Budi Pekerti

Antara Rezeki dan Malapetaka

Rezeki dan malapetaka
Rezeki dan malapetaka

Lusi adalah pasien lama saya. Dia pengusaha restoran, kerjanya sangat berat dan panjang. Lusi mengira kalau orang lain rajin bekerja, dari pagi hingga petang, rumah gubuk pasti bisa jadi rumah gedung, mobil lama dapat menjadi mobil baru, warung dapat menjadi restoran. Angan-angan indah ini selalu menemaninya melewati puluhan tahun kesulitan.

Waktu semua usaha berjalan lancar dan mulai membaik, dia sudah paruh baya, akan tetapi seperti kata pepatah, “Manusia boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan segalanya.” Mimpi indah ini lenyap dihancurkan oleh kenyataan yang kejam.

Dia menderita kanker pankreas stadium akhir, setelah dioperasi, dokter menyarankan dia menjual atau menutup resto miliknya, karena dia tak punya banyak waktu.

Ia juga tahu bahwa suaminya berusaha menutupi perselingkuhannya, namun ia tak dapat mengelabuinya. Ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

“Dokter, sekarang saya merasa seperti sebuah sampah di lautan yang luas, sendirian tak ada yang membantu, ingin segera menyudahi hidup bukanlah hal yang terlalu berlebihan, toh juga tak akan lama lagi, buat apa mempertahankan sebatang lilin yang akan padam?”

Mendengar sampai sini hati saya juga pilu.

Saya bertanya padanya, “Lusi, apakah dirimu yakin akan segera mati?, Engkau ingin menyerah begitu saja dan tidak ingin melawan penyakitmu?”

“Tidak”, ujarnya.

“Lihat, bunga kecil yang di bukit itu sedang mekar di musim semi, dia juga baru melewati siksaan di musim salju. Dirimu sedang menghadapi kesulitan,  kesengsaraan, saat ini hidupmu sedang diuji, tapi bukankah waktu ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan keberanianmu? Kesuksesan seseorang bukan ditunjukkan oleh seberapa besar bisnis yang dibukanya, tetapi dalam hidup ini ia berhasil menenangkan diri dalam menghadapi kesulitan, dan sungguh-sungguh mengerti makna menjadi seorang manusia,” hibur saya.

Dia larut dalam pemikirannya, “Dokter, sebenarnya siapa yang mengontrol hidup kita? Dia memakai apa untuk menentukan siapa boleh hidup berapa lama?” Dalam kegelapan mukanya muncul secercah cahaya, sorot matanya memancarkan seuntai harapan.

“Iya, siapa ya? Itu adalah dirimu sendiri, kehidupanmu, pembayaran atas dosa-dosa, putaran sebab musabab, itu adalah milikmu……. sungguh, itu adalah dirimu sendiri.”

Saya tak tega untuk meneruskannya.

Lusi hanyut dalam keheningan, tiba-tiba ia berkata, “Masih sempatkah untuk diperbaiki? Apakah masih sempat untuk diulang sekali lagi? Mungkinkah penyakit itu bukan malapetaka? Mungkinkah hidupku baru saja dimulai?” Dia sepertinya mengenang kembali saat masih sehat dan kuat.

Saya memandangnya pergi, teringat akan pepatah kuno: “Malapetaka akan disertai rezeki, rezeki pun akan disertai malapetaka.”

Di bumi ini tidak ada rezeki dan malapetaka yang mutlak, semua itu berimbang, semua itu tergantung pada diri kita masing-masing, bagaimana menghadapinya. (epochtimes)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI