Budi Pekerti

Dia yang Paling Saya Benci adalah yang Menyelamatkan Saya

Marinir AS (©unsplash)
Marinir AS (©unsplash)

Selama Perang Dunia II, sebuah kamp konsentrasi Jerman menahan hampir 1.000 tawanan perang Inggris, dan Roddick termasuk di antara mereka. Mereka harus menanggung siksaan tidak manusiawi dan kerja berat setiap hari dan diperlakukan bak binatang.

Suatu hari, Nazi mengeluarkan pemberitahuan untuk merekrut pengemudi dari tawanan perang. Hampir tak ada tentara Inggris yang mau melakukan tugas ini karena mereka akan mengangkut sisa-sisa prajurit mereka.

Tak disangka, Roddick berdiri. Sebelum ditangkap, Roddick bertugas sebagai pengemudi di Angkatan Darat Inggris. Dia memberi tahu Nazi bahwa dia akan melakukannya dengan senang hati.

Keinginan Roddick tercapai dan menjadi pengemudi di kamp. Seperti halnya para petugas di kamp, dia menjadi kasar dan kejam. Ia tidak hanya berteriak kepada para tawanan perang, tetapi juga melemparkan mereka ke dalam truk meskipun mereka masih hidup.

Lambat laun, rekan-rekan tentaranya menjadi jijik dan mulai membencinya. Mereka memperingatkan Roddick dengan berbagai cara. Di mata mereka, Roddick 100 persen adalah pengkhianat.

Nazi semakin menyukai Roddick dan dia mendapatkan kepercayaan tinggi di kamp tersebut. Awalnya, tentara Nazi akan mengawal truk yang dikemudikan Roddick, tetapi kemudian, mereka mengizinkannya untuk pergi dan memasuki kamp dengan bebas.

Saat tentara Nazi tidak melihat, para tawanan perang diam-diam menyerang Roddick dan hampir membunuhnya beberapa kali.

Suatu hari di saat hujan, setelah dipukuli tanpa henti oleh para tawanan perang yang ingin membalas dendam, dia tewas menyedihkan di sudut kamp yang lembab.

Enam puluh tahun kemudian, sebuah surat kabar Inggris terkemuka menerbitkan sebuah artikel berjudul: Orang yang Menyelamatkan Saya adalah Orang yang Paling Saya Benci. Sang penulis menulis: “Ada seorang pengkhianat bernama Roddick di kamp konsentrasi yang bersedia bekerja untuk Nazi. Hari itu, saya belum mati ketika saya jatuh sakit, tetapi dia dengan paksa melemparkan saya ke dalam truk dan memberi tahu Nazi bahwa dia akan menguburkan saya.

Namun, yang mengejutkan saya adalah ketika truk sudah setengah jalan menuju tujuannya, Roddick menghentikan kendaraan, menggendong saya, dan menempatkan saya di bawah naungan pohon besar. Meninggalkan saya beberapa potong roti coklat dan sebotol air, dia buru-buru berkata kepada saya: ‘Tolong datang untuk melihat pohon ini jika Anda selamat.’ Lalu, dia pergi dengan terburu-buru…”

Segera setelah menerbitkan cerita pendek ini, surat kabar tersebut menerima 12 telepon satu demi satu. Ke-12 penelepon itu, semuanya adalah veteran Perang Dunia II yang telah menjadi tawanan perang. Mereka berasal dari kamp konsentrasi yang sama di mana Roddick bertugas.

Cerita yang dikisahkan oleh 12 veteran itu hampir sama dengan cerita yang dimuat di surat kabar, mereka semua diloloskan dan ditempatkan di bawah pohon besar oleh Roddick.

Para veteran semua ingat bahwa setiap kali Roddick pergi, dia meminta setiap prajurit untuk datang melihat pohon ini jika mereka selamat. Editor surat kabar tersebut menilai bahwa pohon yang berulang kali disebutkan oleh Roddick ini pasti menyimpan suatu rahasia, maka ia segera mengorganisir para veteran ini untuk mengunjungi kembali hutan tersebut.

Ketika mereka sampai di lokasi, lembah dan pohon raksasa itu tetap sama. Seorang veteran bergegas memeluk pohon itu dengan tangan terentang. Sambil menangis, dia menemukan kotak besi berkarat di dalam lubang di pohon. Membuka kotak itu, mereka menemukan buku harian compang-camping dan banyak foto yang menguning dan berjamur.

Mereka membuka buku harian itu dengan hati-hati dan membaca: “Hari ini saya menyelamatkan sesama prajurit. Dia yang ke-28. Saya berharap dia bisa bertahan. Hari ini, 20 tentara lainnya tewas. Tadi malam, rekan-rekan tentara memukuli saya lagi. Tapi saya harus teguh dan tidak pernah mengatakan yang sebenarnya. Dengan cara ini, saya bisa menyelamatkan lebih banyak orang. Teman-teman terkasih, saya hanya punya satu harapan: jika Anda selamat, silakan datang untuk melihat pohon ini.”

Editor itu terdiam sejenak oleh emosi, dan mata para veteran sudah berurai air mata. Tak ada dari mereka yang tahu. Mereka menyadari bahwa Roddick telah menyelamatkan 36 tawanan perang Inggris. (Joseph Wu/eva/visiontimes)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI