Pada akhir masa Dinasti Qing, sebuah toko permen pir di Distrik Zhabei dari Shanghai sangat makmur. Sebuah plakat dengan karakter “The Heavens know” tergantung di pintu. Inilah kisah bagaimana hal itu terjadi:
Di seberang toko permen pir ada toko buah milik keluarga bermarga Yu. Pada tahun kedelapan Guangxu, Yu membeli 50 keranjang pir dari Laiyang, Shandong. Karena waktu yang dibutuhkan untuk transportasi jarak jauh dari Shandong, kulit pirnya pecah, dan buahnya mulai membusuk sebelum sampai di tempat tujuan. Tidak peduli bagaimana Yu mengeringkan pir busuk di bawah sinar matahari dan mengupasnya, tidak ada orang yang mau membelinya.
Ada sebuah rumah bagi sepasang suami istri di seberang toko buah Yu. Mereka tidak punya apa-apa untuk dimakan. Melihat Yu telah membuang begitu banyak pir busuk, pasangan itu mengambilnya, mengupasnya, dan membuang bagian yang busuk. Buahnya enak, maka pasangan itu mengiris bagian yang baik dari pir menjadi potongan-potongan kecil dan menjualnya lima potong dengan harga satu koin. Bisnis mulai berjalan dengan baik.
Setelah itu, pasangan tersebut pergi ke toko buah Yu untuk membeli semua pir busuk. Yu mengira buah pir busuk itu tidak berharga. Sekarang ada tempat untuk menjualnya dengan harga murah. Setelah memotong-motong pir, pasangan itu memasukkannya ke dalam botol air besar sebagai cara untuk mengawetkannya dalam jumlah besar dengan mencampurkannya dengan gula, menjualnya menjadi permen jeli pir.
Tidak ada buah pir untuk dimakan di musim semi, dan orang ingin makan permen jeli pir, yang tiba-tiba menjadi produk favorit di selatan. Pada tahun kedua, utusan istana kekaisaran mengunjungi Distrik Zhabei di Shanghai. Dia membeli permen pir, yang manis, asam dan lezat, dan membawanya kembali ke Beijing untuk ditawarkan kepada Ibu Suri Kaisar Cixi.
Ibu Suri Kaisar Cixi menderita batuk dan merasa permen pir itu enak dan melegakan tenggorokan setelah dia memakannya, jadi ia memesan lebih banyak. Cerita ini tersebar dan semakin banyak orang mencari permen pir itu, sehingga pasangan ini memutuskan untuk membuka toko permen di depan rumah mereka. Tetangga seberang rumahnya pemilik toko buah Yu akhirnya mengetahui bahwa permen pir itu berasal dari buah pir busuk yang awalnya dijual murah olehnya. Dia iri hati akan kesuksesan tetangganya itu, tapi juga takut menyinggung kaisar.
Suatu malam, Yu menulis di selembar kertas kata-kata sindirian : “Langit juga Tahu” dan menempelkannya di pintu toko permen pir dari pasangan itu. Keesokan harinya, pasangan itu tercengang ketika membaca kata-kata itu dan tahu bahwa seseorang sedang membuat masalah.
Sang suami tertawa dan berkata: “Kita belum memiliki merek toko. Hari ini seseorang mengantarkan karakter ini ke pintu. Itu bagus. Kaisar yang mewakili Surga bahkan menyukai memakan permen jeli pir saya. Toko itu seharusnya bernama “Langit juga Tahu”. Saya akan menggunakan kata-kata ini sebagai merek toko saya!” Dia membuat papan nama merek “Langit juga Tahu” yang sangat besar, dan orang-orang yang datang melihatnya diberi tahu bahwa kaisar dan ibu suri suka makan permen jeli pir mereka. Hasilnya, bisnisnya menjadi lebih sukses.
Yu gagal menjatuhkan pasangan itu, tetapi malah membuat bisnis toko permen pir lebih makmur, dan kata-kata sindiran yang ditulisnya dijadikan merek toko yang makin sukses, membuatnya semakin marah. Dia kemudian menggambar kura-kura, dengan kepala di perutnya, di dinding toko permen pir dan menulis “Tak Tahu Malu”.
Keesokan harinya, pasangan itu terkejut, lalu mereka berkata secara bersamaan: “Mari kita gunakan kura-kura sebagai logo”. Permen pir bisa meredakan batuk dan memperpanjang umur, seperti kura-kura yang hidup lebih lama daripada satwa lainnya. Sejak saat itu, merek dagang ini menjadi terkenal di Shanghai.
Pasangan pemilik toko permen pir memiliki kebijaksanaan yang luar biasa. Tidak peduli seberapa buruk atau provokatifnya pemilik toko buah terhadap mereka, mereka tetap tidak tergerak dan tetap berpandangan positif.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
