Budi Pekerti

Hal yang Harus Dilakukan Seorang Teman

©unsplash

Jack melemparkan proposal ke atas meja kerjaku. Disaat ia memelototkan matanya ke arahku, kedua alisnya membentang menjadi segaris.

“Ada apa?” tanyaku.

Ia menggunakan jari telunjuknya menunjuk proposal itu. “Lain kali jika kamu ingin melakukan perubahan, harus tanyakan dulu pada saya.” Selesai bicara ia segera membalikkan badan dan pergi begitu saja, meninggalkanku yang mendongkol sendiri.

Saya berpikir, berani–beraninya ia memperlakukanku demikian. Saya hanya mengubah satu kalimat panjang, membenahi tata bahasa yang salah – hal inilah yang saya pikir merupakan tanggung jawabku untuk mengerjakannya.

Bukan tidak ada orang yang memperingatkanku bakal terjadi hal seperti ini. Pendahuluku, para sekretaris yang pernah bekerja di posisi saya sekarang ini, semuanya memberikan berbagai julukan bagi Jack yang tak mampu saya ulangi satu persatu.

Ketika hari pertama saya bekerja di kantor ini, ada seorang rekan menarik saya ke samping, dengan lirih ia berkata padaku, “Dialah orang yang harus bertanggung jawab atas berhentinya dua orang sekretaris yang dulu bekerja di perusahaan ini.”

Beberapa minggu telah berlalu, saya semakin lama semakin memandang rendah pada Jack. Ia bisa dengan cepat melontarkan kata-kata hinaan bagi orang yang sedang berhadapan dengannya.

Suatu hari, setelah ia kembali melakukan hal yang mempermalukan saya, diam-diam saya mengucurkan air mata, dengan perasaan yang tak terbendung lagi saya menerjang masuk ke dalam ruangannya bagaikan badai.

Saya sudah pasrah jika memang hal buruk terjadi, saya akan berhenti dari pekerjaan ini. Tetapi sebelumnya saya harus dapat membuat pria ini mengerti akan pikiran saya.

Pintu saya dorong hingga terbuka, Jack mengangkat kepalanya dan memandang ke arah saya.

“Ada masalah apa?” tanya Jack dengan nada kaku.

Saya mendadak mengerti apa yang harus saya lakukan. Bagaimanapun juga ia harus mengetahui akar permasalahannya.

Saya duduk di kursi yang berada di depannya, “Jack, sikapmu dalam menghadapi saya selama ini telah keliru. Selama ini tak pernah ada orang yang menggunakan sikap demikian untuk berkomunikasi denganku. Sebagai seorang profesional, sikapmu adalah suatu kesalahan, dan apabila saya membiarkan kesalahan itu terus menerus terjadi dan menimpa orang lain, maka saya juga akan bersalah.”

Dengan nada agak gelisah dan kaku, Jack melontarkan senyuman, bersamaan dengan itu badannya digerakkan ke belakang bersandar di kursinya. Saya memejamkan mata selama satu detik, di dalam hati saya diam – diam berkata, “Tuhan, lindungilah hamba-Mu.”

Lalu saya berkata lagi, “Saya ingin berjanji, saya akan menjadi seorang teman bagimu. Saya akan menggunakan sikap menghargai dan bersahabat dalam memperlakukanmu, karena hal ini merupakan perlakuan yang harus kamu terima, dan semua orang sudah seharusnya mendapatkan perlakuan yang sama.”

Selesai berkata perlahan – lahan saya berdiri dari kursi, lalu berjalan ke pintu sambil menutupnya dengan perlahan.

Sejak saat itu, Jack selalu menghindar untuk bertatap muka denganku. Proposal, surat keterangan, dan surat-surat lainnya selalu muncul di atas meja saya ketika saya sedang makan siang, dan surat – surat yang sudah saya koreksi semuanya sudah diambil.

Suatu hari, sepulang dari cuti liburan saya membawa oleh-oleh makanan untuk teman-teman kantor, sebagian saya letakkan di atas meja Jack. Keesokan harinya saya meninggalkan secarik kertas di atas meja Jack, di atas kertas saya tuliskan, “Semoga hari ini kamu berbahagia.”

Selanjutnya di dalam beberapa minggu berikutnya, Jack muncul kembali di hadapanku. Sikapnya masih tetap dingin, tapi sudah tidak marah sembarangan lagi. Di dalam ruang istirahat, rekan sejawat memaksaku untuk berbicara.

“Lihatlah pengaruhmu terhadap Jack,” kata mereka, “Pasti kamu telah mengecam dirinya dengan tegas.”

Saya menggeleng-gelengkan kepala, “Jack dan saya sekarang sudah menjadi teman.” Saya berkata dengan tulus bahwa saya menolak untuk membicarakan dirinya lebih lanjut.
Selanjutnya setiap kali jika bertemu Jack di aula, saya selalu melontarkan senyuman kepadanya. Karena hal tersebut adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh seorang teman.

Setahun telah berlalu sejak kami melakukan ‘pembicaraan’ itu.

Pada suatu hari, setelah saya menjalani pemeriksaan kesehatan, ternyata saya dinyatakan positif mengidap kanker payudara.

Ketika itu usia saya baru menginjak 32 tahun, dan telah memiliki 3 orang putra. Saya sungguh sangat ketakutan.

Dengan cepat sel kanker dalam tubuh saya telah beralih ke getah bening. Angka statistik menunjukkan, jika penderita sudah sampai ke fase ini, waktu untuk hidup sudah tidak akan panjang lagi.

Setelah menjalani operasi, saya berbincang-bincang dengan teman – teman yang berusaha keras untuk mencari perkataan sesuai yang menghibur diriku. Namun tak ada seorang pun yang tahu harus mengatakan apa, banyak dari mereka hanya mengeluarkan kata – kata yang tidak karuan, bahkan sebagian tidak tahan lalu menangis.

Hari terakhir di rumah sakit, di depan pintu muncul sesosok bayangan, ternyata itu adalah Jack!

Ia nampak berdiri dengan sedikit canggung. Sambil tersenyum saya melambaikan tangan memanggilnya masuk. Ia berjalan ke samping ranjangku, tidak mengucapkan sepatah kata, hanya meletakkan sebuah bungkusan kecil di pinggir ranjang, di dalamnya berisi akar rimpang sejenis tumbuhan.

“Bunga tulip”, katanya. Saya hanya tersenyum, saat itu saya tidak memahami maksudnya.

Ia menelan ludah dan berkata, “Setelah kamu pulang ke rumah, tanamlah akar ini di pekarangan rumahmu, musim semi tahun depan, tunas barunya akan tumbuh.”

Kakinya digosok–gosokkannya di atas lantai. “Saya hanya ingin kamu tahu, ketika tunas mereka tumbuh, kamu pasti akan dapat melihatnya.”

Di dalam mata saya segera timbul segumpal air mata, saya menjulurkan tangan kepadanya, “Terima kasih, Jack!” Saya ucapkan dengan lirih.

Jack menjawab: “Tidak perlu sungkan. Kamu sekarang masih belum dapat melihatnya, tapi tunggu musim semi tahun depan, kamu pasti akan dapat melihat warna apa sebenarnya yang telah aku pilihkan untukmu.”

Lalu ia membalikkan badan dan pergi meninggalkan kamar pasien itu tanpa mengucapkan sepatah kata selamat tinggal pun. Sekarang, bunga–bunga tulip itu telah bermekaran, warnanya merah muda, dan bisa terlihat setiap tahun pada waktu musim semi. Saya telah melihatnya selama 10 tahun lebih.

September tahun ini, dokter mengatakan bahwa penyakit saya sudah sembuh total. Saya juga telah melihat anak- anak beranjak dewasa dan lulus dari sekolah menengah, memasuki universitas.

Ketika saya sangat mengharapkan untuk dapat mendengarkan kata-kata yang memberi semangat, seorang pria pendiam dan kaku telah mengatakan semua itu. Bagaimana pun juga, itu adalah hal yang harus dilakukan oleh seorang teman. (Mingxin.net/lin)