Budi Pekerti

Dizi Gui: Permata dari Orang Bajik

Ibu Mencius Merobek Kain yang Sedang Ditenunnya.

Dalam topik kali ini kami akan melanjutkan pembahasan bab 6 dari Dizi Gui*, “Dekatilah dan belajarlah dari orang bajik dan berbudi luhur”.

Meskipun ini adalah bab yang pendek, namun bab ini memberikan pelajaran berharga tentang belajar dari sosok teladan.

Ketika kita berkawan dengan orang-orang yang bermoral baik, kita memiliki gambaran yang lebih baik tentang standar yang juga harus kita capai..”

Salah satu pelajaran dalam bab ini berbunyi, “Jika saya bisa dekat dan belajar dari orang-orang bajik dan berbudi luhur, saya akan mendapat manfaat tak terhingga. Kebajikan saya akan meningkat dari hari ke hari dan kesalahan saya akan berkurang pula.”

Mencius yang agung adalah seorang filsuf Tiongkok dari abad ke-4 SM dan mungkin merupakan pengikut Konfusius paling terkenal kedua setelah Konfusius sendiri. Tetapi perjalanannya untuk menjadi salah satu filsuf terhebat Tiongkok dimulai dari usia tiga tahun berkat kebijakan orang yang sangat penting dalam hidupnya.

Kisah Ibu Mencius

Standar moral tinggi Mencius sering disebut berkat ibunya, Zhang Shi, sosok wanita teladan. Setelah ayah Mencius meninggal saat dia berusia tiga tahun, ibu Mencius membesarkannya dan berupaya segala daya upaya untuk memberinya pendidikan yang baik.

Kisah paling terkenal adalah Zhang mengajak putranya pindah rumah tiga kali demi menemukan lingkungan yang sesuai untuk membesarkan putranya.

Keluarga itu awalnya tinggal di dekat kuburan dan prosesi pemakaman sering melewati pintu depan mereka.

Segera, Zhang mendapati putranya meniru ratapan pelayat yang mengunjungi pemakaman. Merasa bahwa ini tidak pantas untuk ditiru oleh anak yang masih lugu, dia pindah ke daerah dekat pasar.

Di rumah kedua mereka, Mencius mulai meniru teriakan, saling mendorong dan kelakar para pedagang. Lagi-lagi, Zhang merasa bahwa ini bukan perilaku yang pantas ditiru oleh putranya, jadi dia pindah ke dekat sekolah.

Di sana, putranya mengamati bagaimana para siswa membungkukkan badan satu sama lain dan ke guru-guru mereka serta bagaimana mereka mengutamakan orang lain, dan rajin menuntut ilmu. Dia juga mulai meniru perilaku mereka. “Sekarang di sinilah tempat anakku layak tumbuh dewasa,” Zhang memutuskan.

Zhang menenun kain untuk membiayai sekolah putranya dan membuat satu gulungan kain bisa memakan waktu berminggu-minggu. Tetapi sebagai seorang anak, Mencius bukanlah siswa yang selalu patuh dan suatu kali dia pernah bolos sekolah.

Ketika dia sampai di rumah setelah bolos sekolah, ibunya merobek kain yang sedang dia tenun di alat tenunnya. Dia berkata, “Putraku, belajar itu bagai menenun setiap helai benang menjadi selembar kain. Diperlukan ketekunan dan konsistensi untuk mencapai tujuan.

“Jika kamu berleha-leha atau malas berusaha sebelum kamu bisa menyelesaikannya, semua upayamu di masa lalu akan sia-sia, seperti kain yang sobek ini.”

Mencius menangis ketika dia melihat semua upaya ibunya sia-sia, tetapi dia mengerti pelajaran yang dia coba ajarkan padanya. Dia bersungguh-sungguh belajar dengan rajin dan akhirnya menjadi salah satu filsuf Tiongkok yang paling terkenal.

Mencius sangat beruntung memiliki ibu yang bijaksana yang mengajarkannya nilai-nilai kebenaran sejak usia sangat muda. Berkat dekat dengan orang yang berbudi luhur, dia sendiri juga akhirnya menjadi orang yang bermoral tinggi.

Yu Fu Menjual Cat

Tetapi apa yang terjadi jika kita memilih melakukan hal yang sebaliknya?

Seperti yang dikemukakan oleh Dizi Gui, “Jika saya memilih tidak dekat dan belajar dari orang-orang yang berbudi luhur, saya akan menderita kerugian besar. Orang berakhlak buruk akan mendekati saya dan apapun yang saya coba lakukan tidak akan berhasil.”

Selama Periode Musim Semi dan Musim Gugur, ada seorang pria bernama Yu Fu yang lelah menjadi orang miskin. Melihat betapa temannya adalah pedagang kaya, ia juga ingin menjadi kaya.

Yu Fu berkonsultasi dengan seorang teman pedagang, yang menyarankan dia memasuki bisnis cat. “Saat ini cat sedang diminati. Mengapa kamu tidak menanam beberapa pohon sumac? Kemudian kamu bisa memanen getah dan membuat cat untuk dijual.” (Catatan: di Tiongkok kuno, getah pohon sumac digunakan untuk membuat cat pernis.)

Yu Fu pulang dengan penuh semangat dan berhasil menanam satu lahan besar pohon sumac.

Setelah tiga tahun, pohon-pohon sumac akhirnya siap dipanen. Ketika Yu Fu sedang memanen getah dan menyiapkan cat untuk dijual, saudara iparnya datang berkunjung. Dia berkata kepada Yu Fu, “Saya sering pergi ke negara Wu untuk berdagang, di sana cat sangat diminati. Jika kita memainkan kartu kita dengan benar, kita dapat menggandakan keuntungan kita!”

Bersemangat untuk menghasilkan uang dengan cepat dan mudah, Yu Fu segera mendesak kakak iparnya untuk bercerita lebih banyak.

Adik iparnya menjawab, “Saya melihat banyak pedagang cat mencairkan cat mereka dengan air rebusan daun sumac. Dengan cara ini, kamu dapat menggandakan isi cat yang kamu jual tanpa diketahui orang-orang Wu.”

Tergiur dengan ide licik itu, malam itu, dia mengumpulkan banyak daun sumac dan merebusnya kemudian membawa air rebusan dan cat ke Negara Wu.

Pada waktu itu, cat sangat tidak mudah ditemukan di Wu. Jadi ketika para pedagang di Wu mendengar bahwa Yu Fu menjual cat, mereka menyambutnya dengan sangat gembira bahkan mengatur makanan dan penginapannya.

Setelah mereka melihat cat Yu Fu benar-benar berkualitas baik, mereka dengan senang hati menyetujui harga dan menyegel wadahnya. Mereka setuju untuk melakukan pembayaran pada hari berikutnya dan menukarnya dengan barang.

Tetapi ketika para pedagang telah pergi, Yu Fu membuka segel. Dia mengeluarkan setengah dari cat yang bagus dari setiap wadah dan mengisi kekurangannya dengan air rebusan.

Keesokan harinya, para pedagang menemukan segel telah dirusak dan mereka menjadi curiga. Karena itu mereka membuat alasan dan mengusulkan untuk membelinya beberapa hari kemudian.

Yu Fu menunggu beberapa hari di penginapan tetapi tidak ada seorang pedagang pun yang datang. Seiring berjalannya waktu, cat campurannya menjadi rusak dan ia gagal menjual satu tetes pun dari catnya. Tidak punya uang untuk pulang, Yu Fu menjadi pengemis dan akhirnya meninggal dalam keadaan miskin dan jauh dari kampung halaman.

Orang-orang yang kita pilih untuk berteman dan berinteraksi dapat memiliki dampak signifikan pada kehidupan kita. Yu Fu memilih untuk belajar dari saudara iparnya yang berakhlak buruk, sehingga akhirnya membuatnya membayar mahal dan menjadikan kerja kerasnya bertahun-tahun tidak berarti.

Ini adalah pelajaran yang masih berlaku sampai hari ini — pengusaha yang belajar menjadi orang yang berbudi luhur dan menjalankan bisnis dengan jujur ​​akan menarik pelanggan yang banyak dan loyal, sehingga menghasilkan keuntungan yang lebih besar. (Jade Pearce/pureinsight/sia/eva)

*Dizi Gui ( 弟子 规 ) Standar untuk Menjadi Siswa dan Anak yang Baik) adalah teks Tiongkok kuno untuk anak-anak yang mengajarkan nilai-nilai moral dan etika. Teks itu ditulis oleh Li Yuxiu di era Dinasti Qing pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi (1661-1722).