Budi Pekerti

Kisah Perbuatan Baik yang Membawa Rejeki

Kebaikan (Getty Images via Canva Pro)
Kebaikan (Getty Images via Canva Pro)

Inilah kisah tentang rejeki yang didapat dari melakukan perbuatan baik. Dikisahkan bahwa Surga tidak akan membiarkan orang yang begitu baik untuk hidup kurang dari 100 tahun.

Pada masa Wanli dari Dinasti Ming, ada seorang terpelajar yang melakukan perjalanan ke ibu kota untuk mengikuti ujian kekaisaran. Di tengah jalan, karena dirampok, dia kehilangan semua barang miliknya. Tanpa sarana untuk mencapai ibu kota, dan terlalu malu untuk pulang, dia mempertimbangkan untuk bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya di sungai.

Tindakan Kebaikan

Seorang lelaki tua kebetulan lewat dan menghentikan tindakan putus asa sang terpelajar itu. Setelah mendengar penderitaannya, lelaki tua itu menghiburnya dengan mengatakan: “Tidak ada gunung yang tidak bisa didaki, tidak ada sungai yang tidak bisa diarungi. Uang yang hilang dapat diperoleh kembali. Bagaimana dengan ini? Saya punya sekantong perak di sini. Bawalah bersama anda dan pastikan anda tiba tepat waktu untuk ujian.”

Saat lelaki tua itu berbicara, dia mengambil uang yang telah dia siapkan untuk membeli ternak dan menyerahkan semuanya kepada sang terpelajar itu. Sang terpelajar sangat tersentuh oleh tindakan kebaikan orang tua itu dan meneteskan air mata, lalu berkata: “Tuan, saya merasa seolah-olah anda benar-benar salah satu dari orang tua saya yang terlahir kembali. Jika saya berhasil dalam ujian, saya akan membantu dan merawat anda seolah-olah anda adalah ayah kandung saya.” Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada sang terpelajar itu maka lelaki tua itu kembali ke rumah.

Ketika putra dan menantu lelaki tua itu melihat dia kembali tanpa ternak, mereka buru-buru menanyakan alasannya. Sang ayah menceritakan kejadian pemberian uang itu, namun setelah mendengarnya, putra dan menantunya menjadi marah. Mereka berseru: “Kami, sebagai pasangan, bekerja tanpa lelah siang dan malam, namun hampir tidak dapat memperoleh beberapa koin perak dalam setahun.

Uang ini dikumpulkan selama bertahun-tahun kerja keras. Namun, ayah telah memberikan uang hasil jerih payah kami kepada orang asing. Ayah menjadi lebih bodoh seiring bertambahnya usia. Apa gunanya kami memiliki beban hidup sepertimu?” Dengan kata-kata ini, mereka mengusir lelaki tua itu dari rumah mereka.

Sebuah Kesempatan Baru untuk Hidup

Dipenuhi amarah dan kesedihan, lelaki tua itu pingsan di pinggir jalan. Dia segera terbangun oleh suara tangisan. Setelah mencari, dia melihat dua anak menangis di pinggir jalan. Perlahan-lahan menjadi tenang, lelaki tua itu bertanya: “Anak-anak, mengapa kalian berdua menangis?”

Salah satu anak menjawab: “Kakek, ayah dan ibu kami telah meninggal dunia karena kecelakaan. Kami hanya memiliki kebun sayur seluas dua acre (0.93 hektar) tanpa ada yang dapat mengolahnya. Bagaimana kami akan bertahan di masa depan?” Orang tua itu menghibur mereka dengan berkata: “Anak-anak, berhentilah menangis. Kakek akan datang dan mengolah kebun sayuran untukmu.” Kedua anak itu segera berlutut, membungkuk padanya, dan memanggilnya ayah.

Keberuntungan yang Tak Terduga

Lelaki tua itu menemani anak-anak ke kebun sayur dan tinggal di gubuk kecil beratap jerami. Sejak saat itu, lelaki tua itu bekerja dengan rajin, merawat sayuran setiap hari, sementara anak-anaknya menjualnya. Mereka menyerahkan penghasilannya kepada lelaki tua itu, dan mereka bertiga bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup, menjalani kehidupan yang harmonis.

Suatu hari, saat sedang menggali tanah, lelaki tua itu tiba-tiba menemukan sebuah guci berisi harta karun. Dengan sebagian hasil penjualan, ia membangun rumah beratap genteng untuk masing-masing anaknya.

Kembalinya Orang yang Tidak Tahu Berterima Kasih

Berita tentang kekayaan yang baru ditemukan lelaki tua itu menyebar, dan setelah mendengar berita itu, putra dan menantunya datang untuk mengambil kembali ayah mereka, karena tahu sang Ayah kini memiliki banyak uang. Sang ayah tidak mau ikut dengan mereka, tapi mereka memaksa dan hampir menyeretnya.

Saat itu, kedua pemuda yang menjual sayur pulang. Bingung dengan keadaan itu, mereka mempertanyakan bagaimana lelaki tua yang mengaku tidak memiliki anak laki-laki atau perempuan itu, tiba-tiba memiliki anak laki-laki dan perempuan. Mereka menghadapi sang putra dan menantu itu, dengan kuat memegang tangan lelaki tua itu, dan berkata: “Apa yang kalian lakukan? Ini ayah kami!”

Sang putra menjawab: “Omong kosong, dia adalah ayahku, ayah kandungku!” Mendengar hal itu, salah satu penjual sayur bertanya: “Kalau dia ayahmu, kenapa dia tidak tinggal di rumahmu?” Tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, sang putra dan menantu itu tanpa malu-malu menjawab: “Kami tidak dapat berdebat denganmu, tetapi dia tetap ayah kami.”

Pengungkapan Kebenaran

Kedua belah pihak terlibat dalam perselisihan yang memanas, menolak untuk mundur, dan mencari hakim daerah untuk menyelesaikan masalah tersebut. Duduk di aula, hakim meminta semua orang untuk menyampaikan argumen mereka. Setelah mendengarkan kisah lelaki tua dengan penuh perhatian, hakim terdiam beberapa saat dan kemudian menatap lelaki tua itu sebelum berkata: “Dia adalah ayah saya.”

Pernyataan ini mengejutkan semua orang yang hadir. Lelaki tua itu perlahan mengangkat kepalanya, dan hakim berkata: “Ayah, apakah kamu lupa? Saya adalah pelajar yang pergi ke ibukota untuk ujian bertahun-tahun yang lalu.” Hakim melanjutkan untuk menceritakan kisah tentang bagaimana lelaki tua itu memberinya perak untuk menyelamatkannya, dan sang hakim juga mengungkapkan usahanya yang gagal untuk menemukan lelaki tua ini untuk membalas budi selama bertahun-tahun.

Setelah mendengar ini, lelaki tua itu dengan sedih berkata: “Aduh, karena alasan inilah putra dan menantu perempuan saya mengusir saya dari rumah mereka.” Dipenuhi rasa malu, putra dan menantu itu berharap mereka bisa merangkak ke dalam lubang dan menghilang. Hakim menegur mereka dengan keras, dan atas persetujuan kedua pemuda lainnya, lelaki tua itu dipersilakan tinggal di kediaman hakim untuk menghabiskan masa tuanya.

Balasan untuk Perbuatan Baik

Pria tua itu hidup sampai 100 tahun, memancarkan rona kemerahan dan aura yang cerah. Banyak anak muda bertanya tentang rahasianya untuk menjaga kesehatan yang begitu baik pada usia 100 tahun. Orang tua itu tersenyum dan menjawab: “Berbuat baik kepada orang lain akan membawa kebaikan bagi anda.

Sekalipun orang lain tidak selalu baik, anda pasti akan menuai manfaat dari bersikap baik. Perbuatan baik tidak terlihat dan tidak berwujud, namun menghasilkan imbalan nyata seperti keberuntungan dan nasib baik. Jujur, baik hati, dan hindari menyakiti orang lain, ini adalah jalan menuju umur panjang dan kekayaan.” (nspirement)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor