- Pilihlah bidang yang Anda kuasai
Psikologis Sherlock Weir menyatakan, “Tatkala Anda tak kuasa menyetop membandingkan, cobalah mengenang suasana masa lalu ketika berjaya di dalam bidang lain dan dengan pengalaman sukses tersebut untuk meredakan rasa iri hati.”
Ardilles, seorang penulis tersohor pernah mencatat dengan detail di dalam buku larisnya yang berjudul: “Kehidupan Paruh Baya-ku” bahwa ia dalam jangka waktu lama juga terbenam di dalam kegelisahan akibat rasa iri hati. Dan ia sarankan kepada pembacanya ialah, “Carilah sendiri tolok ukur kesuksesanmu”.
Cari keistimewaan diri sendiri, dengan sendirinya kepercayaan diri juga meningkat. Temukan wilayah dimana Anda bisa unggul, terkadang membutuhkan terus menerus bereksperimen dengan kesalahan. Jika bisa menemukan bakat diri sendiri, dan pada tempat yang tepat dapat mengembangkannya hingga maksimum, maka boleh dibilang Anda adalah jenius dalam berpikir positif !
2. Ubah kelompok
Pakar ekonomi, Robert Frank berpendapat, “Jika telah bosan menjadi orang termiskin di wilayah ini, maka pindahlah ke wilayah yang agak sederhana!”
Meski tidak mudah untuk segera pindah pekerjaan atau mencari rumah, Anda bisa saja mencari beberapa lingkungan komunitas kecil, menemukan diantaranya kelompok pergaulan yang tidak memandang rendah pada diri Anda, namun tentunya harus merupakan kelompok masyarakat yang positif.
3. Lebih baik sebagai kepala ayam daripada sebagai ekor sapi
Sebagai seorang sarjana hukum berpengalaman, terdapat 2 pilihan, satu ialah menjadi pengacara di desa, ataukah terus menjadi salah seorang staf di sebuah biro konsultan pengacara di kota besar, maka Anda akan memilih kehidupan yang mana?
Apakah Anda menjadi ujung tombak penyerang di klub sepak bola biasa? Ataukah hanya sebagai pemain cadangan di klub sepak bola tersohor ?
Tak dapat dipungkiri, banyak orang seringkali di dalam lingkungan kecil lebih bisa berkembang.
Robert Frank memberi contoh seorang temannya yang meski prestasinya saat remaja tidak menonjol, nilainya tidak mampu membawanya masuk ke SMA favorit, terpaksa beralih ke sekolah yang biasa-biasa saja.
Tak dinyana di sekolah ini ia malah bagaikan ikan yang memperoleh air, akhirnya ia diterima di sebuah Perguruan Tinggi negri yang diidamkan. Sesudah menjauhi lingkungan besar, apabila bisa dengan cara inovatif mengembangkan jalan keluar sendiri yang unik, sejak saat itu nasib seumur hidup mungkin sudah bisa diubah.
4. Semakin hilang seiring bertambahnya usia
Mengenal poin ini sangat penting, ia juga adalah pedoman orang-orang untuk menekan iri hati. Survey membuktikan, kebiasaan membandingkan, akan berangsur berkurang seiring dengan pertambahan usia.
“Sewaktu saya masih muda, saya sangat iri hati pada teman-teman wanita saya, baik dari segi kecantikannya, kekayaannya, pencapaiannya, keluarganya, prestasi anak-anaknya, dan lain-lainnya,” ujar Sarah, salah seorang responden. Namun ketika berusia 60 tahun, persahabatannya dengan teman-temannya itu semakin lama bagaikan saudara kandung. Ketika wanita telah melampaui masa kematangannya yang penuh energi, kecenderungan iri hati akan semakin surut.
5. Menciptakan rasa aman sejati
”Soroton mata Anda seyogyanya dialihkan dari orang lain, taruhlah alat pendeteksi itu pada hati Anda dan periksalah dengan teliti, carilah benih keiri-hatian di dalamnya, tatkala rasa iri hendak bergerak, pikirkan dahulu hal apa yang memang betul-betul penting bagi Anda? Perlukah menguras waktu dan pikiran untuk rasa iri hati?
Sebaliknya, apakah yang merupakan target Anda sendiri? Bisa mencapai apakah kemampuan dan sumber daya Anda? Hal ini bisa membantu Anda lepas keluar dari persaingan psikologis, dengan kepala tegak dan langkah tegap melangkah menuju kehidupan milik anda sendiri. Pusatkan pada segenap hati Anda, dengan baik-baik bentuklah perasaan aman yang sejati pada emosi dan pribadi Anda” demikian kata Jennifer James di dalam buku Perjalanan Nurani.
6. Pahami tujuan hidup manusia
Ini adalah pedoman tertinggi menyelesaikan rasa iri hati. Manusia hidup di dunia, memiliki hawa nafsu dan rasa sentimental, semuanya secara naluri ingin hidup dengan lebih baik, bisa hidup dengan lebih terpandang dan terhormat.
Justru karena manusia memiliki angan-angan, dalam hati kecilnya bisa tumbuh rasa sentimental berupa cinta dan benci, ini adalah daya penggerak timbulnya iri hati.
Apabila seorang manusia bisa menyadari, bahwasanya manusia hidup di dunia, tujuannya sesungguhnya bukan demi hidup dengan lebih baik, dengan lebih terpandang dan terhormat, melainkan demi kembali ke jati diri yang asli dan suci, balik ke sifat pokok alami manusia.
Jika bisa mengenali hal ini, maka perolehan dan kehilangan dalam hal materi dan kepuasan terhadap hawa nafsu dan rasa sentimental menjadi tidak begitu penting lagi, maka akan mampu mengurangi hingga menghapus daya gerak timbulnya iri hati.
Tentu saja cara melalui pemahaman kesejatian hidup hingga berhasil mengendalikan iri hati, bukannya dengan mudah dapat dilakukan oleh setiap orang, namun jika Anda benar-benar mau bertekad mengatasi iri hati, maka selain merupakan cara yang efektif, juga merupakan pedoman tertinggi yang bisa menuntaskan masalah iri hati. (epochtimes/lin/chr)
