Membicarakan kebahagiaan tidak akan pernah habis selama peradaban manusia masih ada. Banyak filsuf kebahagiaan datang silih berganti dari zaman kuno hingga sekarang. Ini menandakan bahwa hidup bahagia itu dambaan setiap insan dan bisa diartikan menjadi fokus hidup entah disadari atau tidak. Ada yang me ngatakan bahagia itu sederhana. Masing-masing orang punya cara untuk bahagia dan standar kebahagiaan masing-masing. Yang menjadi masalah adalah seringkali ketika seseorang mengukur kebahagiaannya dengan standar orang lain, atau ada standarisasi atau penyeragaman standar kebahagiaan. Orang sering kali melupakan bahwa masih banyak orang yang memiliki taraf hidup di bawahnya, yang ternyata masih dapat merasa bahagia. Pada titik ini, satu kata kuncinya adalah orang tidak mensyukuri kondisi saat itu.
Kali ini kita mencoba mengulik ilmu atau filsafat kebahagiaan kuno yang saya rasa masih sangat relevan di era digital. Adalah stoikisme, juga disebut Stoa adalah sebuah aliran atau mazhab filsafat Yunani kuno yang didirikan di kota Athena, Yunani, oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke-3 SM. Setelahnya banyak tokoh-tokoh yang melestarikan filsafat ini sehingga bisa dikatakan stoikisme merupakan filsafat kebahagiaan yang paling lama dianut manusia dari zaman ke zaman dan banyak mempengaruhi filsafat dan agama.
Stoikisme merupakan aliran filsafat yang sangat luas dan beragam, meliputi logika (terbagi dalam retorika dan dialek tika), fisika, dan etika (memuat teologi dan politik). Salah satu pandangan yang mencolok tentang etika adalah bagaimana manusia memilih sikap hidup dengan menekankan apatheia, hidup pasrah atau tawakal menerima keadaannya di dunia. Sikap tersebut merupakan cerminan dari kemampuan nalar manusia, bahkan kemampuan tertinggi dari semua hal.
Stoikisme merupakan aliran filsafat yang paling berhasil dan sangat berpe ngaruh dalam aliran filsafat Yunani Kuno karena relevansinya terhadap sikap manusia dan sistem pemerintahan saat itu. Stoik berasal dari bahasa Yunani stïkos, yang berarti “dari stoa (serambi, atau beranda)”. Hal ini mengacu pada Stoa Poikile, atau “beranda berlukis”, di Athena, dimana filsuf stoik Zeno dari Citium yang berpe ngaruh besar terhadap stoikisme pernah mengajar. Dalam istilah awam stoikisme kadang-kadang disebut sebagai “menderita dalam kesunyian”, dan etika yang terkait dengan hal itu. Aliran ini melahirkan banyak pemikir stoikisme seperti Chrisippus dari Soli, Cleanthes dari Assos, Seneca Muda, Cicero, Epictetus, dan Marcus Aurelius.
Zeno muda, sang maha guru telah terinspirasi oleh ajaran etika Socrates, khususnya keberanian Socrates dalam menempuh jalan kematian dengan sukarela. Tindakan ini seolah menjadi gambaran ajaran Stoa dalam etika, bahwa seseorang tidak perlu terbawa emosi negatif (pathos), misalnya takut, tetapi bahagia dengan kemerdekaan penuh, termasuk menerima cara kematian.
Prinsip dan ajaran Stoikisme banyak mempengaruhi pemikiran para teolog Kristen dan filsuf di sepanjang abad, bahkan hingga saat sekarang, dan warisan yang menyolok dari filsafat Stoikisme adalah tentang hidup etis dengan moralitas yang baik, seperti diwarisi oleh beberapa pemikir, yaitu Baruch Spinoza, Joseph Butler, Immanuel Kant, dan Helmut Richard Niebuhr. Menurut filsuf Jerman, Dilthey, stoikisme adalah filsafat terkuat dan terlama yang dapat diterima dibandingkan filsafat lainnya.
Tokoh etika terkenal dari Amerika yang sangat dipengaruhi oleh cara berpikir Stoa misalnya H. Richard Niebuhr. Selain Niebuhr membangun diskursus etika yang sangat radikal mengakui peran Ilahi dalam berbagai peristiwa kehidupan dunia yang tampak dalam salah satu karyanya berjudul Radical Monotheism, Niebuhr juga sangat menekankan tindakan manusia untuk tidak secara dikotomis memisahkan unsur-unsur alam secara bertentang an, yang kemudian hanya akan melahirkan permusuhan antar manusia. Niebuhr mengajak manusia menyelaraskan diri terhadap perubahan-perubahan dalam masyarakat dan tidak panik, tidak melakukan perlawanan yang menghasilkan kekerasan, melainkan mengajak manusia bertindak bertanggungjawab mulai dari diri sendiri.
Bahagia Ala Stoikisme
Dalam filosofi stoikisme, ada sebuah konsep yang mengungkapkan bahwa salah satu penyebab dari penderitaan manusia adalah pikirannya sendiri. Karena semua kejadian bersifat netral, maka semua kejadian yang dialami ditafsirkan oleh pikiranya sendiri, sehingga akan terbentuk persepsi baik atau buruk.
Ada dua pilar pemikiran untuk bahagia ala filsafat ini; Pertama, “live according to nature”; hidup sesuai dengan kehendak alam. Maka dari itu lahirlah konsep apathea, pasrah dengan kehendak Alam. Melawan kehendak alam bisa menimbulkan ketidakbahagiaan. Kedua, adalah “dichotomy of control”. Filsuf stoikisme membedakan antara hal yang bisa dikendalikan dan hal yang tidak bisa dikendalikan. Ketika seseorang mencoba mencari kebahagiaan dari apa yang tidak bisa di kendalikan, maka ia akan kesulitan mene mukan kebahagiaan. Intinya bahagia ala filsafat ini adalah berfokus kepada hal-hal yang bisa dikendalikan dan menyadari ada banyak hal yang berada di luar kendalinya. Dan yang bisa dikendalikan oleh seseorang adalah pikirannya sendiri.
Bagaimana langkah-langkah seseorang agar terbiasa dengan pola pikir stoikisme?
Jika seseorang masih saja menggantungkan kebahagiaan pada hal yang di luar kendali, maka sudah saatnya seseorang berhenti melakukan itu. Dan mulai meng ubah cara hidup itu.
Pertama, berfokuslah pada hal-hal yang bisa dikendalikan. Dalam realitas kehidupan, sekeras apapun seseorang untuk mengubah hal yang berada di luar kendalinya, pasti tidak akan berhasil. Yang bisa dikendalikan oleh seseorang adalah dirinya sendiri yaitu pikirannya, perasaannya, tindakan dan kebiasaannya. Bahkan kesuksesan adalah sebuah cita-cita yang mana hal itu sebenar nya tidak bisa kita kendalikan karena variabel kesuksesan sangatlah banyak. Yang bisa dilakukan seseorang hanyalah mengendalikan prosesnya. Selebihnya Semesta yang menentukan. Hasilnya di akhir bagaimana seorang stoik hanya berpasrah menerima dengan pemikiran yang selalu positif.
Kedua, mempersiapkan diri untuk menghadapi segala masalah. Dunia ini bukan neraka dimana penderitaan, kesedihan, dan kesialan selalu mewarnai, pun juga bukan surga dimana segala hal-hal baik dialami. Semua ada grafik naik turunnya. Segala kemungkinan baik dan buruk itu sebuah kenyataan yang tak bisa dihindari. Bersantai, dan belajarlah berdamai dengan hal-hal negatif yang datang, maka seseorang bisa menemukan kebahagiaan serta ketenangan dalam hidup.
Ketiga, menyadari bahwa seseorang hanya butiran debu di alam semesta ini. Filosofi stoikisme menyadarkan bahwa seorang manusia hanyalah butiran debu di alam semesta ini. Maka dari itu, tidak disarankan berekspektasi tinggi dalam hidup, dan menyadari bahwa manusia tidak akan mendapatkan semua yang diinginkan. Karena akar ketidakbahagiaan adalah terlalu tingginya ekspektasi, dan ketika itu tidak bisa diraih maka akan terjadi kegelisah an, ketidakbahagiaan dan keputusasaan.
Keempat, manfaatkan waktu sebaik mungkin. Waktu adalah aset berharga manusia. Karena waktu tidak dapat diulang kembali. Oleh karena itu, kita harus menggunakan waktu sebaik-baiknya. Hindari kebiasaan menunda-nunda pekerjaan, atau menyia-nyiakan waktu untuk kegiatan yang tidak bermanfaat.
Demikianlah hidup bahagia ala stoik isme, selamat mencoba. Bahagia bukan sekedar angan, tapi sebuah fakta dan kenyataan kehidupan. (et)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini
Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations
VIDEO REKOMENDASI
