Budaya

Guan Zhong: Dari Tahanan Menjadi Perdana Menteri

Guan Zhong (Kredit: Sohu via visiontimes)
Guan Zhong (Kredit: Sohu via visiontimes)

Beberapa generasi sebelum Konfusius lahir, Guan Zhong menganjurkan prinsip-prinsip sosial yang serupa tentang perilaku lurus sebagai dasar pemerintahan yang adil dan efektif.

Masa Musim Semi dan Musim Gugur (770?475 SM) adalah salah satu episode besar yang membentuk sejarah dan budaya Tiongkok. Itu adalah masa ketika para pemikir seperti Konfusius dan Lao Zi menyebarkan ajaran mereka, tetapi juga era perpecahan, ketika para pemimpin negara feodal Tiongkok bersaing untuk mendapatkan pengaruh atas istana kerajaan yang lemah.

Ada pendapat berbeda tentang penguasa mana yang pantas mendapat tempat dalam daftar Hegemoni. Tetapi semua setuju bahwa yang pertama diantara mereka adalah Adipati Huan dari Negara Bagian Qi, dan bahwa orang yang memungkinkan pencapaiannya adalah pembuat undang-undang, ahli strategi, dan filsuf terkenal: Perdana Menteri Guan Zhong.

Persahabatan Sepanjang Masa

Bakat Guan Zhong mungkin tidak akan pernah tercium jika bukan karena persahabatan seumur hidupnya dengan Bao Shuya, yang merupakan putra dari keluarga kaya tetapi tidak memandang rendah Guan Zhong yang berasal dari latar belakang yang miskin.

Saat menggambarkan ikatannya dengan Bao, Guan dengan terkenal berkomentar: “Orang tua saya melahirkan saya, tetapi Bao yang paling mengenal saya.”

Derajat dukungan dan kesetiaan Bao kepada temannya dijelaskan dalam Shiji, salah satu catatan sejarah tertua dan terinci di Tiongkok.

Ketika mereka melakukan bisnis bersama, Guan Zhong meminta izin mengambil lebih banyak dari bagian keuntungannya. Tapi Bao Shuya tidak menganggapnya serakah, karena dia tahu bahwa Guan miskin dan membutuhkan uang lebih dari dia. Kadang-kadang Guan Zhong membuat rencana bisnis yang merugi. Bao tidak berpikir dia bodoh, tetapi menerima bahwa seorang pria akan memiliki kesuksesan dan kegagalan tidak peduli seberapa cerdas atau pekerja keras.

Bao Shuya juga memahami Guan sebagai rekan dalam perang. Guan Zhong melarikan diri dari pertempuran tiga kali, tetapi Bao tidak melihatnya sebagai seorang pengecut, karena dia mengerti bahwa Guan memiliki ibu yang sakit yang harus dia rawat.

Persahabatan mereka begitu tak tergoyahkan sehingga kemudian menjadi ungkapan dalam bahasa Mandarin, “persahabatan Guan dan Bao”

Kemana pun Guan Zhong pergi, Bao ada disana untuk mendukungnya, karena dia percaya pada kemampuan dan potensinya. Untuk Bao Shuya, Guan akan berutang karir dan hidupnya.

Memulai Karir Politik

Negara Bagian Qi terletak di pantai timur Tiongkok, di tempat yang sekarang menjadi Provinsi Shandong. Leluhur pendirinya adalah menteri legendaris Jiang Ziya, tetapi pada masa Guan Zhong hidup, kepemimpinan negara berantakan.

Selama krisis suksesi, dua pewaris bangsawan Qi berjuang satu sama lain untuk mendapatkan kendali. Ketika yang lebih kuat dari keduanya menang, yang kalah melarikan diri ke Lu, negara tetangga.

Seperti sudah ditakdirkan, Guan Zhong tidak hanya dipekerjakan oleh penantang yang gagal, tetapi selama perjuangan politik tersebut, dia bahkan mencoba membunuh saingan pemimpinnya, yang naik takhta sebagai Adipati Huan.

Hal pertama yang dilakukan Adipati Huan setelah mengamankan kekuasaan adalah menuntut agar Negara Bagian Lu membunuh pewaris saingan yang melarikan diri itu. Khawatir akan invasi, pemerintah Lu menurut. Sedangkan Guan Zhong diekstradisi kembali ke Qi sebagai penjahat berbahaya. Dia dirantai dan dikirim melintasi perbatasan dalam kurungan.

Guan Zhong mengira hidupnya sudah tamat. Tapi bukannya dikirim ke penjara atau algojo, dia dibawa ke hadapan adipati Huan, yang menerima Guan Zhong dengan hormat sebagai guru.

Ternyata Bao Shuya melayani Adipati Huan selama ini. Pada awalnya, sang adipati sangat marah dan menuntut kepala Guan Zhong. Tapi Bao, seperti biasa, membela kasus Guan Zhong dan adipati mendengarkan. Lebih penting lagi, Bao Shuya sangat percaya diri dengan kemampuan temannya sehingga dia memberi tahu adipati yang ambisius itu dengan kata-kata berikut:

 “Jika anda ingin memerintah hanya satu negara bagian, maka saya, Bao Shuya, cukup mampu. Tetapi jika anda ingin menguasai dunia, maka anda harus mempekerjakan Guan Zhong.”

Bangsa yang Kaya dan Tentara yang Kuat

Adipati dan menteri-menteri barunya segera bekerja. Adipati Huan sangat ingin menstabilkan negaranya setelah bertahun-tahun kekacauan politik. Namun, untuk mewujudkannya, ia membutuhkan dukungan rakyat.

Guan Zhong merekomendasikan dimulai dengan memakmurkan bangsa.

 “Ketika orang hidup berkecukupan, mereka akan mudah diatur. Sering terjadi bahwa negara yang damai itu kaya sedangkan negara yang kacau balau itu miskin. Ini adalah kebenaran yang terbukti dengan sendirinya,” ujarnya.

 “Tetapi dengan orang-orang yang gemuk dan bahagia, bagaimana kita akan merekrut tentara untuk pasukan kita?” Adipati bertanya.

“Kita harus menghargai kualitas pasukan kita daripada jumlah mereka,” kata Guan Zhong. “Dengan moral yang tinggi dan pelatihan yang baik, kita tidak perlu khawatir mereka kekurangan kemampuan dalam pertempuran.”

Guan Zhong percaya bahwa dengan memakmurkan rakyat dan memiliki militer yang kuat, akan mungkin untuk mendapatkan kekuatan besar.

Adipati sangat senang dengan prospek mendominasi seluruh daratan China, tetapi Guan memperingatkan agar tidak melakukan tindakan gegabah.

“Prioritas terbesar kita sekarang adalah untuk meningkatkan kehidupan rakyat kita dan memperkaya bangsa. Jika kita tidak bisa melakukan itu, tidak ada gunanya memikirkan kekuasaan atas apa pun.”

‘Mengelola gunung dan laut’ dengan Hukum Moral

Guan Zhong bertekad untuk menjalankan negara Qi seperti usaha bisnis raksasa. Tetapi pada saat yang sama, dia memahami pentingnya moralitas dalam membangun masyarakat yang damai dan stabil.

Beberapa generasi sebelum Konfusius lahir, Guan Zhong menerapkan prinsip-prinsip sosial yang serupa tentang perilaku lurus, yang dikenal oleh orang Tionghoa sebagai li yi lian chi atau “ritual, keadilan, kesopanan, dan kehormatan.”

Standar moral ini menopang sistem hukum yang digunakan Guan Zhong untuk mengatur negara. Pada saat itu, sebagian besar negara memiliki bentuk pemerintahan yang sederhana dan seringkali sewenang-wenang, dengan raja, bangsawan, dan pejabat hanya memberi perintah kepada rakyatnya. “Legalitas” adalah konsep baru.

Sementara Guan dan Adipati mendorong pertumbuhan bisnis dan perdagangan untuk mendatangkan kekayaan, mereka juga mendorong administrasi pemerintah dalam upaya mereka untuk “mengelola gunung dan laut” (kekayaan negara), menerapkan peraturan yang tidak hanya memperhitungkan keuntungan, tetapi juga sesuai dengan kondisi geografis, sumber daya alam, dan keamanan nasional Negara Qi.

Ibukota dibagi menjadi distrik, yang sebagian besar terdiri dari dua jenis: distrik dagang, yang bertanggung jawab untuk menghasilkan pendapatan komersial negara, dan distrik pembantu yang dimaksudkan untuk menyediakan tenaga kerja untuk tentara negara. Administrator ditunjuk untuk semua tingkatan diseluruh negeri untuk memastikan komunikasi yang efektif antara rakyat dan pemerintah pusat.

Memperkuat Negara Tanpa Membebani Rakyat

Bertujuan untuk meningkatkan pendapatan pemerintah tanpa mempengaruhi rakyat miskin dengan membebankan pajak, Guan melakukan monopoli sumber daya alam untuk mengelola harga pasar. Dibawah kebijakannya, perusahaan yang mengekstrak besi dari gunung dan garam dari air laut akan menjual hasilnya kepada pemerintah, yang akan menjual kembali produk olahan ke rumah tangga dengan harga yang wajar, sedikit lebih tinggi untuk pemasukan negara.

Guan juga mengubah undang-undang pajak, membebankan biaya ini berdasarkan keluarga individu bukan kepada perkumpulan rumah. Selain itu, tanah diseluruh negeri dikenakan pajak sesuai dengan produktivitasnya, sehingga meninggalkan sistem “distribusi tanah” yang sudah berusia seabad, yang sebagian besar bergantung pada ladang yang dimiliki secara pribadi.

Ide-idenya sangat efektif dalam mengembalikan ekonomi, seperti masyarakat miskin yang membawa barang dengan berjalan kaki tidak dikenakan tarif, sehingga mendorong perdagangan. Dibawah kepemimpinannya, harga pangan juga diatur, yang memungkinkan produk-produk tertentu tersedia di pasar bahkan selama masa paceklik.

Selain itu, Guan menciptakan empat kategori sosial berdasarkan bakat orang: sarjana-pejabat, petani, pekerja, dan pedagang, yang menjadi empat pekerjaan tradisional di Tiongkok kuno. Kelas-kelas ini, yang tidak hierarkis atau turun-temurun, meletakkan dasar bagi metode yang efektif untuk memilih orang-orang berbakat untuk posisi pemerintahan.

Dengan cara ini, administrasi Qi bergeser dari aristokrasi turun-temurun tradisional ke birokrasi profesional sebagai metode baru pengangkatan pejabat.

Negara Qi juga menjadi salah satu negara pertama di dunia yang melakukan sensus warga untuk tujuan administratif. Desa dan komunitas dihitung dan didaftar sehingga pada saat perang atau krisis, orang dapat dengan mudah dimobilisasi. Nilai-nilai moral dan budaya nasional yang ditekankan Guan Zhong juga membantu menumbuhkan rasa persatuan diantara seluruh rakyat.

‘Hormati Raja, Usir Orang-Orang Barbar’

Dengan cara yang sama bahwa Bao dikenang karena kesetiaannya kepada teman-teman, Guan dipuji karena kesetiaannya kepada negara, dan memberikan segalanya untuk meningkatkan statusnya diantara negara-negara feodal China, menciptakan Hegemoni Qi yang terkenal.

Ratusan tahun sebelum Guan Zhong lahir, Tiongkok bersatu dibawah dinasti kerajaan Zhou. Tetapi raja Zhou menjadi lemah dan memerintah sebagai boneka belaka. Adipati negara-negara bagian feodal memerintah seperti kerajaan mereka sendiri. Sementara itu, suku-suku asing sering menyerbu Tiongkok dan bahkan terkadang mengancam keberlangsungan peradabannya.

Pencapaian besar Guan Zhong adalah mengembalikan kehormatan raja Zhou dan menciptakan titik temu diantara negara-negara bagian Tiongkok sehingga mereka dapat melawan invasi barbar, yang dikenal dengan pepatah Tionghoa “hormati raja, usir orang barbar”. Untuk melakukan ini, ia mengandalkan mengamankan kepercayaan dari raja dan negara-negara bagian lain.

Contoh yang relatif utama dicatat dalam Guanzi, sebuah karya yang merinci filosofi Guan Zhong yang disusun setelah kematiannya.

Pada awal pemerintahan Adipati Huan, sang adipati mengadakan jamuan makan dengan para pejabat dari tetangga Qi, Lu. Tiba-tiba seorang pejabat Lu menghunus belati dan mengarahkannya ke tenggorokan Adipati Huan, menuntut agar sebidang tanah yang telah direbut oleh Qi dikembalikan kepada Lu. Dihadapkan dengan pilihan hidupnya atau kehormatan Qi, sang adipati berjanji untuk mengembalikan tanah itu, dan pejabat Lu melepaskannya.

Marah dan terhina, Adipati Huan ingin mengingkari janjinya. Tapi Guan Zhong menghentikannya. Jika Qi menarik kembali kata-katanya, itu akan menghancurkan kredibilitasnya dengan negara-negara bagian lain.

Guan Zhong juga bersikeras bahwa, sebagai ritual yang tepat, Adipati Huan menunjukkan rasa hormat kepada raja Zhou setiap saat, meskipun raja memiliki sedikit kekuatan nyata. Akibatnya, rasa hormat Negara Qi membuatnya terkenal diseluruh Tiongkok dan negara-negara bagian feodal lainnya bersedia bekerja sama dengan Qi. Secara keseluruhan, negara Qi berhasil mengatur sembilan pertemuan aliansi para penguasa feodal.

Bahkan pada tahun 651 SM, ketika status Qi di Tiongkok tidak tertandingi dan Adipati Huan sudah lanjut usia, Guan Zhong masih memintanya untuk berlutut dihadapan raja Zhou. Melakukan hal itu merupakan tanda penghormatan bagi seluruh bangsa Tionghoa dan contoh bagi anak cucu.

Warisan Guan Zhong

Guan Zhong juga menulis Guanzi, salah satu teks filosofis dan ekonomi terpanjang di Tiongkok kuno. Meliputi berbagai topik seperti sistem keuangan, perbankan, perpajakan dan perdagangan; buku ini memberikan deskripsi pertama tentang teori kuantitas uang serta artikulasi yang jelas tentang apa yang akan dikenal berabad-abad kemudian sebagai hukum penawaran dan permintaan.

Apa yang membuat buku ini lebih unik adalah kombinasi ide-ide Konfusianisme dan Taois sebagai kebutuhan bagi setiap pemimpin politik. Dalam salah satu bab tulisannya, ia menulis:

Ketika anda memperbesar pikiran anda dan melepaskannya,

Saat anda mengendurkan napas vital [Qi] dan mengembangkannya,

Saat tubuh anda tenang dan tidak bergerak:

Dan anda dapat mempertahankan Yang Esa dan membuang banyak sekali gangguan.

Anda akan melihat keuntungan dan tidak terpikat olehnya,

Walau melihat bahaya dan tidak takut karenanya.

Santai dan tidak terluka, namun sangat sensitif,

Dalam kesendirian anda senang dengan diri anda sendiri.

Ini disebut “memutar Qi”:

Pikiran dan perbuatan anda tampak surgawi. (24, tr. Roth 1999:92)

Namun untuk semua hukum dan nasihat moralnya yang tajam, keberhasilan Guan Zhong tidak akan mungkin terjadi tanpa karakternya yang kuat dan persahabatan legendarisnya dengan Bao Shuya.

Lebih jauh lagi, toleransi dan kemurahan hati Adipati Huan juga berperan penting untuk mengamankan posisinya dan Guan Zhong dalam sejarah.

Sayangnya, keadaan tidak berlanjut seperti ini setelah Guan Zhong dan Bao Shuya meninggal. Adipati tidak dapat menemukan pengganti yang cocok untuk perdana menteri yang setia dan cakap. Para pengkhianat masuk ke dalam pemerintahan dan merebut kekuasaan pada tahun 643 SM, mengunci adipati di dalam tembok istananya sendiri sampai dia mati kelaparan. Negara bagian Qi dilemahkan oleh kekacauan dan tidak akan pernah mendapatkan kembali tempatnya seperti dibawah hegemoni Adipati Huan.

Namun demikian, Guan Zhong menonjol sebagai sosok unik dalam sejarah awal Tiongkok. Sementara pandangan moralnya dapat digambarkan mirip dengan Konfusius yang hadir kemudian, ia kadang-kadang dikritik karena mengandalkan hukum dan kontrol pemerintah untuk mencapai hasil. Beberapa cendekiawan juga menyebutnya munafik karena berpindah pihak diawal kariernya ketimbang setia pada pimpinan pertamanya.

Namun, Konfusius dikemudian hari memuji Guan Zhong sebagai orang yang bisa menelan penghinaan dan kesulitan demi tujuan yang lebih tinggi. Guan menyelamatkan Tiongkok dari kehancuran, dan merupakan pahlawan yang menempatkan kehormatan negaranya diatas reputasi pribadinya sendiri.

Sementara itu, Guan tahu bahwa dia bukan pria yang sempurna, dan menyebutkan posisi itu untuk teman setianya Bao Shuya. Jika Guan adalah model untuk pejabat yang efektif dan jujur, Bao adalah teladan kejujuran, kepercayaan, dan kemauan tanpa kompromi.

Pada tahun-tahun setelah kematiannya, Bao memantapkan dirinya dalam budaya Tiongkok sebagai model kesetiaan diantara teman-teman.(visiontimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI