Budaya

Bodhisattva Avalokitesvara | Legenda Kwan Im (2)

Bodhisattva Avalokitesvara

Berikut adalah cerita legenda putri dari Raja Miao Zhuang, yaitu putri Miao Shan, yang berhasil kultivasi menjadi Bodhisattva Avalokitesvara (Guan Yin / Kwan Im), dikutip dari catatan literatur Dinasti Qing. Dengan sakral dijadikan sebagai referensi. Baca Bagian I disini

Bab 2.

Kakek Aneh Berbicara Tentang Perahu Kasih, Putri Cilik Berhenti Menangis ketika Mendengar Lantunan Sutra Buddha

Diceritakan bahwa ketika Raja Miao Zhuang pertama kali mendengar bahwa dia kembali melahirkan seorang putri, dalam hatinya ada sedikit tidak senang. Sampai akhirnya mendengar bahwa saat kelahirannya ada banyak pertanda aneh, dia teringat dengan mimpi Ratu Baode saat hamil, dan merenung mungkin anak ini memiliki asal-usul tertentu, barulah kemudian dia dapat merasa sedikit lega. Lalu sesuai urutan dari aksara Miao, diberilah dia sebuah nama Miao Shan. Mendengar dalam istana kembali bertambah seorang putri, semua orang pun bersorak-sorai, dan sibuk memulai perayaan. Raja Miao Zhuang mengadakan jamuan pesta di istana selama tiga hari. Selama tiga hari ini, suasana suka cita kerajaan Xinglin menyebar seantero jagat, sungguh sebuah pemandangan indah dan damai.

Memang awalnya rakyat hidup damai dan panen berlimpah, ditambah lagi mendengar hal yang demikian baik, maka secara alami merasa sangat bahagia.

Jamuan pesta Raja Miao Zhuang di istana memasuki hari ketiga, dia memerintahkan dayang untuk membawa Putri Miao Shan agar bisa bertemu dengan para menteri. Tanpa diduga, anak kecil ini yang tadinya baik-baik saja di istana, ketika dia tiba di tempat jamuan, begitu menjumpai suasana penuh arak dan bau daging, dia langsung menangis sekeras-kerasnya, dan tidak pernah berpikir untuk tutup mulut lagi, bahkan menyusui dia pun tidak ada gunanya. Saking kerasnya membuat pengasuh panik, para menteri menghentikan makan minumnya, dan Raja Miao Zhuang pun timbul kekesalan.

Tepat pada saat ini, tiba-tiba penjaga pintu menghadap dan berkata; “Di luar istana ada seorang kakek aneh, mengatakan bahwa dia memiliki hadiah untuk sang putri, dan memohon menghadap Yang Mulia.”

Raja Miao Zhuang memerintahkan, untuk bertemu kakek tua yang seperti pertapa dewa dan berpenampilan tidak lazim itu.

Raja Miao Zhuang bertanya kepada dia: “Pak tua, apa marga dan nama anda? Berasal dari mana? Hari ini mampir ke sini, ada hal apakah? Cepat dan katakan yang sejujurnya.”

Kakek tua itu berkata, “Yang Mulia, kita singkirkan dulu pertanyaan nama dan marga saya yang tua renta ini, pertama-tama biarkan saya beritahu alasan mengapa saya datang ke sini hari ini kepada Yang Mulia. Saya mendengar kabar bahwa Yang Mulia telah memiliki seorang putri baru lagi, yakni putri ketiga Miao Shan, dan mengadakan jamuan besar bersama para menteri. Oleh karena itu saya secara khusus bergegas datang, pertama-tama untuk memberi selamat kepada Yang Mulia, dan yang kedua untuk memberitahu Yang Mulia tentang asal usul putri ini. Perlu diketahui bahwa putri ini adalah kelahiran dari perahu kasih, datang untuk menyelamatkan ribuan bencana di dunia. Yang Mulia jangan meremehkan putri ini, Dia akan mengubah kerajaan manusia sekarang ini, menjadi kerajaan Buddha di masa depan!”

Begitu mendengar perkataan aneh ini, Raja Miao Zhuang tanpa sadar tertawa keras, “Tak disangka anda yang begitu tua usianya, masih bisa berbicara sembarangan dan berbohong! Sang pemilik perahu kasih tidak menikmati berkah di dunia barat Sukhavati, tapi malah bersedia jatuh kembali ke dalam debu bencana, lahir ke dunia, menjadi seorang manusia biasa, apakah itu masuk akal? Masih bicara soal kerajaan manusia – kerajaan Buddha! Ini hanyalah kebohongan yang dikarang oleh anda kakek tua, apakah anda bisa menipu Raja?”

Kakek tua itu berkata: “Yang Mulia mungkin tidak tahu tentang isi aliran Buddha. Meskipun mayoritas menganut pandangan keluar dari duniawi, tetapi juga bukan berarti tidak menganut pandangan memasuki duniawi. Sang pemilik perahu kasih dikarenakan melihat debu bencana manusia sangatlah tebal, sulit membebaskan diri dari penderitaan, lalu timbullah keinginan untuk membebaskan penderitaan, kehidupan kali ini bereinkarnasi memasuki duniawi, ini bukanlah suatu kebetulan. Siapa saya yang tua ini, sampai berani berbohong di hadapan Yang Mulia? Hal ini adalah sungguh benar adanya.”

Raja Miao Zhuang berkata lagi: “Anggaplah kata-kata kakek tua ini masuk akal, namun jika Sang pemilik perahu kasih ingin memasuki duniawi untuk menyelamatkan bencana, Dia juga seharusnya bertransformasi menjadi wujud laki-laki. Tidak cocok bereinkarnasi menjadi seorang anak perempuan. Ini juga di luar nalar akal sehat! Saya akhirnya kurang bisa percaya.”

Mendengar perkataan itu, kakek tua berkata: “Berbelas kasihlah, Shanzai, Shanzai! Hubungan sebab akibat ini, mana mungkin semuanya sesuai dengan bayangan Yang Mulia? Jika tidak percaya maka hanya bisa dicari dari ketidak-percayaan Anda, tetapi di masa depan, akan tiba hari di mana akhirnya ada penjelasannya, jadi saya yang tua ini hari ini juga tidak perlu menjelaskannya.”

Tepat saat pembicaraan ini berlangsung, putri Miao Shan yang berada dalam pelukan ibu susunya, menangis semakin jadi. Raja Miao Zhuang mendengar tangisan anak itu, tanpa sadar hatinya ikut tergerak, lalu berkata kepada kakek tua itu, “Jika demikian adanya, karena anda kakek tua mengetahui asal usul anak ini, boleh dibilang anda adalah orang yang telah memperoleh Dao [pencerahan]. Sekarang anak ini menangis demikian kerasnya, sebenarnya karena apa, apakah anda tahu atau tidak?”

Kakek tua itu berkata sambil tergelak, “Tahu, tahu! Segala buah sebab akibat, tidak ada yang tidak diketahui. Tangisan sang putri, ini yang disebut maha belas kasih! Putri hari ini melihat Yang Mulia dikarenakan kelahirannya, mengadakan jamuan pesta besar, tidak tahu telah membunuh berapa banyak sapi, domba, ayam, babi, udang, kepiting, unggas, dan ikan, telah mencelakakan banyak kehidupan, demi cita rasa di mulut semua orang, sehingga menambah dosa diri sendiri yang tak terhingga. Karena itu sangat tidak bisa menahannya, sehingga menangis terus menerus.”

Raja Miao Zhuang berkata: “Jika demikian adanya, anda kakek tua apakah ada solusi, agar anak ini berhenti menangis?”

Kakek tua itu berkata: “Ada! Ada! Ada! Tunggu saya yang tua ini melantunkan sutra Buddha kepada dia, secara alami setelah mendengarnya akan berhenti menangis.”

Dia kemudian berjalan ke sisi Putri Miao Shan, mengelus kepala putri dengan tangannya, dan bergumam:

“Jangan menangis! Jangan menangis! Jangan menangis, entar hilang kesadaran, menutup kepintaran, jangan lupakan cita-cita maha belas kasih anda, tujuan anda memasuki duniawi. Ada tiga ribu bencana, yang menanti penyelamatan anda; tiga ribu hal Bajik [Shan], yang menanti anda melakukannya. Jangan menangis! Dengarkan bunyi Sankrit.”

Sungguh ajaib, begitu kakek tua mulai melantunkan sutra, Putri Miao Shan itu, seakan mengerti maksudnya, mendekatkan telinganya untuk mendengar, dan membuka lebar matanya untuk memandang kakek tua itu. Setelah mengerti apa maksud kakek itu, putri segera berhenti menangis, tapi dua mata kecilnya masih tertuju pada kakek tua itu. Sehingga, Raja Miao Zhuang dan para menteri di situ saling memandang dengan heran dan bertanya-tanya.

Tepat pada saat ini, tiba-tiba terdengar kakek tua itu berkata, “Sekarang sang putri telah berhenti menangis, saya si tua ini juga tidak boleh tinggal di sini lebih lama lagi, mohon pamit.”

Selesai bicara dia membungkuk kepada Raja Miao Zhuang, dua tangan memberi hormat, dengan ringan meninggalkan tempat, tanpa panjang lebar pergi dari istana. Melihat pinggangnya yang ringan dan langkahnya yang mantap, dia berjalan seperti terbang, tidak seperti gerakan seorang kakek tua.

Raja Miao Zhuang sampai di sini, ketika mengetahui bahwa dia adalah orang berilmu yang telah memperoleh Dao [pencerahan], membiarkan hal baik berlalu begitu saja, bukankah sangat disayangkan!

Dia memerintahkan pengawal istana: “Cepat kejar, undang kakek tua itu kembali, katakan Raja masih ada sesuatu untuk dimintai nasihat, dan pastikan untuk memintanya kembali. Tapi tolong berbicara baik-baik, jangan menyinggung perasaannya secara sembarangan.”

Pengawal istana selesai menerima perintah langsung pergi, bergegas ke gerbang istana, namun bayangan kakek tua itu sudah tidak kelihatan lagi. Jadi setiap orang menunggangi kuda cepat dan memencar ke empat penjuru mata angin untuk melakukan pencarian. Tapi setelah mencari ke mana-mana, pada akhirnya tetap tidak terlihat jejak kakek tua itu. Tanyakan kepada orang-orang, namun mereka sedang bersuka-ria, disibukkan oleh kesenangan masing-masing, tak ada siapa pun memperhatikan apakah ada kakek tua atau tidak, sehingga juga tidak mendapatkan hasil dari mereka. Kelompok pengawal istana itu sudah kehabisan akal, jadi mereka hanya bisa mencari ke empat penjuru sekali lagi, tetapi tetap saja tidak ketemu, akhirnya pulang ke istana memberi laporan.

Raja Miao Zhuang berkata kepada para menteri: “Jelas sekali ketika kakek tua itu berjalan, hanya dalam sekejap, saya sudah memerintahkan mereka untuk mengejarnya. Bagaimana mungkin tidak ketemu? Mungkinkah kakek tua itu bisa tumbuh sayap dan terbang pergi?”

Para menteri semuanya terheran-heran, perdana menteri Poyoumen berkata, “Saya rasa rakyat hari ini melakukan perayaan, di setiap sudut kota sangat ramai, kakek tua itu juga berjalan seperti terbang. Ketika dia menerobos keluar gerbang istana, bergabung dalam kerumunan orang-orang, tentu tidak mudah untuk ditemukan. Bila pengawal istana mencari dari rumah ke rumah, pasti ditemukan keberadaan kakek tua.”

Belum juga selesai bicara, menteri kiri Analuo memotong: “Jangan lakukan! Jangan lakukan itu! Hari ini rakyat merayakan perayaan dengan suka cita. Jika mencari kakek tua dari rumah ke rumah, bukankah itu akan mengganggu kebahagiaan mereka, merusak perayaan ini? Sesuai pandangan perdana menteri, kakek tua itu jelas tidak bisa dianggap remeh. Hanya dengan mendengarkan perkataan dan tindakannya saat datang dan pergi, sudah bisa diketahui gambaran umumnya. Dia menolak untuk tinggal lebih lama, mencarinya juga tidak ada gunanya, lebih baik biarkan dia pergi saja! Saya pikir kakek tua ini kayanya adalah Buddha yang mewujudkan diri!”

Bagaimana dia bisa mengatakan bahwa kakek tua itu adalah seorang Buddha? Ternyata Analuo menteri berbudi luhur ini, sebenarnya sangat percaya pada Fa Buddha, jadi apa pun yang terjadi, dia akan menggunakan Fa Buddha untuk menjelaskan.

Setelah Raja Miao Zhuang mendengar apa yang dikatakan Analuo, dia memikirkan kejadian itu dengan saksama, juga ada sedikit skeptis, dan berkata: “Jika sungguh seperti yang dikatakan menteri, sangat jarang Buddha datang, ini adalah keberuntungan besar, namun sangat disayangkan bahwa mata manusia biasa tidak dapat melihatnya. Jika tidak, bukankah sangat baik untuk banyak meminta nasihat Buddha? Saya melewatkan kesempatan ini di depan mata dan tidak pernah meminta sedikit pun petunjuk. Sayang sekali! Dipikir-pikir ini semua adalah akibat De raja yang sangat sedikit, sehingga sekarang juga tidak ada yang bisa diharapkan!”

Segera menteri Analuo mau tidak mau membantu menghibur Raja Miao Zhuang dengan kata-kata, raja dan para menteri pun menikmati minum lagi dengan suka cita.

Akan tetapi kejadian Buddha yang menampakkan diri, sejak itu menyebar di kalangan rakyat, hampir di setiap sudut jalan membicarakannya, tak ada seorang pun yang melewatkan pembicaraan ini.

Memang dasarnya rakyat di kerajaan Xinglin ini, telah lama menganut ajaran Buddha. Ada sebagian kecil walau tidak sungguh-sungguh mempercayai, namun dalam hati masih memiliki sedikit kesan mengenai Buddha. Oleh karena itu, setelah mendengar ini, mereka semua mengakui kebenarannya, ditambah banyak spekulasi dan klaim sembarangan, heboh bukan main, seluruh negeri pun tahu, seakan-akan Buddha Sakyamuni benar-benar telah menduduki singgasana kerajaan Xinglin. Tepat perkataan ini:

Semua makhluk penuh dengan gejolak, Sang Buddha senantiasa bersikap tenang.

(Bersambung ke Bab III)

https://www.ntdtv.com/b5/2010/02/27/a393037.html