Budi Pekerti

Bagaimana Mengendalikan Temperamen Buruk Kita?

emosi (©freepik)
emosi (©freepik)

Sebagai orangtua, kita sering mengalami hari-hari yang kurang baik. Di dalam hari yang kurang baik ini, rasanya semua hal tidak sesuai dengan kehendak hati, urusan rumah mendadak menjadi banyak, belum lagi anak banyak tugas sekolah online yang harus diperiksa, sehingga banyak pekerjaan tidak bisa terselesaikan pada hari itu juga.

Di dalam rumah tangga semua hal menjadi kacau balau, suasana juga tidak baik. Anak-anak begitu ribut sehingga Anda tidak bisa berbuat apa-apa. Suami segera akan pulang dari kantor, akan tetapi makan malam masih belum siap. Suasana di sekeliling Anda membuat hati Anda resah dan pikiran Anda kacau, pada saat keadaan seperti ini urusan yang sangat kecil pun akan membuat Anda naik pitam, muncul keadaan emosi yang sangat tidak stabil.

Peran sebagai orangtua kadang dipenuhi dengan kegembiraan, tetapi bersamaan dengan itu juga dapat menjadi tekanan yang sangat besar, yang dapat membuat jiwa dan raga seseorang menjadi sangat letih, dengan demikian timbulnya kemarahan, emosional, atau depresi semua ini adalah wajar.

Tetapi kita juga harus sebisa mungkin menekan suasana hati yang negatif ini sampai ke titik yang terendah. Oleh karena secara alami anak adalah peniru yang ulung, maka bila Anda tidak bisa mengendalikan emosi Anda, apakah terpikir oleh Anda bagaimana bentuk citra yang Anda tampilkan di depan anak Anda? Lagi pula bukankah ia lalu akan dapat meniru diri Anda?

Api penyulut dari hari yang kurang baik ini kebanyakan adalah anak di rumah kita. Sebenarnya seringkali tindakan rasa ingin tahu anak merupakan salah satu cara mereka untuk dapat mengenal keadaan di sekeliling mereka, atau bisa juga karena suasana hati mereka sedang buruk.

Karena bagaimanapun juga mereka masih kecil. Selain itu, jikalau orangtua merasakan mendapatkan tekanan, rasa tekanan semacam ini juga bisa diteruskan kepada anak, dengan demikian juga bisa membuat mereka berubah menjadi cemas tidak tenang, mood jadi tidak stabil, akibatnya persoalan jadi semakin runyam. 

“Hari yang kurang baik” adakalanya merupakan kejadian-kejadian serupa yang juga pernah dialami sebelumnya.

Jika Anda bisa lebih awal memprediksikan kehadiran dari keadaan “hari yang kurang baik” itu, maka mental Anda sudah siap untuk menghadapi, tidak akan tertimbun hingga akhirnya meletus. 

Selanjutnya marilah kita simak bagaimana agar pada hari yang kurang baik itu, kita dapat menenangkan dan membenahi kondisi hati kita.

Waspadalah dengan gejala-gejala hendak naik pitam, seperti rasa kesal dan gelisah. Ketika Anda mendapatkan diri Anda mengalami gejala-gejala ini, usahakan untuk bisa segera menenangkan diri, atau menarik nafas yang dalam beberapa kali, atau segera tinggalkan tempat yang membuat Anda merasa sangat jengkel, atau segera serahkan masalah pada orang lain untuk ditangani.

Anda juga bisa mencoba memikirkan sejumlah hal positif di balik semua hal yang “bikin emosi”, misalkan walaupun anak sangat bengal tetapi dia sangat ceria dan sehat, bila dia sakit tentu repotnya jadi dua kali lipat bukan?Atau saat makan malam masih belum tersedia, maka ini merupakan kesempatan baik memesan makanan delivery kesukaan, sesekali tak apa! Kita coba untuk selalu berpikir positif dan mengingatkan diri sendiri bahwa seseorang telah berbuat salah tentu dia punya alasan yang mungkin tidak kita ketahui.

Janganlah berteriak ataupun memukul dan memarahi anak. Teriakan dan pukulan walaupun bisa melampiaskan kemarahan Anda untuk sesaat, akan tetapi teriakan dan pukulan itu tidak akan bisa membereskan persoalan.

Bahkan malah mungkin menimbulkan teriakan dan tangisan lain yang tidak berkesudahan, menjadikan suasana semakin kacau. Jika Anda sendiri sulit mengendalikan emosi Anda, bagaimana Anda bisa mengharapkan anak Anda bisa melakukannya?

Jangan lupa bahwa pelukan dan kasih sayang merupakan cara yang paling baik untuk menenangkan anak, juga bisa meredakan perasaan Anda yang sedang kacau.

Dalam kehidupan ini kita semua berharap “hari yang kurang baik” ini bisa seminim mungkin terjadi. Walaupun tidak bisa kita hindari, namun kita bisa memilih untuk tetap bisa menjadi orang tua yang baik di dalam “hari yang kurang baik” itu, bagaimana menurut Anda? (Yuezi/The Epoch Times/lin)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI