betapa besar, bisa berhasil melarikan diri sampai ke sini, kalau tidak saat ini mungkin nyawa kalian sudah berakhir!”

Orang-orang saling bicara satu sama lain dengan ramai, yang dengan cepat menarik perhatian seorang pejabat di dalam benteng, dia curiga para pekerja ini sedang bertengkar, jadi dia pun keluar dengan santai dan bertanya: “Kalian semua tidak bekerja, apa yang sedang diributkan?”

Pekerja saling berbicara, mengatakan: “Pejabat Tinggi Sun telah datang.” Di antara mereka ada seorang yang terlihat seperti kepala mandor, mendekati dan memberi laporan, Pejabat Tinggi Sun itu kemudian dengan ramah berkata: “Kalau begitu silakan masuk ke benteng, duduk di dalam rumah saya, baru kita bahas lebih lanjut.”

Ternyata Pejabat Tinggi Sun ini, memiliki nama tunggal “De”, adalah tuan benteng di sini, yang biasanya murah hati dan dermawan, baik jauh maupun dekat namanya dikenal di mana-mana. Sekarang setelah melihat dua biksuni yang malang ini, maka dia pun mengundang mereka ke rumahnya dan diberi pelayanan yang layak.

Saat itu sang pembantu dan Yong Lian berdua mengikuti Sun De masuk ke benteng, langsung menuju ke rumahnya, duduk di tempat yang ditetapkan. Hati Yong Lian memikirkan Maha Guru Miao Shan, jadi dia pun membuka pembicaraan: “Wahai Tuan Pejabat, meskipun kami berdua berhasil terhindar dari bahaya sampai ke sini, tapi ada rekan kami Maha Guru Miao Shan, yang sekarang masih tertangkap oleh kawanan yaksha, tidak tahu betapa menderitanya dia. Kami mohon maha belas kasih dari Tuan Pejabat, mencarikan sebuah cara, untuk menyelamatkan dia, pahala ini bahkan lebih besar dibanding membangun jembatan dan memperbaiki jalan!”

Saat Sun De mendengar ini, dia menggeleng-gelengkan kepala, sambil memberi tahu mereka bahwa makhluk yang mereka temui di pegunungan bukanlah yaksha melainkan manusia primitif; kemudian melanjutkan: “Kawanan manusia berbulu ini hidup terpisah dari dunia luar, mereka tidak dapat berkomunikasi satu sama lain, dan tidak ada cara untuk berunding dengan mereka, lembah pegunungan adalah dunia mereka sendiri, dan siapa yang berani pergi mengganggu mereka? Ada cara apa, yang dapat menolong rekan kalian itu? Lagi pula kawanan manusia berbulu ini, memiliki sifat sangat kejam, semua orang yang tersesat masuk pegunungan, biasanya akan ditelan hidup-hidup oleh mereka, sama sekali tidak bisa kembali dengan selamat. Bahkan jika ada cara untuk menyelamatkan rekan kalian, saat ini sudah terlambat, apalagi jika tidak ada cara sama sekali? Menurut saya perihal perjalanan ke Gunung Sumeru, baiknya kalian berdua saja yang pergi, Shifu yang terjebak itu, sudah tidak ada harapan lagi! Jika kalian berdua memutuskan untuk pergi, bahaya di depan kalian akan sangat banyak, kalian harus berhati-hati sepanjang perjalanan!”

Ketika pengasuh dan Yong Lian mendengar penjelasan tersebut, tak terelakkan hati mereka merasa seperti tertusuk oleh ujung pisau, air mata mereka pun mengalir deras turun ke bawah. Yong Lian dengan suara tercekat berkata: “Maha Guru! Selama ini Anda selalu memiliki hati teguh, suara tak dapat menyenangkan telinga Anda, aroma tak dapat memperdaya hidung Anda, rasa tak dapat mengganggu mulut Anda, dan penampilan tak dapat menarik mata Anda, segala kekayaan dan kehormatan tidak bisa menggerakkan niat Anda. Anda telah berkultivasi hingga tahap seperti ini, tapi kali ini karena terikat untuk menikmati keindahan gunung, telah mengundang bencana ini, sehingga gagal karena sebuah kebocoran, bagaimana ini tidak patut disesali?”

Sang pengasuh menjawab: “Yong Lian, kamu jangan secara membuta menyalahkan dia. Meskipun dia sekarang dalam kondisi bahaya, hidup matinya dia masih belum ada berita yang pasti. Maka harapan kita kepada dia, masih belum sepenuhnya hilang. Dia biar bagaimana pun adalah seorang yang bertekad menjalani kultivasi, apakah mungkin Buddha tidak akan memberinya perlindungan? Fa Buddha tiada tepi, mungkin saja bisa terhindar dari bahaya, juga tidak ada yang tahu. Meskipun kita tidak memiliki cara untuk menyelamatkannya, tapi 3 orang keluar untuk melakukan perjalanan ke gunung, apakah pada akhirnya kita harus meninggalkannya begitu saja, melakukan perjalanan terpisah? Jika memang sungguh dia tidak beruntung telah dicelakai oleh manusia berbulu, maka kita juga tidak patut selamat sendiri, kalau mati juga harus mati bersama-sama, barulah menunjukkan bahwa kita satu hati dan satu jiwa.”

Yong Lian menjawab, “Apa yang dikatakan nenek adalah benar, kalau begitu kita sebaiknya kembali ke gunung Jinlun, untuk mencari jejak Maha Guru, walau akhirnya ditelan hidup-hidup oleh manusia berbulu, juga anggap saja sebagai membayar dosa kehidupan masa lalu: kalau demikian, tempat ini bukanlah tempat untuk tinggal lama, mari kita pergi!”

Maka kedua orang itu pun bangkit berdiri, melakukan Heshi kepada Sun De sebagai tanda perpisahan. Namun Sun De bangkit dan menghentikan mereka: “Sudah ada satu yang tertangkap, tanpa alasan yang jelas mengirim 2 lagi, hal ini benar-benar tidak bisa dibiarkan!”

Ketika akan berdebat, tiba-tiba seorang pekerja kasar bergegas masuk ke halaman, dan teriak: “Tuan Pejabat, di luar benteng ada lagi seorang biksuni, yang datang dari kejauhan naik gajah putih. Semua orang curiga bahwa itu adalah Shifu yang terjebak di gunung Jinlun, itu sebabnya saya khusus datang untuk melapor.”

Yong Lian menyela: “Tidak benar, tidak benar, Maha Guru Miao Shan kami berjalan kaki, sama sekali tidak punya tunggangan, itu pasti adalah Shifu yang lain.”

Sun De tersenyum dan berkata: “Segala sesuatu harus dilihat langsung untuk memastikannya, saat ini kita hanya menerka-nerka di belakang, bagaimana kita bisa memastikannya? Karena di sana ada yang datang, tidak ada salahnya bagi kita keluar dari benteng dan melihat, untuk memeriksa kebenarannya. Bahkan jika orang yang datang bukanlah Maha Guru kalian, sebagai sesama biksuni, juga ada rasa persaudaraan sesama aliran, tidak ada salahnya untuk bertemu!” Kedua orang itu setuju, lalu bersama-sama mereka keluar dari rumah Sun, langsung menuju ke luar benteng, melihat ke arah jalan menuju Gunung Jinlun. terlihat dua Li jauhnya, sungguh benar seekor gajah putih berjalan perlahan ke arah mereka, di atas punggung gajah tersebut, duduk tegak seorang biksuni. Kali ini meski jaraknya jauh, bagi orang asing tentu saja tidak mungkin bisa membedakan wajahnya, tetapi di mata sang pengasuh dan Yong Lian, sungguh-sungguh jelas, yang duduk di atas punggung gajah itu, kalau bukan Maha Guru Miao Shan lantas siapa lagi?

Ini membuat keduanya senang bukan main, terutama Yong Lian, yang bahkan melompat melambai-lambai, sambil menarik lengan baju pengasuh dia berkata: “Nenek, anda lihat, yang duduk di atas punggung gajah itu, bukankah itu adalah Maha Guru kita? Dia bukan saja tidak mengalami malapetaka, bahkan memperoleh seekor tunggangan, ini benar-benar keberuntungan di tengah musibah! Mulai sekarang dengan adanya transportasi seperti itu, perjalanan akan jauh lebih lancar!”

Sun De dan orang-orang mendengar perkataan itu, semuanya kagum terkesima! Dua kaki Yong Lian bagaimana bisa ditahan lagi? Dia berlari ke depan dengan cepat. Tak lama kemudian, Maha Guru Miao Shan tiba di depan benteng dan turun dari punggung gajah, melakukan Heshi tanda penghormatan kepada semua orang. Sun De meminta mereka semua masuk ke benteng, tetapi hal yang aneh terjadi, gajah putih itu juga ikut masuk bersama-sama, seolah-olah peliharaan yang jinak.

Ketika semua orang tiba di rumah Sun De, duduk kembali dengan tertib, Sun De berkata, “Selamat kepada Maha Guru berhasil kembali hidup-hidup! Gunung Jinlun ini, selalu diduduki oleh manusia berbulu, semua orang yang tersesat di dalamnya, tidak pernah bisa kembali hidup-hidup. Hari ini Maha Guru boleh dihitung sebagai orang pertama yang berhasil keluar! Benar-benar Fa Buddha tiada tepi, barulah bisa menjadi sumber inspirasi seperti ini, saya memberanikan diri meminta Maha Guru untuk menceritakan kepada kami bagaimana kejadiannya bisa lepas dari bahaya itu, sebagai bahan pembelajaran bagi orang awam, serta penyebaran Fa Buddha!”

Maha Guru Miao Shan berterima kasih atas sambutan yang ramah, lalu pengalamannya tertangkap di dalam gunung dan bagaimana dia berhasil membebaskan diri dari bahaya, semua dengan detail diceritakan, orang-orang yang mendengarkannya merasa takjub sekaligus suka cita!

Bagaimana Maha Guru Miao Shan bisa keluar dengan begitu tenang seperti ini? Ternyata, saat dia bertemu dengan para manusia berbulu, semua pakaian dan topinya ditaruh dalam tas yang di lilit bahunya, karena di dalamnya berisi barang-barang bawaan yang sering digunakan dirinya, dia tidak mau melepaskannya begitu saja, ini sebabnya meskipun kawanan manusia berbulu itu membopong dia di pundak dengan kaki ke atas, diculik masuk ke gunung, dia masih dapat memegang erat dengan dua tangan, tak sengaja telah ikut membawanya ke dalam gunung.

Manusia berbulu membawanya hingga ke suatu tempat, di sana hanya terlihat sebuah gua gunung yang sangat besar, di depan gua terdapat sebuah lapangan luas, empat arah lapangan dikelilingi hutan lebat, di atasnya gelap kehijauan, sangat menakutkan. Manusia berbulu menempatkannya di tengah lapangan, duduk di tanah. Mulut mereka mulai keluar suara komat kamit, dan tidak lama kemudian, banyak manusia berbulu dengan suara yang sama tiba di sana, pria maupun wanita tidak kurang dari dua ratus orang. Perbedaan antara pria dan wanita hanya terletak pada cincin tembaga hiasan, yang pria mengenakan cincin hidung, sementara yang wanita mengenakan cincin telinga. Semua orang kecuali menutupi tubuh bawah mereka dengan selembar kulit binatang, sisanya sepenuhnya telanjang, bahkan kedua kaki berjalan di atas batu tajam, mereka juga tidak memakai alas kaki.

Banyak manusia berbulu mengelilingi Maha Guru Miao Shan, dipimpin oleh manusia berbulu yang menangkapnya, dia berbicara ke kawanan hi hi ha ha lumayan lama, seolah-olah sedang membanggakan kehebatannya. Setelah semua orang mendengarkan omongan dia, mereka bersorak dan melompat-lompat, saling bergenggaman untuk menari, untuk mengekspresikan kebahagiaan mereka. Melihat mereka semakin bersemangat dalam menari, melompat selama dua jam penuh, barulah akhirnya merasa kelelahan, akhirnya duduk berkeliling untuk istirahat. Semua mata mengerikan mereka tertuju pada tubuh Maha Guru Miao Shan. Maha Guru Miao Shan sadar bahwa hari ini dia telah masuk ke gua harimau kolam naga, kemungkinan sangat kecil untuk selamat, namun walau dia berada di ujung tanduk, juga tidak merasa takut, hanya duduk dengan tekad yang teguh, mengamati tindakan yang akan mereka lakukan dan siap menghadapinya.

Kala itu terlihat banyak manusia berbulu yang sedang berdiskusi hi hi ha ha, seolah-olah mereka sedang membahas cara untuk menangani situasi tersebut.

Tidak lama kemudian, di antara kerumunan ada seorang manusia berbulu, tiba-tiba melihat sandal jerami yang dipakai oleh Maha Guru Miao Shan, sambil menunjuk kepada orang lain, dan tak tahu apa yang dikatakan. Maha Guru Miao Shan mengerti, langsung melepas sandal jeraminya, manusia berbulu itu mendekat dengan cepat merampasnya, memegangnya dan memeriksanya dengan seksama. Setelah beberapa saat, dia membungkuk, memasang sandal itu di kakinya, mengikatnya dengan rapat lalu berdiri, mencoba beberapa langkah, merasa nyaman, kemudian mengacungkan ibu jarinya ke atas sebagai tanda pujian di hadapan semua orang. Manusia berbulu lainnya, semua merasa iri hati, membuka tangan mereka dan meminta kepada Maha Guru Miao Shan.

Maha Guru Miao Shan berpikir, mereka sepertinya menyukai barang ini, untungnya saya ada membawa ratusan pasang ke sini, diberikan kepada mereka saja, untuk memenangkan simpati mereka, mungkin bisa menghindari pembunuhan, saat itu bisa menjadi kesempatan bagus untuk melarikan diri.

Setelah memutuskan, dia membuka bundelan tas yang menyembunyikan sandal jerami, menunjukkan satu pasang demi satu pasang sandal jerami yang masih baru. Banyak manusia berbulu yang melihatnya, langsung bersorak sorai, langsung berkerumun ke depan, berebut dengan kacau balau, sudah tidak lagi mempedulikan Maha Guru Miao Shan.

Maha Guru Miao Shan melihat manusia berbulu sibuk bertengkar, tidak memperhatikan dirinya, lalu berpikir dalam hati: “Kesempatan telah tiba, jika tidak pergi sekarang, kapan lagi?” Tanpa mempedulikan dua kaki telanjangnya, dia bangkit dan melarikan diri ke semak-semak. Untungnya tidak ada yang melihatnya, dia dalam sekejap berlari lebih dari satu Li, dua kakinya terluka oleh duri-duri, darah mengalir deras, rasa sakitnya tak tertahankan, membuat dia hampir tidak bisa berjalan, juga tidak tahu jalan keluar dari gunung ini, dalam hati merasa sangat gelisah.

Dalam kebingungan di persimpangan jalan, tak tahu harus maju atau mundur, tiba-tiba dia melihat seekor gajah putih mendekat perlahan dari depan. Maha Guru Miao Shan diam-diam berkata: “Baiklah, kali ini mungkin benar-benar berakhir! Baru saja melepaskan diri dari bahaya manusia berbulu, sekarang kembali menghadapi bencana gajah putih, apakah saya masih bisa menyelamatkan hidup ini?”

Tepat dia sedang kebingungan karena putus asa, gajah putih itu malah sudah berada di dekatnya, mengangkat hidungnya, mengibaskan telinganya, dan menggosokkan kepalanya di tubuh dia, gajah itu sangat ramah, malah sama sekali tidak berniat mencelakainya, Maha Guru Miao Shan melihat situasi ini, barulah merasa lega, dan berpikir dalam hati: “Gajah putih ini jangan-jangan dikirim khusus oleh Sang Buddha untuk menyelamatkan saya?” Dia kemudian mengulurkan tangannya dan meraba depan kepala gajah putih itu sambil berkata: “Gajah putih, apakah kamu datang untuk menyelamatkan saya dari bahaya? Jika begitu, tolong kibaskan hidungmu tiga kali; jika tidak, tubuh saya ini daripada disantap oleh para yaksha, mendingan dimakan oleh kamu saja, jadi tolong kasih jawaban.”

Berbicara tentang makhluk gajah ini, di antara binatang liar, mereka memang dianggap memiliki hati yang penuh kasih sayang, bahkan memiliki kecerdasan. Acap kali ketika ada anak-anak yang diganggu oleh binatang lain, bila terlihat olehnya, gajah akan berani menghadapi bahaya untuk menyelamatkan mereka, mereka tidak pernah melihat dengan acuh tak acuh, ini adalah sifat bawahan mereka sejak lahir.

Pada saat itu, gajah putih itu setelah mendengar ucapan Maha Guru Miao Shan, sepertinya memahami maksudnya, dan sungguh benar gajah itu mengibaskan belalainya yang panjang itu tiga kali, telinganya yang lebar dikibaskan “pop pop” dua kali, kemudian menundukkan kepalanya ke arah Maha Guru Miao Shan.

Kedatangan gajah putih ini membuat Maha Guru Miao Shan sangat senang seolah-olah telah menemukan harta karun, dia berkata dengan antusias: “Shanzai, Shanzai! Jika kamu bisa menyelamatkan saya dari bahaya, kelak ketika saya berhasil menuju Gunung Sumeru dan memperoleh buah sejati, saya pasti akan menyelamatkanmu masuk ke dalam pintu Buddha, membebaskanmu dari penderitaan di alam hewan!”

(Bersambung)