Budi Pekerti

Haiqing, Anak Desa yang Tak Tahu Berterima kasih

Pada tahun 2002, aktris Sun Li mulai mendanai seorang anak laki-laki miskin bernama Xiang Haiqing dari sebuah desa pegunungan terpencil. Namun, perbuatan baik tersebut kemudian berubah menjadi bumerang baginya. Xiang Haiqing tidak hanya berbalik melawan dermawannya, tapi dia bahkan mengancam akan “menghancurkan” dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? Mengapa sebuah ikatan kebaikan berubah menjadi kebencian? Dan sekarang, lebih dari dua dekade kemudian, kehidupan seperti apa yang dijalani Xiang Haiqing?

Pada tahun 2002, ketika Sun Li sedang membuat film Jade Goddess of Mercy, ia adalah seorang aktris pemula, dengan bayaran kecil. Pada saat itu, ia melihat sebuah film dokumenter TV yang menampilkan seorang anak sekolah menengah bernama Xiang Haiqing dari pegunungan Chongqing. Dia diperlihatkan berjalan ke sekolah dengan pakaian yang sudah usang dan ditambal. Sun menghubungi tim program tanpa ragu-ragu dan menawarkan diri untuk mendanai anak itu.

Sun Li berasal dari latar belakang yang sederhana. Dibesarkan oleh seorang ibu tunggal, ia pernah tinggal di ruang bawah tanah dan tidak mampu membayar ongkos bus untuk sekolah. Mungkin pengalaman inilah yang menggugah belas kasihnya. Dia mengirim Xiang Haiqing 500 yuan per bulan dari penghasilannya yang terbatas untuk menutupi biaya hidup – jumlah yang dapat memberi makan seorang anak di pegunungan selama tiga bulan, ketika gaji rata-rata di Beijing hanya sekitar 2.000 yuan.

Selain uang, ia juga secara konsisten menulis surat dengan tulisan tangan kepadanya. Seperti seorang kakak perempuan yang benar-benar peduli, dia menawarkan tips belajar dan saran tentang cara bergaul dengan teman-teman sekelasnya di kota. Pada tahun 2005, setelah mengulang dua tahun, Xiang Haiqing akhirnya diterima di Shanghai Ocean University. Sun Li secara pribadi mengantarnya untuk mendaftar kuliah. Di stasiun kereta api, anak laki-laki dari gunung ini menemukan untuk pertama kalinya bahwa “Kakak Sun”-nya adalah seorang aktris terkenal.

Xiang Haiqing menjadi kacang yang lupa kulitnya

Sejak saat itu, banyak hal mulai berubah. Xiang Haiqing menyadari bahwa teman sekamarnya menggunakan ponsel Nokia terbaru, tetapi dia hanya memiliki ponsel seperti pager bekas. Teman-teman sekelasnya memakai Nike dan Adidas, sementara dia masih memakai sepatu kanvas yang dikirim Sun Li. Dia mulai sering menelepon asisten Sun Li, tidak selalu untuk keperluan penting. Kadang-kadang untuk “buku referensi”, di lain waktu untuk “kelas tambahan”. Permintaan uangnya meningkat dari sebulan sekali menjadi lima atau enam kali dalam sebulan.

Yang paling berlebihan adalah ketika dia meminta 800 yuan dan menggunakannya untuk membeli sepasang sepatu kets edisi terbatas, yang dengan bangga dia pamerkan di asrama. Asisten Sun Li merasakan ada yang tidak beres dan mengirim seseorang ke universitas untuk menyelidikinya. Mereka menemukan bahwa Xiang Haiqing bukan lagi mahasiswa miskin yang sedang berjuang dalam film dokumenter tersebut. Dia menerima beasiswa tahunan dari pemerintah sebesar 6.000 yuan dan mendapatkan penghasilan tambahan sebagai guru les privat; namun, dia menghabiskan sebagian besar uangnya untuk bersosialisasi dan menjaga penampilan.

Sun Li membuat keputusan sulit untuk berhenti mendukungnya. Apa yang terjadi selanjutnya sungguh tak terduga. Xiang Haiqing menulis surat terbuka sepanjang 6.000 kata dan mempostingnya di sebuah forum internet publik. Secara tersirat, dia menyindir bahwa selebriti itu tidak berperasaan dan menggambarkan dirinya sebagai siswa yang ditinggalkan dan miskin. Postingan tersebut menjadi viral pada tahun 2006. Sun Li dikritik habis-habisan di dunia maya, dan pada puncaknya, ia menerima ratusan hujatan kebencian setiap hari. Dia bahkan kehilangan beberapa kontrak pekerjaan. Ia dan ibunya menderita insomnia.

Seorang jurnalis melakukan penyamaran di Shanghai Ocean University dan menemukan kebiasaan belanja Xiang Haiqing: lebih dari 300 yuan per bulan untuk tagihan telepon, sering makan di restoran, dan bahkan membawa pacarnya ke Hangzhou untuk berlibur. Teman-teman sekelasnya mengungkapkan bahwa Xiang Haiqing sering membual: “Kakak saya adalah Sun Li,” dan menggunakan ketenarannya untuk mendapatkan pengaruh di serikat mahasiswa. Di bawah tekanan publik yang meningkat, Xiang Haiqing menjadi sasaran kritik yang meluas. Wartawan terus berdatangan ke kampus untuk wawancara, dan karena kewalahan, dia akhirnya mengambil cuti setahun dari sekolah.

Setelah lulus pada tahun 2009, Xiang Haiqing berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan. Reputasi masa lalunya mengikutinya, dan Shanghai tidak lagi menyambutnya. Akhirnya, dia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halamannya. Saat ini, dia dilaporkan bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan kecil, dengan penghasilan yang pas-pasan. Lebih tragis lagi, karena skandal tersebut, nama “Xiang Haiqing” menjadi identik dengan istilah “serigala yang tidak tahu berterima kasih”.

Dalam wawancara selanjutnya, Sun Li mengakui bahwa dia sangat marah hingga tidak bisa tidur selama tiga hari. Namun pada akhirnya, dia menyadari: “Membantu orang lain harus dilakukan dengan bijaksana.” Saat ini, ia hanya menyumbang melalui yayasan resmi, tidak pernah melalui transfer pribadi.

Refleksi akhir

Terkadang, mereka yang hanya tahu bagaimana cara menerima mungkin tidak pantas mendapatkan simpati kita. Hanya mereka yang memahami nilai rasa terima kasih yang benar-benar layak menerima kebaikan orang lain. Seperti kata pepatah: “Menolong orang lain adalah sebuah tindakan kasih karunia, bukan kewajiban.” Ditolong adalah sebuah anugerah – namun kita harus membawa hati yang penuh rasa syukur, dan jangan pernah menganggap remeh niat baik.