Berikut adalah cerita legenda putri dari Raja Miao Zhuang, yaitu putri Miao Shan, yang berhasil kultivasi menjadi Bodhisattva Avalokitesvara (Guan Yin / Kwan Im), dikutip dari catatan literatur Dinasti Qing. Dengan sakral dijadikan sebagai referensi.
Tangan Bodhisattva Avalokitesvara (Guan Yin / Kwan Im) mengambil ranting willow, dicelupkan dalam embun manis, dan dipercikan ke segala penjuru, membebaskan semua makhluk dari penderitaan.
Bab 13: Guru Miao Shan Melanjutkan Perjalanan dengan Telanjang Kaki, bertemu Suku Gala yang menempati Padang Pasir
Konon saat Maha Guru Miao Shan sedang berbicara dengan gajah putih itu, tanpa disangka kala itu manusia berbulu telah menemukan bahwa dia kabur, maka mereka pun mengejar dengan mengikuti jejaknya, di belakang terdengar suara ribut, mendengar itu Maha Guru Miao Shan berkata: “Gawat! Gajah putih, yaksha di sebelah sana telah mengejar ke sini. Bagaimana baiknya? Jika kamu benar-benar berniat untuk menyelamatkan saya, tolong bawa saya keluar dari bahaya secepat mungkin.”
Gajah putih mendengar perkataan itu, tanpa ragu sedikit pun segera meraih dengan belalainya yang panjangnya tiga kaki, “wush” sekali gulung, dengan cepat membungkus Maha Guru Miao Shan di sekitar pinggangnya, perlahan mengangkatnya ke udara, melebarkan keempat kakinya, dan langsung berlari kencang ke depan, kecepatannya tiada banding, seolah-olah mengemudikan awan dan kabut, dalam sekejap saja mereka sudah keluar dari mulut Gunung Jinlun. Lalu melaju 3 – 5 Li, ketika tidak terlihat manusia berbulu mengejar, barulah berhenti perlahan, meletakkan Maha Guru Miao Shan dengan lembut di tanah.
Maha Guru mengambil napas dalam-dalam, mengibaskan debu dan pasir dari pakaiannya, lalu mengelus dahi gajah sambil berkata, “Gajah putih, berkat bantuanmu kali ini, barulah hidup saya berhasil diselamatkan, sekarang saya bisa sendiri pergi ke Benteng Saishi, untuk menemui dua rekan yang terpencar. Kamu bisa kembali ke gunung untuk beristirahat dengan baik, banyak kumpulkan pahala kebajikan, tunggu saya selesai mengunjungi gunung dan berhasil memperoleh buah sejati, saya pasti akan datang untuk menyelamatkanmu, sama sekali tidak akan melupakan janji ini.”
Tidak disangka gajah putih mendengar perkataan tersebut, bukannya pergi, malah berbaring di tanah, bergerak pun tidak. Miao Shan berpikir dalam hati, gajah ini tidak bersedia kembali ke gunung, jangan-jangan ingin ikut saya mengunjungi Gunung Sumeru? Maka dia pun bertanya: “Gajah putih, karena kamu tidak bersedia kembali ke Gunung Jinlun, bila ingin ikut saya mengunjungi Gunung Sumeru, bila kamu memang ada maksud demikian, maka anggukkan kepalamu tiga kali.”
Tidak disangka gajah putih itu sungguh mengangguk kepala tiga kali, kemudian menunjuk ke punggungnya dengan belalainya, seolah-olah mengundang Maha Guru untuk naik, Maha Guru Miao Shan sangat senang dan berkata: “Shanzai, Shanzai! Ternyata kamu sungguh berjodoh dengan Fa Buddha, tetapi menjadi tunggangan saya, kamu harus menanggung beban perjalanan ribuan Li yang jauh dan berat!”
Setelah berkata demikian dia naik ke punggung gajah, setelah berhasil duduk di atas, gajah putih itu pun berdiri, perlahan menuju ke Benteng Saishi.
Maha Guru berpikir setibanya di sana, barulah mencari tanda-tanda pengasuh dan Yong Lian. Perihal dua rekannya, meskipun terpencar, namun dia sama sekali tidak khawatir bahwa mereka telah dicelakai oleh manusia berbulu. Karena dia pikir bila dua orang itu ditangkap oleh manusia berbulu, saat di gunung dia pasti akan melihatnya, karena sekarang dia tidak melihat mereka di gunung, pasti mereka melarikan diri ke Benteng Saishi. Ini sebabnya dia telah memutuskan untuk pergi ke benteng untuk mencari mereka, tapi tidak disangka ketika dia hampir sampai, Yong Lian sudah datang menyambutnya.
Pada saat itu Sun De dan yang lainnya mendengar cerita Maha Guru Miao Shan, dengan suara bersamaan mereka berkata: “Sungguh Fa Buddha tiada tepi, barulah ada hal yang demikian ajaib, gajah putih itu pasti adalah utusan dari Sang Buddha, tidak ada keraguan mengenainya.”
“Hanya saja kami belum tahu dari mana Maha Guru Miao Shan mendapatkan sepatu jerami demikian banyak?”
Yong Lian menyela: “Jika ingin menanyakan asal-usul sepatu jerami ini, huh, sungguh menderita, sungguh menderita!” Lalu dia pun menceritakan kembali apa yang terjadi di istana pada hari-hari sebelumnya dengan detail.
Sun De dengan hormat mengundang mereka bertiga untuk tinggal selama dua hari, dan dia memerintahkan orangnya untuk membuat beberapa pasang sandal biksuni sebagai hadiah, agar mereka tidak perlu berjalan telanjang kaki. Maha Guru Miao Shan mengangkat tangan sebagai tanda hormat: “Terima kasih atas kebaikan Tuan Pejabat, hamba hanya bisa menerima dengan hati, tidak berani menerima pemberian, Tuan Pejabat tidak perlu repot-repot.”
Sun De berkata: “Ini sungguh aneh, para biksu-biksuni memang seharusnya menerima sumbangan dari sepuluh penjuru, apa artinya beberapa pasang sandal biksuni? Mengapa Anda malah menolak untuk menerimanya?”
Maha Guru Miao Shan menjawab: “Tuan Pejabat hanya mengetahui satu sisi dari masalah ini, tapi tidak mengetahui sisi yang lainnya. Memang tidak salah bahwa biksu-biksuni seharusnya menerima sumbangan dari sepuluh penjuru, tapi setiap teguk setiap suap, tidak ada yang tidak ditentukan sebelumnya, Fa Buddha berkaitan dengan sebab akibat [yinyuan], tidak berani berlebihan dalam keinginan. Ketika saya di istana sebelumnya dihukum untuk merajut sandal jerami, itu adalah menanam sebabnya, sekarang karena sandal jerami tersebut saya berhasil lolos dari bahaya, keluar dari goa harimau kolam naga, itu tepatnya adalah menuai akibatnya. Sebab-akibat saling menyeimbangkan, hukum sebab-akibat terkait sandal jerami dengan hamba, telah terselesaikan, dan tidak boleh lagi menanam benih baru pada saat ini.”
(Bersambung)

