Budi Pekerti

Belas Kasih Terhadap Diri Sendiri? Untuk Mempertahankan Empati, Mulai Dengan Diri Sendiri

Memeluk diri sendiri (Kredit: Ila Bonczek via Vision Times)
Memeluk diri sendiri (Kredit: Ila Bonczek via Vision Times)

Kebijakan dan praktek spiritual kuno dari setiap kebudayaan menganjurkan belas kasih, atau ekspresi empati terhadap orang lain terhadap penderitaan mereka; tetapi bagi sebagian dari kita, belas kasih tampaknya tidak datang secara alami.

Entah itu akibat pengabaian masa kanak-kanak, kekerasan dalam rumah tangga, atau peristiwa memilukan lainnya, banyak orang sudah mengabaikannya.

Dengan mengembangkan belas kasih terhadap diri sendiri, kita dapat secara bertahap memulihkan kedamaian dan kesejahteraan didalam hati kita sendiri, dan membukanya untuk merasakan orang lain, sehingga membawa makna dan tujuan yang mendalam bagi hidup kita.

Komponen kunci dari belas kasih terhadap diri sendiri adalah menjinakkan kritik didalam untuk mengakui bahwa kita adalah berguna dan berharga, walaupun kita memenuhi harapan kita sendiri atau tidak.

Mungkin ada banyak keragu-raguan seseorang untuk menerima diri sendiri “apa adanya”, tetapi dengan beberapa latihan yang gigih dalam niat baik, kita dapat memprogram ulang pemikiran kita untuk memungkinkan cinta kasih tanpa syarat bagi kita sendiri.

Penghalang Umum untuk Belas Kasih terhadap Diri Sendiri

Sejumlah emosi negatif bisa cukup kuat untuk menurunkan rasa sayang terhadap diri sendiri. Rasa bersalah, kemarahan, frustrasi, dan kebencian dapat dengan cepat merusak pikiran positif kita jika kita tidak tahu bagaimana mengendalikannya.

Mempraktikkan menjaga kesadaran atas emosi, pikiran dan pengalaman dapat membantu kita mengenali dan mengakui emosi-emosi ini tanpa dikendalikan olehnya.

Seseorang yang merasa bersalah atau menyesal dari masa lalu mungkin sangat takut untuk bertindak, karena takut melakukan kesalahan. Belajar untuk memisahkan masa lalu dari masa kini dan menerima bahwa setiap orang membuat kesalahan adalah bagian penting dari bergerak menuju hati yang welas asih dan kebebasan untuk menjalani hari esok yang baru.

Demikian juga kemarahan, berakar dimasa lalu. Seseorang mungkin telah mengalami kekecewaan pada orang lain atau merasakan ketidakadilan hidup yang akut, tetapi amarah tidak membawa dampak positif bagi tubuh atau jiwa. Alih-alih membiarkan kemarahan menggerogoti hati, perasaan itu bisa diubah menjadi kendaraan untuk perubahan.

Frustrasi sering kali datang dari perasaan bahwa seseorang tidak mampu mencapai sesuatu yang seharusnya bisa mereka lakukan. Penghakiman ini keras dan tidak adil. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Belajar menerima bahwa beberapa hal akan menjadi tantangan dan mengembangkan kesabaran untuk mengatasi kesulitan adalah alat yang berharga di jalan menuju belas kasih terhadap diri sendiri.

Kesedihan, yang disebabkan oleh kehilangan besar atau keputusasaan, dapat melumpuhkan. Belajar mengamati perasaan ini tanpa terpuruk didalamnya adalah langkah penting untuk melepaskan diri anda darinya. Meskipun kita tidak dapat mengontrol emosi, kita dapat mengontrol bagaimana kita bereaksi terhadapnya. Dengan menerima dan melepaskan, kita dapat melangkah maju.

Menjinakkan Kritik Batin

Salah satu atau semua emosi ini dapat menyebabkan seseorang menjadi terlalu kritis terhadap diri sendiri. Kritikan yang keras jarang memberikan efek yang baik dan seringkali mendukung sikap negatif yang ada. Menempatkan kritik batin anda ditempatnya sangat penting untuk belas kasih terhadap diri sendiri.

 “Orang-orang berkembang dengan penguatan positif. Mereka hanya dapat menerima sejumlah kritik tertentu dan anda mungkin kehilangan mereka sama sekali jika anda mengkritik pribadi mereka. Anda dapat menyampaikan maksud tanpa menyentuh pribadi. Jangan menghina atau meremehkan orang-orang anda, karena alih-alih mendapatkan lebih banyak dari mereka, anda akan mendapatkan lebih sedikit”—(Bill Walsh, pelatih sepak bola)

Ingatlah bahwa tidak ada dari kita yang sempurna. Faktanya, setiap orang memiliki beberapa kekurangan utama. Jika kita semua hanya melihat kekurangan satu sama lain, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Lepaskan gagasan bahwa “tidak sempurna itu tidak cukup baik”. Keyakinan tradisional menyatakan bahwa kita datang ke dunia manusia untuk berkultivasi ke atas ditengah delusi. Jika kita sudah sempurna kita tidak akan termasuk dalam alam manusia.

Kita semua memiliki suara batin yang terus-menerus mengoceh. Suara itu bisa mendukung atau mengecilkan hati, baik atau kejam, membuat semua perbedaan di dunia.

Dengan menumbuhkan rasa penerimaan diri, kita dapat mengakhiri pelecehan verbal dan psikologis kita sendiri yang mencegah kita berkembang. Jika tidak, persepsi negatif kita bisa menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya.

Membersihkan jalan untuk belas kasih terhadap diri sendiri

Dengan mengubah cara anda memproses emosi, anda dapat mengalaminya tanpa dikendalikan olehnya. Ada sejumlah pendekatan yang dapat anda gunakan untuk mengubah cara berpikir anda.

Jadilah teman terbaik anda sendiri

Jika anda ditakdirkan untuk menghabiskan seluruh hidup anda bersama satu orang, tidakkah anda akan mencoba untuk tetap berhubungan baik? Perlakukan diri anda sebagai seseorang yang bergantung pada dukungan dan persahabatan anda, dengan pengertian dan kesabaran.

Tulislah surat yang penuh dengan kebaikan untuk diri anda sendiri. Pegang tangan anda sendiri untuk mendapatkan dukungan, atau peluk diri sendiri jika anda membutuhkannya.

Katakan pada diri sendiri: “Itu wajar dan baik untuk bersikap baik pada diri sendiri. Saya layak dan pantas mendapatkan kasih sayang dan empati”.

Maafkan dirimu

Tidak perlu menghukum diri sendiri atas kesalahan anda. Bersabarlah dan pemaaf seperti anda terhadap seorang anak, karena kita semua terus-menerus dalam proses belajar.

Ingatlah bahwa tidak ada orang yang sempurna, dan bahwa membuat kesalahan adalah bagian alami dan dapat diterima dari kehidupan, yang dengan melaluinya kita belajar dan tumbuh.

Kenali apa yang bisa anda lakukan dengan lebih baik dan bersiaplah untuk menerapkannya dilain waktu. Kemudian lanjutkan. Beri diri anda kebebasan untuk merasakan kegembiraan lagi.

Katakan pada diri sendiri: “Saya memaafkan diri sendiri karena saya manusia dan tidak ada yang sempurna. Saya melepaskan penyesalan dan menerima tantangan di depan tanpa takut gagal”.

Pertahankan mindset yang berkembang

Hadapi kesulitan sebagai tantangan, bukan hambatan yang membuat frustrasi. Dengan menerima tantangan, kita dapat menemukan peluang dan makna didalamnya daripada menyerah dan merasa kalah.

Jangan membandingkan dan mengkritik diri sendiri dengan orang lain yang mungkin menangani tugas dengan lebih mudah. Alih-alih, lihatlah mereka untuk mendapatkan inspirasi dan lihat bagaimana anda dapat mengembangkan kekuatan seperti milik mereka untuk diri anda sendiri.

Katakan pada diri sendiri: “Setiap kesalahan adalah kesempatan untuk tumbuh dan belajar. Saya tidak akan membiarkan mereka mengecilkan hati saya”.

Latih menjaga kesadaran atas emosi, pikiran dan pengalaman

Menjaga kesadaran atas emosi, pikiran dan pengalaman adalah keadaan aktif yang mengharuskan anda hidup pada saat ini dan memperhatikan, alih-alih menghindari, reaksi emosional anda terhadap apa yang terjadi.

Akui emosi-emosi itu tanpa terlalu terlibat. Begitu kita dapat mengenali emosi kita dan menerima bahwa emosi itu mungkin mengungkapkan perasaan kita, tetapi tidak mendefinisikan siapa diri kita, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk keluar dari kendali mereka.

Sebagai tanggapan atas pengakuan penuh kesadaran atas perasaan anda, bersikaplah lembut dan baik pada diri sendiri, daripada menyangkal atau menghakimi emosi anda.

Biarkan emosi anda keluar dengan cara yang sehat, seperti menangis, berbicara dengan teman, atau menulis surat ekspresif kepada diri sendiri atau seseorang yang ingin anda ajak berkomunikasi, meskipun anda tidak pernah mengirimkannya. Menempatkan perasaan anda diatas kertas dapat memiliki efek pelepasan yang luar biasa.

Cobalah berwawasan luas untuk membayangkan perasaan orang lain, terutama dalam konflik. Ini dapat sangat mengurangi intensitas emosi anda sendiri.

Ambil bagian dalam kemanusiaan yang sama
Ingatlah bahwa kita adalah individu dalam komunitas yang luas. Hidup kita tidak terpisah atau terisolasi dari orang lain. Perasaan kesepian, kesedihan, kepahitan, dan keputusasaan bersifat universal.

Ketika kita menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam perasaan ini, perasaan itu menjadi bahan pengikat dan bukan alasan untuk menarik diri dari masyarakat untuk merenungkannya.

Menjangkau orang lain untuk membicarakan perasaan kita membangun rasa keterhubungan, membantu kita melihat sesuatu dari perspektif lain yang lebih besar, dan mendorong terbangunnya jaringan pendukung yang berharga.

Katakan pada diri sendiri: “Saya bukan orang pertama atau terakhir yang merasa seperti ini. Banyak orang lain pernah merasakan hal ini sebelumnya. Sulit untuk menanggung sendiri tetapi sharing dapat membuatnya lebih mudah”.

Pertahankan perspektif yang tepat

Anda tidak perlu penilaian dari luar. Jangan biarkan harga diri anda bergantung pada bagaimana orang lain memandang anda, atau lebih buruk lagi, bagaimana anda berpikir orang lain memandang anda.

Tekanan sosial untuk melihat atau berperilaku dengan cara tertentu dapat menyebabkan citra diri yang negatif, kemarahan, dan frustrasi. Latih kemandirian untuk memisahkan diri anda dari harapan dan jebakan orang lain tersebut.

Katakan pada diri sendiri: “Saya menerima siapa saya, dengan segala kesalahan dan kelemahan saya. Saya tidak terikat oleh penilaian orang lain”.

Tumbuhkan Sikap Bersyukur

Daripada merasa putus asa tentang apa yang tidak benar dalam hidup anda, anda dapat menghitung hal-hal baik, atau “menghitung berkat anda”, seperti kata pepatah.

Pergeseran fokus ini dapat membantu seseorang memandang dunia sebagai teman, bukan musuh, dan memungkinkan keindahan dan kedamaian memasuki kehidupan kita.

Rasa syukur dapat diungkapkan dalam jurnal harian, dirasakan dalam hati saat berjalan-jalan di alam, ditulis dalam kartu atau surat kepada teman, atau diam-diam diamati dalam pikiran.

Catat momen-momen positif yang terjadi sepanjang hari, lalu ingat dan bagikan untuk membuatnya tetap hidup.

Katakan pada diri sendiri: Saya bersyukur atas semua kekuatan saya dan untuk setiap kesempatan yang diberikan kehidupan kepada saya untuk tumbuh dan berkembang.

Belas kasih pada diri sendiri adalah perjalanan yang mungkin membawa anda melalui beberapa emosi yang gelap dan tidak nyaman. Kunci untuk bergerak maju adalah menjadi sadar dan rasional tentang perasaan anda tanpa terbenam padanya.

Perlakukan diri anda sebagai teman, dan pelihara kebaikan dengan menerima bahwa anda tidak sempurna dan melepaskan penyesalan yang dalam.

Dengan mengenali nilai anda sendiri di tengah kesulitan, anda akan segera melihat bahwa kita semua menghadapi perjuangan yang sama, dan empati secara alami akan muncul.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI