Budi Pekerti

Kenari dan Dinding Menara Lonceng

Kenari dan menara lonceng @Canva Pro
Kenari dan menara lonceng @Canva Pro

Pada suatu hari, seekor burung gereja membawa sebuah kenari naik ke atas menara lonceng untuk dimakan. Setelah sampai diatas menara dia beberapa kali dengan mulutnya mematuk kenari, kenari tergulir jatuh di sela-sela dinding diatas menara lonceng.

“Dinding, oh dinding yang baik!” ujar kenari setelah menyadari dia sudah terlepas dari bahaya mulut burung gereja. “Terima kasih Tuhan, engkau dibangun demikian gagah dan megah, dindingmu yang tebal, serta loncengmu yang indah.

Suaramu terdengar sangat merdu! Seluruh dunia juga bisa mendengar suara loncengmu! Engkau harus menolong saya! Kasihanilah saya!”

Burung gereja diatas menara berteriak dan mematuki sela dinding untuk mencari kenari yang jatuh.

Dinding terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun. “Dinding, dinding yang baik!” ujar kenari dengan suara memelas memanggil dinding. “Tahukah engkau, saya sebenarnya ditakdirkan untuk jatuh ke tanah yang subur…Ah tetapi sekarang saya malahan disini, engkau harus menolong saya!” kenari lalu melanjutkan berkata, “Ketika saya berada di mulut burung gereja yang nakal saya telah bersumpah: jika Tuhan melindungi saya membuat saya selamat, walaupun terjatuh ditempat yang berapa susah, saya telah memutuskan akan melewati seluruh masa hidup saya disana.”

Lonceng dengan suara perlahan berbisik kepada dinding : “Engkau harus hati-hati… kenari adalah orang yang berbahaya.”

“Orang yang berbahaya?, dia terlihat demikian kecil benarkah dia berbahaya?”, kata dinding dalam hati. Dinding karena kasihan kepada kenari akhirnya dia membiarkan kenari tetap tinggal;  dia berpikir memang nasibnya kenari terjatuh disana, seharusnya membiarkannya tetap disana. Setelah beberapa waktu, cangkang kenari akhirnya pecah, berikutnya tunas mulai tumbuh, dan juga mulai tumbuh akar yang panjang menjalar, daun dan batang perlahan-lahan mulai menjalar ke menara lonceng.

Kenari tumbuh dengan pesat, daunnya sangat subur, menutupi menara lonceng, akarnya begitu tebal dan kuat, diam-diam akarnya menghancurkan dinding menara. Pada saat ini dinding baru sadar tetapi sudah terlambat. Dia hanya bisa menghela nafas dan berkata, “Aku benar-benar menyesal tidak mendengarkan nasehat dari lonceng.” Pohon kenari terus tumbuh tak tergoyahkan, sangat kuat dan berkuasa, sementara dinding semakin lemah dan retak, akhirnya miring dan runtuh.

Terhadap orang asing yang tidak dikenal yang bermulut manis namun tidak dapat dipercaya jangan timbul ilusi, akhirnya akan sangat mudah mengulangi tragedi seperti ini.(Hui hui/minghui school)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI