Budi Pekerti

Kisah Putri Afrika Mencari Cinta Sejati

Putri Adetola dari Afrika
Putri Adetola dari Afrika

Dahulu kala hiduplah seorang raja, sang raja memiliki seorang puteri yang cantik jelita bernama Adetola. Ketika sang puteri mencapai usia enam belas tahun, raja menemuinya dan berkata:

“Adetola, puteriku yang aku sayangi, kamu sekarang sudah mencapai usia yang cukup untuk menikah. Oleh karena itu aku sudah berketetapan hati, bahwa kamu harus mencari seorang diantara pemuda-pemuda di negri ini untuk menjadi suamimu.”

“Ya, Ayah, aku senang hati mengikuti perintahmu, dan aku sendiri juga sudah ingin memiliki seorang suami yang mencintai aku”, jawab puteri raja sambil tersenyum, “Tolong carikan seorang suami yang benar-benar pasti mencintaiku dengan tulus, mencintai aku sebagai isterinya.”

“Begini puteriku sayang, tidak ada seorangpun mampu melihat hati orang lain, puteriku Adetola sayang! Tetapi kamu harus tetap tenangkan hatimu, percayalah hanya pada Ayah ini untuk mencarinya. Aku akan mencarikan untukmu seorang suami, yang bukan hanya mencintai kecantikanmu, atau hanya mengejar kemewahan istana, tetapi juga mencintai dan menyayangimu benar-benar dari dalam hatinya. Sesegera ini aku akan mengumumkan di kerajaan ini, bahwa puteriku sedang mencari seorang suami untuk menikahinya.”

Berita mengenai keinginan raja mencari suami bagi puterinya yang sudah sangat termasyur kejelitaannya langsung tersebar luas dengan sangat cepat di seluruh negeri. Pagi hari berikutnya, pagi-pagi sekali berdatangan para pemuda yang berdiri di depan gerbang istana raja untuk dapat masuk ke dalam halaman istana. Sekitar tengah hari di balairung agung yang sangat luas dan sudah tertata indah dipenuhi oleh para peminat pelamar puteri raja berkumpul di dalamnya, mereka datang dari dekat dan jauh.

Mereka-mereka yang kaya di antar oleh para pelayan dan penjaganya yang banyak dan mereka membawa hadiah pernikahan yang tak terkira mahalnya, yang dipersembahkan bagi puteri raja, dengan persembahan itu untuk menarik hati sang puteri untuk memilihnya.

Adetola menunggu dengan sabar, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Begitu matahari bersiap untuk menghilang, di barat horizon, muncullah sang Raja mengenakan mahkota kebesarannya, dengan bangga menggandeng sang Puteri memasuki balairung agung. Di bawah sorak sorai dan tepuk tangan para pelamar yang memenuhi balairung agung kemudian mendengarkan sabda raja yang isinya keinginan sang raja dan puteri untuk mencari seorang suami bagi puterinya, suami yang dikehendaki adalah seorang pemuda dari negeri itu, yang sejati, baik dan sabar pribadinya.

Ketika sorak sorai dan tepuk tangan para pelamar reda, maka menghadap pelamar pertama seorang pemuda mengenakan busana dengan rajutan dari benang emas Agbada, sejenis bunga, ke hadapan Raja. Dia menghadap, membungkukkan badannya sedalam-dalamnya, kemudian, menyampaikan bagi sang Puteri hadiah persembahannya yang sangat bernilai, sang Puteri tersenyum menerima segala hadiah persembahan itu. Setelah dia mempersembahkan hadiahnya yang terakhir, dia kembali membungkuk diri dalam-dalam dan berkata:

“Ini persembahan aku yang bernama Bola, pemuda negeri ini yang paling kaya, menyatakan kecintaanku kepada Anda!”

Adetola menyatakan terima kasih sebesar-besarnya atas hadiah persembahan sangat indah itu dan kemudian mempersilahkan pemuda urutan berikutnya untuk maju, mereka juga mempersembahkan hadiah persembahan yang sama indahnya, juga sangat bernilai.

Tidak memakan waktu lama, di sebelah tahta sudah menumpuk tinggi semua hadiah persembahan yang indah dan sangat bernilai terdiri dari perhiasan dari emas dan batu permata dan intan berlian yang sangat bernilai. Adetola memandang semua persembahan yang menggunung itu  sebagai pemujaan terhadap dirinya, dengan kegembiraan yang masih kekanak-kanakan, dia sangat gembira sekali, sehingga dia lupa, siapa mempersembahkan ini, dan siapa mempersembahkan itu, lupa sama sekali.

Di tengah malam, saat waktu melamar hampir usai dan Adetola di dalam kegembiraannya, dia tersadar oleh kedatangan seorang pemuda pelamar terakhir yang tergesa-gesa menghadap. Pemuda ini datang dari satu desa yang terpencil di negeri itu. Secara kebetulan ia mendengar pengumuman mengenai sang Puteri raja mencari seorang suami, kebetulan dia sedang berada di ibukota; dan dia mendengar dari setiap orang di kota memuji bagaimana kecantikan sang Puteri, maka dari  uang simpanannya yang terakhir dia membeli satu Agbada berwarna putih dan cepat-cepat dia pergi menuju ke istana. Sebagai hadiah persembahan, dia melepaskan tiga cincin pada jarinya, cincin pemberian ibunya, ketika ibunya akan meninggal beberapa tahun yang lalu. Begitu dia memandang Adetola yang sangat jelita itu dia sangat terpukau, dan dia ketika membuka cincin itu dari jari-jarinya, cincin itu terlepas dari pegangannya dan jatuh tepat di kaki sang Puteri, Adetola, kaget oleh ketedorannya sendiri, maka dia cepat membungkukkan diri dan mengambil cincin itu. Dengan tangan yang gemetaran dia menyampaikan kepada sang Puteri hadiah persembahannya dengan mengatakan:

“Mohon Sang Puteri mau menerima hadiah persembahan yang sangat sederhana ini dari saya. Tiga cincin ini memiliki arti Cinta, Persahabatan, dan Hidup!”

Sang Puteri merasa sangat bergembira dengan hadiah persembahan yang sederhana dari seorang pemuda ini dan mengucapkan terima kasih.

Begitu pelamar yang terakhir ini mundur dari hadapan Sang Puteri, maka raja bangun dari tahtanya dan berkata kepada semua pelamar yang menunggu dengan perasaan tegang dan hadir di balairung agung:

“Aku mengucapkan terima kasih, kamu putera-puteraku terkasih, kamu yang telah hadir di sini dari semua penjuru yang dekat dan yang jauh, untuk mengungkapkan penghormatanmu kepada Puteriku. Kamu semua telah menyaksikan sendiri, bagaimana puteriku sendiri sangat bergembira. Dan saat ini hari sudah larut malam, dan kamu semua mengetahui, bahwa rajamu ini dalam kegelapan malam ini, belum dapat menjatuhkan keputusan akhir. Besok pagi saat matahari bersinar akan memutuskan untuk kamu semua dan memberitakan siapa yang akhirnya dipilih.”

Setelah raja dan puterinya sendirian dalam istana, bertanyalah raja kepada puterinya, Adetola:

“Sekarang waktunya, putriku, siapa di antara mereka, pemuda-pemuda pelamar, yang menjadi pilihanmu, menurutmu siapa yang paling mencintai kamu?”

“Ah,” keluh Adetola, “pikiranku sekarang benar-benar sangat bingung dan tidak tenang. Bagaimana aku dalam waktu yang sesingkat ini dapat mengenali mana pelamarku yang benar-benar mencintaiku?”

“Jangan kuatir, anakku! Ayahmu ini akan mengambil alih semua kesulitanmu dalam memutuskan hal ini. Esok hari sebelum matahari surut dari langit, aku akan menikahkan dengan seorang pelamar yang hadir tadi, akan kupilih seorang dari mereka semua yang aku merasa yakin bahwa dia adalah dia mencinta dirimu sendiri, bukan hanya mencintai besarnya kekuasaanmu dan kekayaanmu maka dia mau menikah denganmu”; dan dengan perkataan ini raja berpikir: “Anakku harus memilih Bola, pemuda pelamar yang paling kaya di negeri ini sebagai suaminya. ”

Adetola dengan cepat tertidur, setelah hari yang penuh kesibukan.

Setelah nyala api penerangan dalam istana, dimatikan, dan para pelamar meninggalkan balairung dan istana menjadi sunyi, dalam nyenyak tidurnya Adetola bermimpi yang sangat jarang di alami. Ibunya yang telah lama meninggal dunia mendatangi dan berkata:

“Aku ingin memberi nasehat kepadamu, Puteriku, katakan kepada Ayah, dia harus memberitakan kepada khalayak ramai, bahwa kamu malam ini telah mati. Ini untuk melihat mana di antara pemuda pelamar yang benar-benar mencintaimu, mencintai dirimu sendiri dan bukan hanya kekayaanmu dan hanya mencintai kecantikanmu saja.”

Ketika Adetola pagi-pagi terbangun dari tidurnya, teringat kembali pada mimpinya tadi malam.Cepat-cepat dia mengenakan pakaiannya dan segera menjumpai raja, kemudian menceritakan mimpinya kepada raja.

Sang Raja sangat memperhatikan benar-benar dan memikirkan mimpi anaknya dan setelah itu berkata: “Kita tidak boleh mengabaikan isyarat dari ibumu.”

Maka terjadilah semua ini. Atas perintah ayahnya, Adetola segera balik kembali ke kamarnya sendiri, raja mengenakan busana kesedihan dan raja menuju ruang balairung agung istana tempat para pelamar puteri mulai berdatangan menghadap. Begitu menyaksikan sang Raja dalam keadaan-nya, maka para pemuda pelamar semua terdiam dari tawanya yang penuh suka cita, mata raja terlihat begitu sedih dan setiap hadirin dapat membaca, bahwa sesuatu telah terjadi, sesuatu yang sangat menyedihkan raja, Tetapi tidak seorangpun berani menanyakan kepada baginda raja apa yang terjadi semalam, sehingga baginda berubah menjadi begitu terlihat sedih. Dan setiap hadirin sangat terkejut begitu mendengar berita dari baginda yang sangat menyedihkan itu, baginda berkata dengan sedih:

“Adetola telah meninggal tadi malam! Dia telah meninggal tadi malam!”

Begitu mendengar pengumuman itu, mulai menjalar bisikan di antara para hadirin:

“Adetola  — meninggal?”

Sebelum para hadirin dapat mencerna berita ini dan memahaminya, kembali raja dengan suara yang menyayat hati berkata sekali lagi:

“Adetola telah meninggal! Mengertilah, Adetola telah meninggal!”

Mulailah para hadirin memahami apa yang terjadi.

“Habis, berakhir sudah, tidak ada pesta pernikahan, habis sudah mimpi untuk menjadi raja…..”, mereka pikir demikian.

Begitu terkejutnya mereka mendengar berita yang sangat tidak mudah dipahami ini, pertama-tama mereka membentuk deretan antrian panjang sama seperti waktu mereka memenuhi undangan untuk melamar Puteri Raja yang sedang mencari suami, menghadap Raja. Dan yang pertama-tama menghadap raja adalah Bola, seorang pelamar yang paling kaya di seluruh negeri, dengan memegang tangan raja yang sedang sedih.

“Sangat tidak mudah dimengerti, bahwa Adetola, Puteri yang kami semua cintai, tidak lagi hidup. Kemarin kami masih mempersembahkan hadiah pernikahan untuk sang Puteri, dan hari ini Puteri sudah berada di luar kehidupan kita semua. Meskipun begitu hidup tetap berlanjut. Oleh karena itu izinkan kami menghadap untuk memohon dengan sangat rendah hati: Oleh kematian Adetola dan kami dalam hal ini tidak dapat lagi menikah dengan dia, adalah sangat berterima kasih kepada Sang Raja dapat membawa kembali pulang semua hadiah persembahan pernikahan kami yang sangat mahal dan berharga itu. Persembahan itu kami dapatkan dari kekayaan bapak kami. Dan baginda raja pasti sangat tidak memerlukan.”

Sekarang Sang Raja mulai mengenal karakter dan sifat setiap pelamar puteri yang telah datang memenuhi undangan untuk melamar, untuk menjadi suami puterinya.

“Manusia-manusia kikir ini”, raja berpikir, kemudian dia menyuruh para pelayannya membereskan hadiah persembahan untuk pernikahan dengan puteri raja, seketika itu juga para pelayannya membungkus kembali hadiah-hadiah itu dan bersiap pulang.

“Rajamu ini tidak akan mempertahankan hadiah-hadiah itu untuk keuntungannya sendiri, hadiah yang diperuntukkan bagi puteriku. Ambil kembali, apa yang kamu suka, ambil.”

Begitu mendengar izin dari raja bahwa diperbolehkan mengambil kembali hadiah-hadiah pernikahan yang disediakan bagi puteri raja, yang sekarang diberitakan sudah meninggal, maka mereka berebut mengambil kembali hadiah-hadiah tersebut, bagai burung-burung pemakan bangkai berebut hadiah-hadiah tersebut, yang terdiri dari emas dan batu-batu mulia. Dan tidak membutuh waktu lama, masing-masing saling tindih dan kacau balau, Karena tiap orang kuatir bahwa tidak dapat menemukan hadiah persembahannya yang sangat berharga milik mereka sendiri, maka mereka menjadi saling bertengkar satu sama lainnya.

Hanya dia si pemuda yang terakhir datang mempersembahkan lamaran berdiri menyendiri dan tidak ikut berebut bagai burung pemakan bangkai seperti yang lainnya, kelakuan sangat memalukan itu. Raja berdiri dari tahtanya dan berjalan mendekatinya perlahan.

“Katakan padaku hai kamu pelamar puteriku, kenapa kamu tidak ikut berebut mencari hadiahmu seperti pemuda-pemuda yang lain itu?” Raja bertanya kepada pemuda pelamar yang tenggelam dalam kesedihan, pertanyaan itu sangat mengejutkan sang pemuda. Dan ketika dia agak dapat menguasai dirinya kembali, dia menjawab dengan sedih hati:

“Bagaimana saya dapat mengambil kembali apa yang kemarin saya sudah persembahkan kepada putri yang saya cintai, kemarin dia masih hidup. Saya tidak mengambil kembali hadiah itu. Itu adalah kelakuan yang sangat memalukan di depan Adetola, Adetola yang benar-benar saya cintai dengan sepenuh hati. Oleh karena itu saya hanya ada sebuah permohonan, agar sang puteri saat dikuburkan tetap mengenakan tiga cincin yang memiliki arti Cinta, Gembira, dan Hidup.”

“Dia pasti mengenakan tiga cincin itu, puteraku”, seru raja gembira dan kemudian menyobek busana duka citanya. “Adetola pasti mengenakan cincinmu itu dalam hidup ini, karena Adetola tidak meninggal. Dia masih hidup! Dan kamu puteraku, kamu akan menikah dengan dia!” “Adetola hidup”, bisik pemuda miskin itu.

“Adetola masih hidup”! Dia masih hidup! Aku sangat bahagia!”

Ketika pemuda-pemuda lainnya itu belum percaya perkataan raja, sang raja yang baru saja menyatakan kematian Puteri, memerintahkan seorang punggawanya untuk menjemput puterinya Adetola. Untuk membuat pelamar-pelamar lain takjub raja melangkah dengan menggandeng tangan si miskin menuju ke arah tahhta di tengah-tengah balairung itu.

“Aku mengucapkan terima kasih kepada kamu semua, sahabat-sahabatku, bahwa kamu telah dengan segenap hati ikut serta dalam acara ini. Sewaktu aku kemarin telah bulat tekadku, bahwa Bola, pemuda yang paling kaya di negeriku ini, untuk mempersunting puteriku Adetola sebagai isterinya, tetapi sekarang ternyata ada pemuda yang benar-benar, aku yakin pilih, untuk mempersunting puteriku, pemuda yang paling miskin di antara kamu semua. Hanya dia yang aku yakin benar bahwa dia mencintai puteriku dengan sepenuh hati.”

Bagaikan dalam mimpi ketika Puteri raja mendengar Ayahnya mengatakan kepada dia:

“Aku telah menemukan calon suamimu yang benar-benar mencintaimu dari dalam hatinya, pemuda yang mencintaimu tidak hanya kekayaanmu dan statusmu sebagai putri raja. Terimalah tangan calon suamimu ini, anakku tercinta. Alaba adalah namanya sebagai raja kelak menggantikan aku, dia sebagai pemuda, yang memang di takdirkan menjadi raja di negeri ini.”

Dan pada waktu yang telah ditetapkan raja sebagai hari pernikahan mereka berdua bersanding sebagai suami dan isteri. Mereka bahagia berdua karena mereka mencintai satu sama lainnya.

Dalam pesta yang meriah mereka dinikahkan oleh raja, ayahanda Adetola, genderang terus di bunyikan hingga larut malam sebagai tanda pengumuman pernikahan tersebut. Setelah pesta pernikahan yang gemilang, maka Adetola dan Alaba  keduanya hidup bahagia dalam kehidupan mereka. Tiga cincin hadiah persembahan Alaba saat melamar Adetola selalu di kenakan Adetola selama hidupnya. Dan setelah raja ayahanda Adetola bertahun-tahun meninggal maka Alaba menggantikan menjadi raja yang sangat adil, sangat bijaksana memerintah negeri itu dan Adetola sebagai permaisuri raja yang dicintai oleh rakyatnya. (ntdindo/jrt)