Budi Pekerti

Kenangan yang Tak Terlupakan

Menyesal (Solgar @Pixabay)
Menyesal (Solgar @Pixabay)

Istri mantan bos saya mengatakan kepada saya bahwa bos saya telah meninggal. Saya hanya dapat menghiburnya, saya lalu teringat kepada kenangan selama saya bekerja dengan bos saya ini. Ini adalah pekerjaan saya yang pertama setelah tamat kuliah.

Pada saat itu dekan saya yang merekomendasikan saya bekerja sebagai akuntan di pabrik baja bos saya ini. Jika pada siang hari ada rapat dengan bos, maka setelah pulang kerja saya akan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda;  istri bos saya sangat menyayangi saya karena saya rajin dan bertanggung jawab, setelah saya bekerja selama satu minggu dia sudah memberikan saya kenaikan gaji.

Saya menanda tangani kontrak dengan perusahaan selama satu tahun, ketika kontrak kerja sudah habis karena mendapat tawaran pekerjaan di perusahaan yang lain, maka saya mengajukan surat pengunduran diri. Selama bekerja disana, pada malam hari saya mengambil kursus bahasa Jepang.

Ketika saya mengajukan surat pengunduran diri, istri bos sambil menangis mempertahankan saya dan berkata, “Saya akan membeli tiket kepadamu berlibur ke Jepang, setelah berlibur beberapa hari, engkau kembali bekerja dengan kami.” Mereka sekeluarga berulang kali menghimbau saya tetap bekerja dengan mereka, tetapi pada saat itu saya bersikeras untuk pergi.

Putri bos adalah manager perusahaan, dalam keadaan emosi karena saya tetap bersikeras berkata, saya adalah seorang yang tidak tahu membalas budi, serta melempar hadiah perkawinan yang saya berikan kepadanya yaitu vas bunga kesayangannya sampai pecah.

Saya memandang ke vas bunga yang hancur, tidak tahu harus mengatakan apa?. Istri bos menangis dengan sedih di kantor, karena tidak tega saya berkata, “Saya akan sering datang mengunjungi kalian.”  Perkataan putri bos yang mengatakan saya tidak tahu membalas budi, membuat saya sangat sedih, semuanya berakhir demikian sungguh tidak menyenangkan.

Dari kecil saya telah belajar kisah-kisah dari Kitab Sutra, setelah mengalami hal ini, membuat saya teringat kepada cerita penghinaan terhadap bhiksu Daxing pada zaman dinasti Qing, saya sekarang menyadarinya dan saya sangat mengaguminya.

Pada akhir dinasti Qing bhiksu Daxing adalah seorang bhiksu yang baik hati, selalu berbuat amal, bekerja keras dan berkultivasi dengan gigih di atas gunung. Di bawah gunung, ada seorang putri orang kaya, atas kehendak orangtua dijodohkan dengan seorang pemuda kaya yang tidak disukainya.

Putri ini mengaku sudah hamil. Orangtuanya sangat marah dan mendesaknya agar mengatakan siapa ayah dari bayi yang dikandungnya itu, putrinya ingin melindungi pacarnya dan berkata, “Pada suatu hari ketika saya sembahyang ke kuil di atas gunung, saya telah diperkosa oleh Bhiksu Daxing dan menjadi hamil, dan anak ini adalah anak Bhiksu Daxing.”

Orangtua gadis tersebut setelah mendengar cerita ini sangat marah, mereka menunggu sang putri sampai melahirkan bayinya, lalu menceritakan hal ini kepada seluruh penduduk desa, hingga mereka juga ikut naik pitam, dan berbondong-bondong datang ke kuil memukul dan memaki Bhiksu Daxing, serta membawa bayi yang baru dilahirkan itu ditinggalkan kepada Bhiksu Daxing.

Bhiksu Daxing tidak mengatakan apapun, menggendong bayi yang baru lahir tersebut dan hanya berkata, “Amitabha” Bhiksu Daxing yang biasanya sangat terkenal dan dihormati sekarang menjadi ejekan dan dihina oleh orang ramai sebagai “Bhiksu bejat”.

Dia sama sekali tidak peduli, dengan hati-hati dan penuh kasih mengajar anak tersebut, waktu berlalu dengan cepat anak tersebut semakin hati tumbuh besar dan pintar.

Kejadian tersebut telah berlalu selama 3 tahun, gadis ini akhirnya menikah dengan pacarnya yang dulu. Setelah menikah, gadis ini lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa ia pernah hamil anak pacarnya dan menimpakan kesalahan itu kepada Biksu Daxing.

Suaminya berkata bahwa ia ingin anak kandungnya tersebut dan menegaskan kepada istrinya bahwa ia harus berterus terang kepada orangtuanya.

Ketika gadis tersebut pulang ke rumah orangtua gadis tersebut menceritakan hal tersebut kepada orangtuanya, orang tuanya merasa sangat malu dan menyesal, lalu bersama dengan besannya naik ke kuil di atas gunung meminta maaf,  serta meminta kembali cucu mereka. Bhiksu Daxing menggendong anak tersebut, diberikan ke dalam pelukan ibunya, serta dengan gembira berkata, “bawa pulang anakmu! Amitabha!”

Lalu berbalik kembali ke kamarnya untuk meditasi.

Kultivasi Bhiksu Daxing menyentuh saya, melepaskan semua keegoisan diri sendiri, hanya memikirkan orang lain, saya menjadi teringat ketika saya mengundurkan diri, jika pada saat itu saya dapat melepaskan keegoisan saya memikirkan orang lain, maka saya tidak akan merasakan perasaan yang tidak menyenangkan, menyakiti dan menghilangkan harapan serta kenangan selama saya bekerja disana.(minghui school)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI