Budi Pekerti

Alasan Mengejutkan Mengapa Pikiran Tidak Dapat Tenang Saat Bermeditasi

Meditasi (Kredit: Anna Tarazevich via Pexels)
Meditasi (Kredit: Anna Tarazevich via Pexels)

Dalam kesibukan kita sehari-hari untuk menyelesaikan sesuatu, neuron kita tampaknya bekerja tanpa henti.

Dengan ribuan pikiran yang diproses setiap hari, tampaknya hampir tidak mungkin untuk menenangkan pikiran, terutama saat tubuh kita beristirahat.

Untuk menangkal stres di hari yang sibuk, banyak orang beralih ke meditasi dan kesadaran dengan gagasan bahwa dengan menyadari dan mengelola pikiran, emosi, dan sensasi fisik, kita dapat mencapai ketenangan.

Namun menjadi tenang dan menenangkan pikiran lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Kadang-kadang tampaknya semakin kita mencoba untuk membungkam suara batin kita, semakin keras jadinya. Mengapa pikiran kita begitu gigih?

Dari mana pikiran kita berasal?

Pikiran dan indera kita sangat aktif sepanjang hari, memahami dan mengumpulkan informasi bahkan ketika kita tidak menyadarinya.

Suara bising, banyaknya penglihatan, dan segala macam media yang bersaing untuk mendapatkan perhatian kita terus-menerus dianggap sebagai pesan yang secara tidak sadar disimpan di otak kita. Segala hal ini muncul kembali saat kesadaran diri kita tidak mendikte pikiran kita, seperti saat kita akan tertidur atau mencoba bermeditasi.

Pikiran lain datang dari ingatan sadar. Banyak hal yang dapat memicu ingatan, yang kemudian mengarahkan kita untuk mengingat kembali peristiwa dan kesan terkait, dan bahkan mempertimbangkan hasil alternatif, membawa kita ke jalur pemikiran yang tiada hentinya.

Pikiran lain lagi datang dari emosi dan keinginan kita yang kuat. Mungkin pikiran Anda berputar-putar tentang siapa yang benar dalam sebuah perdebatan yang baru saja terjadi; mungkin Anda terikat pada sesuatu yang tidak dapat Anda peroleh; atau mungkin Anda tertekan oleh tenggat waktu yang tidak Anda ketahui cara untuk memenuhinya.

Obrolan terus-menerus ini bisa menjadi kendala utama saat kita mencoba untuk fokus, terutama dalam meditasi. Mari kita selidiki bagaimana orang-orang, baik di zaman dulu maupun sekarang, mencoba mengatasi situasi ini.

Pendekatan Buddhis

Selama ribuan tahun, diketahui bahwa pikiran yang berantakan bisa menjadi sumber penderitaan. Setelah mencapai pencerahan, Buddha Sakyamuni mengajarkan bahwa kunci untuk mengatasi siklus kematian dan kelahiran kembali adalah dengan melatih pikiran. Dengan demikian, menyadari pikiran seseorang dan berlatih meditasi telah menjadi komponen penting dalam laku Buddha.

Setiap aliran Buddha mungkin menggunakan metode yang berbeda untuk menenangkan pikiran. Beberapa membutuhkan kesadaran yang tajam dari tubuh dan pikiran. Buddhisme Zen, misalnya, mengajarkan mengikuti nafas dengan memperhatikan bagaimana ia masuk dan keluar dari perut, sambil membiarkan pikiran untuk “menjadi” apa adanya.

Demikian pula, meditasi Vipassana membutuhkan perhatian yang terus menerus dan hati-hati untuk mengembangkan konsentrasi mental. Secara sadar mengarahkan perhatian seseorang pada pengalaman yang ada dan melabelinya sebagai fenomena eksternal membantu melatih pikiran. Dengan menggunakan nafas sebagai jangkar, ia berfokus pada melihat segala sesuatu sebagaimana adanya untuk memahami sifat sejati dari keberadaan.

Teknik meditasi lainnya mengandalkan alat eksternal untuk menenangkan pikiran. Meditasi mantra, misalnya, menggunakan kata atau frasa berulang, yang disebut mantra, untuk menenangkan pikiran yang liar. Ketika kata atau frase diucapkan atau diulang dalam hati, itu meningkatkan konsentrasi, dan ketika mantra dilafalkan terus menerus, itu memperteguh niat.

Meditasi bermandikan suara bekerja dengan cara yang sama. Menggunakan instrumen seperti singing bowls, gong, dan lonceng, teknik meditasi ini menciptakan suara imersif dengan getaran yang membantu memfokuskan pikiran dan membawanya ke kondisi relaksasi.

Gerakan tubuh juga bisa digunakan untuk menenangkan pikiran. Yoga, misalnya, mengajarkan pemusatan perhatian pada gerakan tepat yang disinkronkan dengan pernapasan seseorang. Dengan menyelaraskan pikiran dan tubuh, ini bertujuan untuk menggantikan pikiran yang mengembara dengan kesadaran penuh akan masa kini, mendorong rasa tenang dan pikiran jernih.

Qigong, praktik Tiongkok kuno yang berakar pada pengobatan Tiongkok tradisional  menggunakan postur dan gerakan tubuh sebagai sarana pelengkap untuk menumbuhkan pikiran yang tenang.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah bentuk qigong terbesar saat ini, yang dipraktikkan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Diperkenalkan ke publik di China pada tahun 1992 oleh pendirinya Mr. Li Hongzhi, dan berakar pada budaya tradisional China; dengan cepat memperoleh popularitas besar karena penekanannya pada peningkatan karakter praktisi dan prinsip-prinsip panduan Sejati, Baik, dan Sabar. (Gambar: DafaGreat via Pixabay)

Teknik Modern

Berdasarkan tradisi Buddhis yang menjaga kesadaran jernih dari pengalaman tubuh dan mental yang merupakan salah satu dari Tujuh Faktor Pencerahan, praktik mindfulness telah mendapatkan popularitas dalam beberapa tahun terakhir, terutama di antara mereka yang tenggelam dalam kesibukan kehidupan perkotaan.

Dipekerjakan untuk tujuan terapeutik sejak tahun 1970-an, praktik mindfulness telah digunakan untuk mengurangi depresi, stres, dan kecemasan, serta untuk mengobati kondisi seperti kecanduan narkoba dan gangguan makan. Intinya adalah gagasan bahwa dengan memperhatikan saat ini tanpa menilai, kita dapat melepaskan diri dari pikiran kita, mengubah cara kita berhubungan dengan pengalaman dan secara sadar memilih bagaimana kita bereaksi.

Latihan mindfulness dilakukan melalui aktivitas sederhana seperti memindai tubuh kita untuk mencari rasa sakit atau ketegangan yang mungkin tidak kita sadari, mencatat informasi yang dirasakan oleh panca indera kita, memperhatikan laju pernapasan kita atau mengamati pikiran kita.

Aplikasi populer dari metode ini mencakup praktik seperti makan dengan sadar, yang berfokus pada sensasi tubuh serta pikiran dan perasaan terkait makanan untuk memperbaiki kebiasaan makan; dan mindful conversation yang bertujuan untuk meningkatkan komunikasi interpersonal dan menumbuhkan empati.

Perhatian penuh bergantung pada latihan dan pengulangan yang konsisten untuk melatih pikiran. Ini mengajarkan seseorang untuk mengidentifikasi saat-saat ketika pikiran mengembara, dan membawanya kembali ke saat ini, sambil tetap berbelas kasih dan tidak menghakimi. Tetapi dapatkah teknik ini, ketika dimasukkan dalam rutinitas harian kita, benar-benar membantu kita mencapai pikiran yang tenang?

Meskipun mindfulness telah terbukti membawa manfaat bagi kesehatan fisik dan mental, ada baiknya berhenti sejenak untuk mempertimbangkan fakta bahwa seorang biksu Buddhis mungkin memerlukan beberapa tahun latihan rajin untuk melatih pikiran menjadi hening. Lalu, berapa lama kita yang hidup di dunia sekuler dan berlatih di waktu senggang untuk belajar menenangkan pikiran?

Kebijaksanaan kuno

Daratan China adalah tahap perkembangan salah satu peradaban manusia terbesar. Selama lebih dari lima ribu tahun, orang Tionghoa kuno menganggap pentingnya pelatihan pikiran dan hati. Mereka percaya bahwa hanya melalui kultivasi diri seseorang dapat mencapai dan menjadi satu dengan Tao, atau Hukum Agung alam semesta.

Orang bijak yang agung menyampaikan ajaran mereka kepada umat manusia untuk membimbing mereka tentang makna hidup, cara yang tepat untuk hidup sebagai manusia dan jalan untuk mengatasi penderitaan yang melekat pada kondisi manusia. Kebijaksanaan kuno sebenarnya bisa menjadi komponen kunci dari pencarian kita akan hati dan pikiran yang tenang.

Lao Zi, pendiri Taoisme, menekankan mengikuti jalan alam sebagai jalan untuk mencapai ketenangan pikiran: “Puaslah dengan apa yang Anda miliki; bergembiralah dengan apa adanya. Ketika Anda menyadari tidak ada yang kurang, seluruh dunia adalah milik Anda.”

Menurut Lao Zi, hidup adalah serangkaian perubahan alam, dan jika kita menolaknya atau berharap realitas menjadi berbeda hanya akan membawa kekacauan pada pikiran. Dengan demikian, pikiran akan damai ketika seseorang puas dengan saat ini sebagaimana adanya: “Jika Anda menyadari bahwa segala sesuatu berubah, tidak ada yang akan Anda coba pertahankan.”

Mencius, seorang cendekiawan dan filsuf Konfusianisme, menjelaskan: “Untuk menyehatkan pikiran seseorang, tidak ada yang lebih baik daripada mengurangi keinginan seseorang. Seseorang dengan sedikit keinginan akan mampu menjaga hatinya tetap jernih dan tabah dalam hidupnya.” Melepaskan kemelekatan dan kecanduan sangat penting untuk kejernihan pikiran.

Ajaran Buddha juga menekankan pentingnya meninggalkan keinginan-keinginan untuk mencapai pikiran yang tenang. Sakyamuni mengajarkan murid-muridnya untuk mengikuti sila untuk mencapai samadhi: keadaan kesadaran yang tenang, tidak terganggu dan bersatu. Mengikuti sila berarti tidak melakukan pikiran dan perbuatan jahat. Mematuhi ajaran moral ini dapat memperbaiki sifat dasar pikiran dan meningkatkan kemampuan seseorang untuk memasuki ketenangan.

Kearifan tradisional menawarkan kebenaran yang lebih tinggi yang belum dipahami oleh masyarakat modern kita. Mungkin kunci untuk mencapai kedamaian batin tidak terletak pada teknik yang kita gunakan, tetapi pada kemampuan untuk secara sadar menghilangkan pikiran keras kepala yang menghalangi kita untuk mencapainya. Untuk melakukan ini, perlu untuk merefleksikan ide atau gagasan di mana mereka berakar.

Banyak pengejaran kita yang berkelanjutan mungkin justru yang menghalangi kita untuk mencapai ketenangan; mereka seperti gesekan terhadap kelancaran arus alam semesta.

Ketika kita bertekad untuk benar-benar meningkatkan diri kita dengan secara sadar melepaskan berbagai keinginan dan keterikatan, kita akan menyelaraskan diri dengan tatanan alami alam semesta dan kekacauan secara bertahap akan dibersihkan dari pikiran kita, memungkinkan kita untuk kembali ke kemurnian pikiran bawaan kita. (visiontimes)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI