Budi Pekerti

Kisah Jenghis Khan dan Elangnya

Shutterstock | Ruta Production
Shutterstock | Ruta Production

Novelis Brasil, Paolo Coelho, dikenal dengan novelnya tahun 1988, The Alchemist. Pada tahun 2006, ia menyusun kumpulan legenda, cerita pendek, dan pendapat yang berjudul Seperti Sungai yang Mengalir, dan di antara halaman-halaman itu terdapat kisah mendalam tentang Jenhgis Khan dari Kekaisaran Mongol, dan Elangnya.

Dengan kisah ini, seseorang dapat belajar lebih banyak tentang sifat destruktif kemarahan dan nilai tersembunyi seorang teman yang setia.

“Kisah Jenghis Khan dan Elangnya” berasal dari kunjungan Coelho ke Kazakhstan, ketika Coelho diundang untuk menemani sekelompok pemburu dalam perjalanan sehari. Para pemburu menggunakan elang sebagai “senjata” mereka untuk memperoleh mangsa yang mereka inginkan.

Coelho menulis catatan tentang rekan-rekan berburunya: “Saya tidak bisa berbicara dengan mereka karena kendala bahasa, saya lebih memperhatikan apa yang mereka lakukan”.

Salah seorang pemburu melepaskan tudung perak kecil dari kepala burung Elang yang telah selesai berburu. Elang itu berhasil menangkap seekor rubah kecil yang digondolnya pada cakarnya yang tajam dan kuat.

Setelah kembali ke desa para pemburu, Coelho menceritakan peristiwa hari itu kepada penduduk desa yang mengundangnya, dan bertanya bagaimana burung elang itu dilatih dengan sangat baik. Namun, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Mereka hanya bisa mengatakan, “Seni berburu ini diturunkan dari generasi ke generasi”.

Apa yang bisa diceritakan oleh penduduk desa kepada penulis adalah cerita pendek namun mendalam yang disampaikan saat makan siang bersama:

Suatu pagi, prajurit Mongol bernama Jenghis Khan, dan pengawalnya pergi berburu. Rekan rekannya membawa busur dan anak panah, tetapi Jenghis Khan hanya membawa elang favoritnya di lengannya, yang lebih baik dan lebih pasti daripada panah mana pun, karena burung itu dapat terbang ke langit dan melihat segala sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia.

Namun setelah berjam-jam pergi berburu, mereka tidak menemukan apa pun.

Jenghis Khan, frustrasi oleh ketidak-berhasilan kelompoknya, berpisah dari rombongan dan berkuda sendirian dengan elangnya. Setelah berkelana lama di hutan, Khan menjadi lelah dan haus.

Di musim panas berkepanjangan, semua aliran sungai telah mengering, dan ia tidak dapat menemukan apa pun untuk diminum. Kemudian, dengan takjub, dia melihat air mengalir dari batu tepat di depannya.

Perlahan-lahan Khan mengisi cangkir peraknya, tetapi ketika dia hendak minum seteguk pertama yang bisa memuaskan dahaga, elangnya terbang dan menjatuhkan cangkir itu dari tangannya. Khan sangat marah tetapi sabar dengan burung kesayangannya dan berpikir mungkin juga haus.

Ia kembali mengisi cangkir dengan sisa air yang menetes dari bebatuan.

Namun, yang membuatnya sangat kesal, ketika cangkirnya bahkan belum penuh, burung itu mengulangi tindakan yang sama sekali lagi.

Khan menghargai burung ini, tetapi dia tahu bahwa dia tidak bisa, dalam keadaan apa pun, membiarkan tindakan yang menurutnya kurang ajar seperti itu. Seseorang mungkin menonton adegan ini dari jauh dan, nanti, akan memberi tahu prajuritnya bahwa penakluk besar tidak mampu menjinakkan seekor burung.

Khan kemudian membuat keputusan. Saat dia mengisi cangkirnya untuk ketiga kalinya, dia memegang pedangnya, dan ketika elang itu menukik ke bawah, dia menusuk dada burung itu dengan pedangnya, membuatnya mati seketika.

Tidak ada lagi aliran air di batu, jadi Khan naik untuk menemukan sumbernya. Yang mengejutkannya bahwa benar-benar ada genangan air di tempat yang lebih tinggi dan di tengahnya terbaring mati salah satu ular paling beracun di wilayah itu. Jika dia minum airnya, dia juga akan mati.

Khan, yang dilanda penyesalan mendalam, membawa elang yang mati kembali ke perkemahannya untuk dikuburkan. Untuk menghormati sahabat terbaiknya, Khan memerintahkan pembuatan patung Elang emas, dengan sebuah kata-kata penghormatan terukir di setiap sayap yang terentang:

“Bahkan ketika seorang sahabat melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai, dia tetap menjadi sahabatmu”, yang tertulis pada sayap sebelah kiri.

”Setiap tindakan yang dilakukan dalam kemarahan adalah tindakan yang ditakdirkan untuk gagal”, yang tertulis pada sayap sebelah kanan.

Orang Mongolia dewasa ini sebagian besar menganggap Jenghis Khan sebagai bapak pendiri negara mereka. Kisah diatas mengungkapkan bahaya besar saat emosi kemarahan mengendalikan manusia. Khan bertindak dengan tergesa-gesa, dan karena itu, dia kehilangan teman berburunya paling setia, dan berharga.

Para ahli filsafat, agama, spiritual, dan sains menekankan pentingnya pengendalian diri. “Kontrol diri”, menurut sebuah artikel yang ditulis oleh Nathan De Well, seorang profesor psikologi untuk American Psychology Association (APA) adalah: “Kemampuan untuk menekan amarah untuk merespons dengan tepat”.

Kontrol diri, sebagaimana ia jelaskan lebih lanjut, memiliki tiga komponen utama: monitor pikiran (melacak pikiran, perasaan, dan tindakan), panduan pikiran (pedoman yang mengarahkan kita ke arah respons yang diinginkan), dan kekuatan (energi yang kita butuhkan untuk mengendalikan dorongan hati kita).

“Kontrol diri yang efektif”, menurutnya, “bergantung pada ketiga komponen diatas yang bekerja bersama”.

Selain itu, pengendalian diri memiliki manfaat besar.

Penggambaran Coelho tentang Jenghis Khan dalam cerita pendek di atas menunjukkan ketika seseorang lepas kendali, maka ia akan melakukan tindakan bodoh yang berujung penyesalan. Hal ini sebagai pengingat bagi kita semua; ada begitu banyak yang dipertaruhkan ketika kita bertindak dengan tergesa-gesa. (epochtimes/bud/ch)