Site icon NTD Indonesia

Kisah Sun Simiao: Kedokteran dan Kebajikan

Sun Simiao

Sun Simiao. (wikipedia)

Sun Simiao (541-682 M) hidup selama 142 tahun sampai awal Dinasti Tang. Dia masuk sekolah pada usia tujuh tahun dan rajin belajar. Sun mendalami pengobatan dan mempelajari penggunaan obat herbal. Dia juga senang membaca buku Daoisme, Buddhisme, dan lain-lain. Semakin tumbuh dewasa, mengamati nilai-nilai moral yang merosot dari orang-orang duniawi yang berjuang demi nama dan kepentingan materi karena ketamakan, Sun bertekad akan menjalani hidup dengan kebajikan dan perbuatan lurus. Dengan melakukan kedua hal ini, apapun profesinya di masyarakat, seseorang akan diberkati dalam usahanya di tengah masyarakat dan mencapai umur panjang tanpa pengejaran.

Sun menulis dua buku, Qianjin Yaofang dan Qianjin Yifang. Sun menganggap kehidupan manusia sangat berharga dan menyebut resep ini bernilai ribuan keping emas. Kedua buku tersebut dianggap ensiklopedia medis yang luar biasa, yang menghubungkan pengetahuan medis dari Dinasti Han. Qianjin Yaofang juga dipublikasikan di Jepang beberapa kali. Untuk mengenang prestasi Sun, orang-orang menyebut Gunung Wutai di mana dia pernah mengasingkan diri di sana sebagai Gunung Kedokteran. Mereka juga monumen dan patung di gunung itu dan mengadakan perayaan setiap tahun untuk mengenang teladan Sun.

Sepatu yang Beratnya 3,85 kg

Ketika masih muda, Sun belajar kedokteran selama bertahun-tahun di pegunungan. Dia tekun belajar dan berperilaku baik, sehingga gurunya mengajarkan semua yang diketahuinya kepada Sun. Ketika ia sudah selesai sekolah, tiba waktunya bagi Sun untuk meninggalkan gunung, lalu gurunya berkata, “Masalah di dunia manusia mempunyai alasannya. Jangan membiarkan kesulitan menghalangi keinginan kamu untuk membantu masyarakat. Saya juga tahu kamu tidak akan menyakiti manusia atau melakukan perbuatan tercela. Selalu ingat niat awal kamu dan kamu akan memiliki pencapaian yang besar.”

Dengan berlinang air mata, Su berpamitan kepada gurunya dan meninggalkan gunung. Mengikuti petunjuk gurunya, dia membantu orang-orang dengan kebutuhan medis dengan sepenuh hati. Bertolak belakang dengan apa yang diharapkannya, dia tidak bisa menyembuhkan penyakit, ke mana pun dia pergi, dan orang-orang yang dirawatnya bertambah parah atau meninggal dunia. Penduduk desa memakinya. Mereka kemudian menghindarinya seperti wabah dan mengusirnya. Sun tidak hanya menderita dari kesulitan makanan dan perjalanan, dia juga harus menanggung penghinaan dan celaan orang.

Suatu hari dia tidak bisa tahan lagi. Dia kembali ke gunung dan memberitahu gurunya tentang pengalaman yang dialaminya. Tidak menyalahkan, gurunya hanya menatap dirinya dengan ramah dan berkata dengan pelan, “Saya sepenuhnya mengetahui penderitaan kamu. Tetapi ini adalah proses, dalam melakukan kesalahan kamu belajar untuk memperbaikinya, dan segalanya akan berubah pada waktunya. Tolong jangan menyerah.”

Sekali lagi Sun berpamitan kepada gurunya dan meninggalkan gunung. Pengalaman yang dialami sama, tetapi dia tidak menyerah dan malah sering memotivasi dirinya. Suatu hari dia berjalan melalui kolam berlumpur, dan sepatunya hampir koyak. Setelah keluar dari kolam, dia bersandar pada pohon besar untuk mengikat sepatu jeraminya dengan lebih banyak jerami agar masih dapat digunakan. Sepatu itu sekarang kaku dan berat; namun dia tidak punya pilihan selain memakainya, agar bisa terus melanjutkan perjalanan.

Setelah beberapa waktu, sekelompok orang lewat membawa peti mati untuk dimakamkan. Melihat darah menetes dari peti mati, Sun berlari mengejar mereka dan berseru, “Berhenti! Berhenti! Saya bisa menyelamatkan orang ini! Dia belum mati!”

Orang-orang mengabaikannya, berpikir dia gila. Sun memohon mereka agar berhenti dan meletakkan peti mati, tapi tidak seorang pun mendengarkan dia, karena penduduk menganggap menghentikan peti mati di tengah perjalanan akan bernasib buruk. Sun tidak punya pilihan selain mengikuti mereka dan terus berseru, “Darahnya masih terus menetes sampai sekarang, berarti orang ini bisa diselamatkan. Tolong letakkan peti mati sekarang; jika tidak, akan terlambat.”

Terkejut dengan penjelasannya, orang-orang berhenti. Mereka meletakkan peti mati dan membukanya, didalamya terbaring seorang wanita hamil. Sun mengeluarkan jarum dan menusuk titik akupuntur dengan tepat pada wanita itu. Tidak lama kemudian, wanita itu bergerak kembali. Semua orang terkejut dan bersukacita, ada tangisan bayi. Baik ibu maupun bayi selamat dan orang-orang sangat gembira.

Keluarga wanita itu menyambut Sun di rumah mereka dan sangat berterima kasih. Peristiwa menyelamatkan dua nyawa dengan satu jarum ini dengan cepat diketahui seluruh penduduk.

Hari berikutnya, Sun bersiap-siap untuk pergi. Keluarga itu ingin dia tetap tinggal, tapi Sun tetap bersikeras ingin pergi. Dia juga menolak uang dan hadiah dari keluarga tersebut, kecuali sepasang sepatu jerami baru.

Sun kemudian makin percaya pada kata-kata gurunya. Dia terus mengobati penyakit orang-orang. Menariknya, siapa pun yang dirawatnya sekarang sudah sembuh. Orang-orang memanggilnya “dokter ajaib bersepatu jerami.”

Bayangan Ular di Air

Selama perang di awal tahun pemerintahannya, Kaisar Taizong berperang melawan penjajah ketika dia dikelilingi oleh pasukan musuh di puncak gunung. Saat dia minum air dari sungai di gunung, dia merasa lelah dan pusing. Ornament ukiran naga di mahkotanya membuat bayangan di air dan dia mengira itu adalah ular. Dia curiga telah menelan ular kecil saat minum. Setelah kembali bersama pasukannya ke ibukota, semakin memikirkannya, dia semakin merasa mual. Dia mulai muntah dan benar-benar jatuh sakit.

Para dokter kekaisaran membuat resep dosis obat yang berbeda, namun tidak berhasil. Kanselir Wei Zheng kemudian mengundang Sun untuk membantu. Sun melihat Kaisar Taizong tidak memiliki tanda-tanda penyakit di wajahnya atau benda asing di tubuhnya. Dia pertama-tama meresepkan obat untuk menenangkan pikirannya. Setelah kaisar mengenakan mahkota dengan ornament naga yang telah dikenakan sebelumnya, Sun meminta seseorang untuk membawa baskom berisi air agar kaisar datang dan melihat. Ketika Kaisar Taizong melihat bayangan ornamen itu menyerupai ular, dia tahu apa yang terjadi. Keraguannya lenyap dan dia langsung sembuh dari penyakit.

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI