Budi Pekerti

Belajar Memahami Perspektif Orang Lain

Suatu hari, ada dua orang sedang berjalan-jalan ke pegunungan. Yang satu adalah seorang negosiator bisnis, sementara satunya lagi adalah seorang tukang kayu.

Kemudian mereka melihat ada seseorang yang hampir terjatuh di sebuah tebing, sedang bergelantungan sambil berpegangan ke tepian tebing tersebut.

Segera saja mereka bergegas menyelamatkannya.

Pertama, si tukang kayu berkata sambil mengulurkan tangannya: “Ulurkan tanganmu!”

Namun, orang itu hanya menatapnya dengan diam, dan tidak mengulurkan tangannya.

Kemudian si negosiator bisnis mendekat, dia bertanya pada orang yang hampir jatuh tersebut: “Hei Pak, apa pekerjaanmu?”

Orang itu menjawab: “Saya adalah seorang penagih pajak.”

Negosiator kemudian berkata sambil mengulurkan tangannya: “Ini, saya berikan tangan saya, peganglah dengan erat!”

Orang itu kemudian memegang tangan si negosiator, dan akhirnya berhasil diselamatkan.

Setelah kejadian itu berlalu, si tukang kayu bertanya kepada temannya: “Mengapa dia tidak mau menerima bantuan saya, dan hanya mau menerima bantuanmu?”

Sambil tersenyum, sang negosiator menjawab: “Dia adalah seorang penarik pajak, dia tidak paham bagaimana memberi, namun hanya paham bagaimana meminta.”

Adakalanya saat kita hendak menolong orang lain, orang tersebut tidak mau menerima, karena mereka tidak paham. Setiap orang menggunakan perspektif dan kriterianya sendiri untuk memandang atau menilai sesuatu. Terkadang, kita harus dapat memahami perspektif orang lain, agar pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan baik.  

Lebih banyak kisah Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.