Fan Zhongyan adalah seorang pemikir dan pendidik pada masa Dinasti Song Utara. Di dalam “Menara Yueyang”, dia menulis kalimat terkenal, ”Seseorang seharusnya memikirkan negara dahulu dan terakhir baru menuntut kebahagiaan dirinya.” Dia sangat ketat dalam mendidik anak-anaknya. Dia mengajar anak-anaknya untuk berkultivasi diri dan melakukan perbuatan baik. Melalui pengajarannya, keempat putranya memiliki integritas dan pengetahuan yang dalam. Keluarga Fan amat sederhana dan suka membantu orang lain.
Fan Zhongyan suatu ketika memerintahkan putra keduanya, Fan Chunren, untuk membawa beberapa ember gandum ke Provinsi Sichuan. Dalam perjalanan, Chunren bertemu teman lamanya Shi Manqing, dan bertegur sapa. Ia segera tahu bahwa keluarga Shi jatuh miskin. Anggota keluarga Shi telah meninggal, namun tidak mempunyai uang untuk pemakaman atau tempat penguburan. Segera setelah Chunren mendengar tentang nasib buruk Shi, dia memberikan beberapa ember gandum tersebut kepadanya sebagai bantuan untuk membantunya kembali pulang ke kampung halamannya.
Fan Chunren pulang ke rumah dan takut menceritakan kejadian ini pada ayahnya, jadi dia hanya berdiri dekat ayahnya untuk waktu yang lama dan takut menceritakannya. Fan Zhongyan bertanya padanya tentang gandum tersebut. Fan Chunren berkata, ”Ayah, maafkan saya. Ketika saya melewati Danyang, saya bertemu Shi Manqing. Ia baru mendapat musibah dan tertahan di sana tanpa memiliki cukup uang.”
Fan Zhongyan berkata, ”Mengapa kamu tidak memberinya gandum?”
Fan Chunren berkata, ”Saya memberikannya.” Ketika Fan Zhongyan mendengar perbuatan putranya, ia sangat gembira dan berulang kali memuji putranya karena melakukan perbuatan yang benar.
Meski Fan Zhongyan berkedudukan tinggi di pemerintahan dan mempunyai pendapatan yang tinggi, dia tidak memperkaya diri dan keluarganya, sebaliknya ia sering membantu orang-orang miskin yang benar-benar kekurangan dan menjadi contoh bagi anak-cucu dan keturunannya.
Ketika putra pertamanya Fan Chunyou berumur 16 tahun, ia mengikuti Fan Zhongyan berperang melawan pemberontak Xixia dan menerima banyak hadiah atas keberaniannya. Dia adalah asisten hebat ayahnya. Putra keduanya, Fan Chunren, di kemudian hari menjadi perdana menteri. Selama 50 tahun bekerja sebagai pejabat pemerintahan, dia telah melakukan segala hal dalam menjalankan tanggung jawabnya. Putra ketiganya, Fan Chunli, adalah asisten perdana menteri. Putra keempatnya, Fan Chuncui, wakil menteri urusan sipil. Dengan pengaruh positif ayahnya, putra-putra tersebut semuanya berbudi dan perhatian terhadap rakyatnya. Mereka jujur, tulus dan sederhana. Mereka menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk membantu penduduk miskin desa dan menjalani hidup sederhana.
Filosofi kebudayaan tradisional dari pendidikan keluarga selalu memasukkan orientasi terhadap cara pandang etika sebagai nilai moral tertinggi. Orang tua selalu ingin meninggalkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Kenyataannya, tidak perduli berapa banyak uang yang ditinggalkan orang tua bagi anak-anaknya, mereka hanya harta duniawi. Hanya dengan mengajarkan anak-anak untuk melakukan perbuatan yang lurus dan berfokus pada kebajikan adalah sebuah pendidikan jangka panjang yang diperlukan bagi anak-anak, karena kebajikan adalah hal yang paling mendasar dan sikap terbaik. Itu adalah sumber segala berkah. Itu adalah kekayaan yang paling dapat diandalkan yang dapat Anda tinggalkan bagi anak-anak Anda. (id.minghui.org)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
