Budi Pekerti

Bagaimana Media Sosial Mempengaruhi Hidup Kita

instagram (©unsplash)
instagram (©unsplash)

Sebuah studi tudi baru menunjukkan seberapa besar pengaruh media sosial pada kehidupan seseorang: Media sosial menunjukkan perpaduan antara hal baik, hal buruk dan hal jelek.

Pertama, hal baik

Dalam sebuah studi baru-baru ini, Pew Research menemukan bahwa keterlibatan media sosial telah memungkinkan lebih banyak akses dan lebih banyak informasi, terutama berita dibandingkan sebelumnya.

Sekitar 93 persen yang disurvei di Yordania mengatakan akses ke teknologi telah membuat orang mendapat informasi bermanfaat dan 65 persen responden di India menyetujuinya. Untuk sebagian besar belahan dunia Timur, ini sepertinya kabar baik. Lebih banyak informasi akan membantu orang membuat keputusan yang lebih tepat. Akan tetapi kita harus selektif, karena meningkatnya kemampuan media sosial membawa hal-hal positif juga negatif.

Efek Samping Buruk

Seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial, banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa cukup banyak hal buruk yang menyertai informasi yang baik.

Penggunaan Instagram dapat membuat orang merasa tersisih atau iri hati, karena semuanya terlihat begitu sempurna di dalam instragram, walaupun mereka memiliki kapasitas untuk membedakan kebenaran dari fiksi. Sedangkan anak muda yang tumbuh di media sosial bisa saja mereka kekurangan kemampuan tersebut, sehingga sangat berdampak pada cara mereka memandang realitas.

Sebuah penelitian yang diterbitkan akhir tahun lalu menemukan bahwa penggunaan media sosial yang intens dapat meningkatkan perasaan depresi dan kesepian; sebaliknya dengan mengurangi penggunaan media sosial, seseorang akan memiliki efek lebih baik, terutama di kalangan anak muda.

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Pennsylvania yang dilaporkan dalam Journal of Social and Clinical Psychology, meneliti 140 mahasiswa yang suka menggunakan Facebook, Snapchat, dan Instagram, namun dibatasi 10 menit tiap kali membuka (dengan total 30 menit dalam sehari, tidak boleh lebih). Seperti yang diharapkan para peneliti, orang-orang yang membatasi penggunaan media sosial mereka hingga maksimum 30 menit per hari merasa jauh lebih baik setelah periode tiga minggu, melaporkan berkurangnya depresi dan kesepian.

Remaja yang secara teratur menggunakan media sosial dalam waktu yang lama tampaknya merasakan efek samping yang lebih buruk, kebanyakan dari mereka kemungkinan menjadi kecanduan. Dalam sebuah jajak pendapat kepada para remaja diberi pilihan apakah mereka lebih suka melihat ponselnya hancur atau ada tulang kecil di tangannya yang patah, hampir setengahnya mengatakan bahwa mereka lebih suka mengalami patah tulang daripada ponsel yang hancur.

Dalam artikel Atlantic yang berjudul: “Apakah Ponsel Cerdas Menghancurkan Generasi?” penulis berpendapat bahwa anak-anak sedang berada di ambang krisis kesehatan mental karena media sosial telah membuat mereka merasa terisolasi.

Meskipun media sosial dapat membantu menyediakan banyak informasi, namun kaum muda khususnya tampaknya sangat rentan menjadi kecanduan yang dapat menyebabkan efek negatif pada kesehatan emosional dan psikologis mereka. Orang dewasa selayaknya membantu mereka mengembangkan filter untuk membedakan informasi yang benar dan yang salah, kemudian menetapkan batasan penggunaan ponsel, sehingga mereka dapat menjaga kehidupan sosial yang sehat. (epochtimes/ron/ch)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI