Ada sebuah pepatah: “Jangan menilai buku dari sampulnya,” Penampilan bisa sangat menipu. Kisah berikut adalah tentang seorang wanita muda yang melakukan kesalahan bodoh ini.
Lia baru bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran kelas atas. Pelanggan restoran ini kebanyakan adalah orang kaya dan seringkali bermurah hati dengan tip yang cukup besar, yaitu beberapa puluh ribu rupiah dan hal ini tidak biasa baginya, sehingga dia sangat senang. Lia merasa bangga dengan pekerjaannya di restoran ini, ia senang bergaul dengan orang kaya. Dia berpikir bahwa ada peluang untuk memperbaiki hidupnya.
Suatu hari sepasang suami-istri tua yang terlihat lusuh dengan pakaian agak kumal berjalan masuk ke restoran. Lia memandang sebelah mata pada mereka karena penampilannya yang kusam, mungkin tidak punya banyak uang. Mereka tidak tampak memiliki cukup uang untuk makan, apalagi tip untuknya. Seperti yang dipikirkannya, setelah memilih tempat duduk terbaik, pria tua itu berkata, “Mbak, saya pesan segelas air.”
Li menjawab tanpa senyum: “Kami tidak punya air. Kami hanya menyajikan cofee dan wine kelas atas. Harga makanan disini cukup mahal, jika tidak punya cukup uang, mungkin ini bukan tempat yang cocok untuk kalian, jadi silakan pergi..”
Mereka pergi dan berkata saat keluar: “Jangan memandang rendah pada orang lain, Anda pasti akan menyesalinya suatu hari nanti.”
Keesokan paginya manajer restoran mengumpulkan para stafnya dan mengatakan kepada mereka bahwa Direktur baru akan datang hari ini, memastikan mereka bekerja dengan baik.
Setelah mendengar berita itu, Li memeriksa penampilannya sambil berpikir dalam hati: “Jika saya membuat kesan yang baik, saya yakin akan mendapat promosi!”
Sebuah mobil mewah berhenti di luar. Seorang pria tua memimpin rombongan masuk ke restoran. Semua orang membungkuk dan tersenyum pada kelompok itu dan serempak berseru: “Selamat datang direktur baru!” Pria tua itu mengangguk sebagai tanda terima kasih. Manajer restoran kemudian mempersilahkan kepada bapak direktur untuk menyampaikan kata sambutan. Semua orang bertepuk tangan meriah, akan tetapi ketika Li melihat wajahnya, dia berhenti bertepuk tangan.
“Bagaimana mungkin dia?” Bukankah itu adalah pria tua lusuh pada hari kemarin?..
Akhir cerita, Lia dipecat pada hari itu juga dan air mata yang dia curahkan dalam rasa kesedihan terhadap yang telah dilakukannya tidak bisa menyelamatkannya. (visiontimes/ron/ch)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI

