Budi Pekerti

Kisah Ananda dan Sariputra: Pembalasan Karma

Karma (Getty Images via Canva Pro)
Karma (Getty Images via Canva Pro)

Pembalasan karma berarti bahwa setiap perbuatan atau tindakan memiliki konsekuensi, dan perbuatan jahat membawa penderitaan.

Penderitaan bukanlah hukuman oleh Tuhan yang bebas untuk menghukum atau tidak, melainkan merupakan akibat yang tak terelakkan dari perbuatan jahat. Dibawah ini adalah beberapa contohnya:

Perundungan di Sekolah Mendapatkan Pembalasan Karma Seketika

Pada tahun 2018, kematian aneh terjadi di sebuah sekolah menengah pertama di Zhecheng, Provinsi Henan, Tiongkok. Menurut laporan itu, seorang siswa laki-laki kelas 7, Liu, dan dua orang temannya merundung siswa keempat. Mereka mendorong korban ke sudut dinding dan memukulinya. Seluruh kejadian tertangkap oleh kamera cctv.

Korban berada di posisi lemah. Ketiga siswa itu menjambak rambutnya dan memukulinya secara brutal. Korban mencoba melawan, namun kalah tenaga dan tersungkur ke tanah. Kemudian, terjadi hal yang mengejutkan semua orang, Liu, salah satu penyerang, tiba-tiba pingsan dan meninggal.

Banyak yang berpendapat itu adalah kasus pembalasan karma seketika. Tapi juga, itu adalah pengingat bahwa tidak peduli seberapa kuat seseorang, mereka tidak bisa lepas dari konsekuensi dari tindakan mereka.

Seorang Pembunuh Meninggal di Penjara Enam Tahun Kemudian

Pada tahun 2015, kasus pembunuhan yang terjadi di Kabupaten Hsinchu Timur mengejutkan masyarakat di Taiwan. Chiu Mei adalah seorang gadis berusia 14 tahun yang menderita cacat mental ringan. Dia berdebat ribut mulut dengan Huang di warnet. Huang memberi tahu pacarnya, Lin, apa yang terjadi, dan Lin menjadi kesal.

Huang, Lin, dan kaki tangannya secara paksa membawa Chiu ke lokasi terpencil. Mereka memukulinya dan melakukan pelecehan seksual, serta meninggalkan tubuhnya di sana. Rombongan kemudian pergi ke bar karaoke. Ketika mereka mengetahui bahwa Chiu sudah mati, mereka menyeret dan meninggalkan tubuhnya di semak-semak dan kembali ke bar karaoke. Lin kemudian membakar tubuh Chiu dan membuangnya.

Meskipun orang-orang ini melakukan kejahatan yang tidak manusiawi, mereka terhindar dari hukuman mati. Sebaliknya, setelah persidangan ketiga pada 2019, lima dari mereka dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Pada 22 Oktober 2021, Lin memberi tahu para penjaga bahwa dia merasa tidak enak badan. Dia dibawa ke rumah sakit dan meninggal dua jam kemudian. Saat itu Lin berusia 30-an.

Banyak yang mengira ini adalah kasus pembalasan karma. Juga, itu adalah pengingat bahwa tidak peduli berapa lama waktu berlalu, keadilan pada akhirnya akan ditegakkan.

Seorang Pria Brasil Menabrak Seorang Wanita dan Meninggal Keesokan Harinya

Pada bulan Januari tahun ini, kematian aneh terjadi di negara bagian Vitoria, Brasil. Kasus ini terkait erat dengan tabrak lari sehari sebelumnya.

Pada sore hari tanggal 4 Januari, seorang wanita berusia 70 tahun berjalan melewati sebuah gedung di dekat Pantai Suyá. Seorang pria berusia 45 tahun sedang mengemudi keluar dari gedung. Dia melaju di jalan yang menurun dengan kecepatan tinggi, menabrak gerbang pintu besi, dan terus berjalan.

Gerbang pintu besi yang ditabarak menimpa wanita itu. Pria itu tidak keluar dari mobil untuk memeriksa. Sebaliknya, dia menginjak pedal gas dan melesat pergi.

Polisi menyelidiki dan menemukan pria itu adalah penghuni gedung. Meski berhasil kabur, polisi menangkapnya tak lama kemudian. Awalnya, mereka memastikan dia tidak mabuk saat kecelakaan itu. Tetapi pria itu tiba-tiba meninggal karena serangan jantung.

Orang tidak bisa tidak berpikir ini mungkin kasus pembalasan karma seketika. Itu adalah pengingat bahwa tidak peduli seberapa kuat seseorang, mereka tidak dapat lepas dari konsekuensi tindakan mereka.

Pelajaran dari Sakyamuni

Suatu hari, ketika Sakyamuni sedang berkhotbah kepada semua muridnya, tiba-tiba, dia memanggil Ananda dan berkata: “Ambil ember dan pergilah ke sebuah desa kecil lima mil di depan untuk mendapatkan seember air dari seorang wanita tua yang sedang mencuci pakaian di sebelah sumur. Bersikaplah sopan dan baik.”

Ananda berangkat dengan ember kosong sesuai petunjuk arah. Dia berpikir bahwa itu akan menjadi tugas yang tidak rumit. Setelah sampai di desa, ia menemukan seorang wanita berambut abu-abu sedang mencuci pakaian di dekat sumur.

Ananda dengan sopan membungkuk kepada wanita itu dan berkata: “Nenek yang baik, bolehkah saya meminta seember air?” Saat melihatnya, wanita tua itu sangat marah dan dengan marah berkata: “Tidak. Hanya penduduk desa ini yang bisa menggunakan sumur ini. Tidak ada orang luar yang diizinkan untuk menggunakannya!” Kemudian dia mengusir Ananda dan tidak bergerak meskipun Ananda memohon dan meminta dengan sangat.

Ananda tidak punya pilihan selain kembali dengan ember kosong. Dia memberi tahu Sakyamuni dan rekan praktisi apa yang terjadi padanya. Sakyamuni mengangguk, memberi isyarat agar Ananda duduk, lalu meminta Sariputra pergi.

Ketika Sariputra tiba di desa itu, dia menemukan wanita berambut abu-abu itu masih mencuci pakaian di dekat sumur. Sariputra dengan sopan bertanya kepada wanita tua itu: “Nenek yang baik, bolehkah saya meminta seember air?” Saat melihatnya, wanita tua itu tampak ceria seperti melihat anaknya sendiri dan dengan senang hati berkata: “Baik! Baik! Biarkan aku mengambilkan air untukmu.”

Setelah mengambil seember air untuk Sariputra, sang nenek memintanya untuk menunggunya sebentar. Kemudian, dia bergegas pulang untuk mengambilkan makanan dan meminta Sariputra untuk membawanya pulang. Setelah kembali dengan seember air, Sariputra memberitahu Sakyamuni dan rekan-rekan praktisi apa yang telah terjadi padanya. Sakyamuni mengangguk dan memberi isyarat agar Sariputra duduk.

Ananda dan murid murid yang lain bertanya-tanya mengapa dan bertanya kepada Sakyamuni apa yang menyebabkan ada perbedaan antara Ananda dan Sariputra. Sakyamuni menjelaskan: Dahulu kala, orang tua ini pernah bereinkarnasi ke alam binatang sebagai tikus. Tikus itu tewas kepanasan di bawah terik matahari. Ananda yang saat itu adalah seorang pengusaha sedang bergegas mencari barang.

Saat melihat tikus mati itu, dia merasa jijik dan melewatinya dengan menutup hidungnya dengan tangan. Sebaliknya, ketika Sariputra, seorang pelajar yang bepergian ke ibukota untuk ujian, melihat tikus mati, dia merasa kasihan dan menutupinya dengan tanah.

Kini, setelah sekian lama, mereka bertemu dan mendapat perlakuan berbeda. Jadi setiap orang dapat membayangkan bahwa sedikit pemikiran dapat memiliki konsekuensi baik dan buruk, apalagi secara langsung menimbulkan penderitaan pada orang!

Penutup

Pembalasan karma adalah kekuatan dahsyat yang tidak dapat diabaikan. Ini adalah pengingat bahwa tindakan kita memiliki konsekuensi dan bahwa kita harus selalu berusaha untuk melakukan hal yang benar. Entah itu berupa balasan seketika atau nanti, penting untuk diingat bahwa tindakan kita memiliki konsekuensi. (nspirement)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor