Budi Pekerti

Hidup Enak VS Hidup Kerja Keras

Memahat©freepik
Memahat©freepik

Ada perkataan di dalam Kitab Tiga Karakter: “Batu Giok tidak akan menjadi giok bernilai jika belum dipotong atau diasah.” Untuk potong saja adalah sebuah proses yang melelahkan. Maka dari itu, setelah melalui usaha dan kesabaran yang lama, ia akhirnya menjadi sesuatu yang berharga. Menurut legenda, di zaman dahulu, ada sebuah kuil besar dibangun di sebuah kota. Kuil itu memerlukan sebuah patung Buddha. Seorang seniman giok terkenal dipanggil untuk memahat patung Buddha untuk kuil itu.

Sang pemahat giok pergi ke pegunungan untuk memilih batu. Usaha kerasnya terbayarkan karena berhasil menemukan batu yang sangat bagus. Karena batu tersebut sangat besar, dia membelahnya menjadi dua bagian, dan memilih salah satu bagian secara acak, dan mulai mengerjakannya. Ketika batu itu sedang dipahat, potongan batu itu tidak dapat menahan rasa sakit. Ia berkata kepada pemahat, “Sangat sakit. Bisakah Anda memahat dengan lembut sedikit? Saya telah mengalami angin dan hujan di pegunungan, tetapi belum pernah mengalami rasa sakit seperti ini!”

Pemahat pun menjawab, “Menahan penderitaan adalah sebuah proses dalam kehidupan. Selama kamu bisa bertahan, akan ada kehidupan baru yang cerah. Percayalah pada saya dan teruslah bertahan.” Batu itu berpikir sejenak dan berkata kepada pemahat, “Baiklah, tapi kapan Anda akan selesai memahat saya?” Pemahat meletakkan pisau pahat dan berkata kepada batu, “Saya baru saja mulai mengerjakan. Anda harus terus bertahan selama setidaknya 30 hari. Setelah saya selesai mengerjakan, jika orang-orang tidak puas dengan pekerjaan saya, saya harus mengerjakannya kembali dan memperbaikinya. Tetapi jika orang-orang merasa puas, maka kamu akan menjadi patung Buddha yang agung.”

Potongan batu terdiam sejenak. Di sisi lain, dia berpikir tentang betapa bagusnya dia saat menjadi patung Buddha. Pada sisi lain, ia tidak dapat menahan rasa sakit yang menyayat. Setelah dua jam ia menangis, “Ini sedang membunuh saya! Ini sedang membunuh saya! Tolong hentikan pahatan karena saya benar-benar tidak dapat menahan rasa sakit lagi.”

Pemahat meletakkan batu yang baru dipahat sedikit dan membelahnya menjadi empat keping dan meletakkannya di lantai kuil. Dia lalu memilih setengah dari bongkahan batu yang awalnya dibagi dua tadi dan mulai memahat lagi. Setelah memahat sekian waktu, pemahat dengan perasaan curiga bertanya pada potongan batu ini, “Tidakkah Anda merasa sakit sedikit pun?” Potongan batu yang kedua ini berkata, “Tentu ada rasa sakit selama Anda bekerja keras, tetapi kita tidak akan menyerah dengan mudah.”

Pemahat itu bertanya, “Kenapa kamu tidak meminta saya untuk memahat dengan pelan?” Batu itu menjawab, “Jika saya meminta kamu memahat dengan pelan, maka patung Buddha mungkin tidak terpahat dengan baik, sehingga akan dikembalikan untuk dikerjakan ulang. Jadi lebih baik Anda mengerjakanya dengan sempurna dari awal dan tidak membuang waktu siapapun.” Pemahat sangat terkesan dengan karakter kuat dari batu kedua ini dan senang untuk melanjutkan pekerjaannya. Setelah 30 hari, dia berhasil memahat sebuah patung Buddha yang indah.

Tidak lama setelah itu, sebuah patung Buddha yang khidmat dipersembahkan kepada para umat di kota itu. Patung tersebut ditempatkan di altar, dan orang-orang mengagumi dan memujinya. Kuil itu menjadi semakin terkenal dan menyambut arus deras kunjungan orang-orang setiap hari. Suatu hari, batu pertama, yang dibuat menjadi lemping batu, bertanya kepada patung Buddha, “Mengapa kamu ditempatkan begitu tinggi untuk dipuja, sementara saya harus menahan diinjak-injak oleh ribuan orang setiap hari?” Batu yang menjadi patung Buddha tersenyum dan menjawab, “Sederhana saja. Kamu hanya melewati proses sederhana dan menjadi lemping batu. Saya harus menahan banyak pahatan untuk menjadi patung Buddha.”

Sepanjang sejarah dan dilihat dari kehidupan manusia, situasi ini adalah sama untuk semua hal di dunia ini. Sebenarnya, perbedaan satu-satunya antara memilih untuk bertahan dan mencari kenyamanan adalah pikiran seseorang. Jika seseorang melewatkan sebuah kesempatan, ia mungkin menghadapi penderitaan yang tiada habisnya. Jika seseorang yakin akan janji di masa depan dan menahan ujian kehidupan dengan ketekunan hati, ia akan memiliki masa depan yang cerah. (id.minghui.org)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI