Budi Pekerti

Kekuatan Dukungan dan Kepercayaan

Ayah dan Anak
Ayah dan Anak. (Getty Images)

Pepatah lama mengatakan: “Kata-kata yang baik dapat membawa kehangatan yang bertahan selama tiga musim dingin, sementara kata-kata kasar dapat membuat beku bahkan di musim panas yang terik.” Kata-kata yang menghibur dan menasihati selalu bermanfaat; satu kata dorongan dapat mengubah pola pikir, perilaku, dan bahkan nasib seseorang. Dua kisah berikut ini menunjukkan kebenaran yang mendalam dari kata-kata ini.

Kekuatan Dorongan Semangat

Dalam pertemuan pertama antara orang tua dan guru, seorang ibu diberitahu oleh guru taman kanak-kanak bahwa putranya dicurigai menderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). “Dia kesulitan untuk duduk di kursinya bahkan selama tiga menit,” guru tersebut menjelaskan.

Dalam perjalanan pulang, putranya yang penasaran bertanya kepadanya tentang apa yang dikatakan oleh sang guru.

“Guru mengatakan bahwa kamu telah berkembang,” katanya. “Dulu kamu kesulitan untuk duduk diam selama satu menit, tapi sekarang kamu bisa bertahan selama tiga menit. Kamu membuat kemajuan.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, putranya makan dua mangkuk nasi sendirian. Dia tidak perlu menyuapinya.

Tidak lama kemudian, putranya mulai masuk sekolah dasar. Setelah pertemuan antara orang tua dan guru, gurunya secara diam-diam mengungkapkan keprihatinan kepadanya. “Dari lima puluh siswa, putra Anda berada di peringkat ke-48 dalam ujian matematika. Dia mungkin menghadapi beberapa tantangan intelektual,” kata guru tersebut.

Sekembalinya ke rumah, ia dengan lembut memberi tahu putranya: “Guru percaya bahwa jika kamu lebih memperhatikan detail, kamu bisa mendapatkan peringkat yang lebih tinggi dari peringkat 48.”

Mendengar hal ini, mata putranya berbinar-binar dengan tekad yang baru, kesedihan yang tadinya ada berganti dengan harapan. Keesokan harinya, dia berangkat ke sekolah lebih awal dari sebelumnya.

Ketika putranya beranjak ke sekolah menengah, mereka menghadapi pertemuan orang tua dan guru lagi.

Sebelum berpisah, guru sekolah menengah pertama itu bercerita: “Melihat prestasi akademik putra Anda saat ini, peluangnya untuk diterima di universitas bisa jadi sangat kecil.”

Dalam perjalanan pulang, ia meletakkan tangannya di bahu putranya, meyakinkannya: “Guru berkata, selama kamu bekerja keras, kamu memiliki kesempatan yang sangat baik untuk mendapatkan tempat di universitas.”

Akhirnya, putranya lulus dari sekolah menengah. Ketika pemberitahuan penerimaan universitas diumumkan, ia pulang ke rumah dari sekolah dengan sebuah amplop coklat di tangannya. Amplop itu berisi surat penerimaan dari sebuah universitas bergengsi. Dengan air mata mengalir di wajahnya, dia mengaku: “Ibu, saya bukan anak yang cerdas, tetapi dorongan dan penghargaan Anda yang terus-menerus membuat saya terus maju.”

Pada saat itu, ia memeluk erat putranya, air matanya mencerminkan perpaduan antara sukacita dan kelegaan.

Kekuatan Kepercayaan

Pernah ada seorang pria yang, setelah lulus dari sekolah menengah dan gagal masuk ke universitas negeri, akhirnya mulai mengajar di sebuah sekolah desa. Karena kurangnya pengalaman, dia dipecat dalam waktu seminggu.

Sekembalinya ke rumah, istrinya mengeringkan air matanya dan menghiburnya. Dia menyarankan bahwa sama seperti beberapa orang dapat dengan mudah mengekspresikan pengetahuan mereka, orang lain merasa lebih sulit, dan dia tidak boleh putus asa – mungkin kesempatan yang lebih baik sedang menunggunya.

Kemudian, dia mengambil pekerjaan di luar desa, tetapi dia diberhentikan karena dia bekerja terlalu lambat. Istrinya meyakinkan dia, mengatakan bahwa setiap orang bekerja dengan kecepatannya masing-masing dan, karena dia telah belajar begitu lama, wajar jika dia tidak secepat orang lain yang telah bekerja bertahun-tahun.

Dia mencoba banyak pekerjaan, berhenti di tengah jalan di setiap pekerjaan. Namun, setiap kali dia pulang ke rumah dengan perasaan sedih, istrinya akan menghiburnya tanpa sedikit pun mengeluh.

Pada usia tiga puluhan, ia memanfaatkan bakatnya dalam bidang bahasa untuk menjadi konselor di sebuah sekolah untuk tuna rungu. Kemudian, dia mendirikan sekolah untuk penyandang cacat dan akhirnya memulai jaringan toko yang menjual produk untuk penyandang cacat di beberapa kota. Akhirnya, ia menjadi pemilik bisnis multi-jutawan.

Suatu hari, pria sukses ini bertanya kepada istrinya apa yang membuatnya tetap percaya kepadanya, bahkan ketika dia tersesat dan tidak yakin akan masa depannya.

Tanggapan istrinya sangat sederhana dan lugas. Dia berkata: “Jika sebidang tanah tidak cocok untuk gandum, kita bisa mencoba kacang-kacangan. Jika kacang tidak tumbuh dengan baik, kita bisa mencoba melon. Jika melon juga gagal, kita bisa menebarkan benih kedelai, dan lihatlah ia tumbuh. Karena setiap lahan memiliki benih yang cocok untuknya, maka akan selalu ada hasil panen yang menjadi miliknya.”

Setelah mendengar kata-kata istrinya, dia menangis.

Iman dan cinta istrinya yang tak tergoyahkan bagaikan benih yang tangguh, dan kesuksesannya adalah keajaiban yang bertunas dan bertumbuh dari benih yang tangguh ini! (nspirement)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI