Budi Pekerti

Kisah Sang Menantu Berbakti

Ilustrasi mertua dan menantu
Ilustrasi mertua dan menantu. @Canva Pro

Pada dinasti Qing, Di bagian timur Hubei ada seorang wanita bermarga Shi yang suaminya telah meninggal sangat berbakti kepada ibu mertuanya, setiap pagi bangun tidur memasak sarapan, menyapu dan mengepel. Setelah itu dia akan ke kamar mertuanya mengucapakan selamat pagi dengan membawa sebuah baskom berisi air untuk mertuanya mencuci muka dan dua butir telur rebus diletakkan di atas meja kamar mertuanya, semua ini sudah merupakan kebiasaannya.

Suatu pagi, dia membuka pintu kamar mertuanya masuk kedalam kamar, dia melihat dibawah tempat tidur mertuanya ada sepasang sepatu pria, dia sangat terkejut, maka dengan diam-diam keluar dari kamar dan menutup pintu kamar. Tetapi mertuanya sudah melihat dia, karena malu untuk bertatap wajah dengan menantunya, lalu menggantung diri bunuh diri.

Tewasnya ibu mertua ini sangat menghebohkan desa, kepala desa menuduh menantu ini membunuh mertuanya sampai mati guna mendapatkan warisan melapornya ke polisi. Menantu yang berbakti ini khawatir skandal mertuanya terbongkar, sehingga tidak mau membela diri. Setelah masalah sampai di pengadilan dan akhirnya menantu tersebut dijatuhi hukuman mati, sementara menunggu dijebloskan ke penjara, ini adalah kasus yang diadili oleh hakim Wang.

Hakim Wang sudah tua dan sakit-sakitan, akhirnya pensiun dini. Penggantinya adalah hakim Zhang yang meskipun muda namun bijaksana. Hakim Zhang melihat para tahanan yang menunggu eksekusi mati, ia melihat wanita tersebut terlihat sangat tenang dan anggun, bertutur kata sangat sopan dan begitu penolong, merasa yakin dia bukan wanita yang dapat menyiksa mertuanya sampai mati, curiga dia mungkin difitnah. Ia membuka dan mempelajari lagi kasus wanita ini dari arsip hakim Wang.

Hakim Zhang mengatakan: “Anda pasti difitnah, saya bisa membantu Anda mencari fakta yang sebenarnya. Tetapi jika Anda tidak mau menyatakan kebenarannya, maka nyawamu tidak akan bisa bertahan. ..” namun menantu ini tidak mau berucap sepatah kata pun.

Hakim Zhang sangat curiga kasus ini, selama beberapa hari dia terus memikirkan kasus tersebut, dalam hati kecil merasa pasti wanita ini tidak bersalah. Semalaman ia berpikir, keesokan harinya mendapatkan akal.

Di pengadilan ada seorang petugas, istrinya adalah seorang yang sangat cerewet dan galak, hal tersebut telah diketahui oleh semua orang.

Hakim Zhang tiba-tiba memanggil petugas tersebut dan mengatakan: “Saya akan menugaskan Anda pergi ke kabupaten melakukan suatu hal, Anda sekarang pulang ke rumah untuk berkemas, lalu segera kembali ke kantor mengambil dokumen untuk dibawa ke kabupaten.” Kira kira dua jam kemudian, petugas tersebut kembali ke kantor. Hakim Zhang tiba-tiba marah berkata: “Mengapa lama sekali anda berkemas, sehingga pekerjaanmu tertunda. Pasti istrimu yang membuat Anda tertunda, ia tidak tahu pentingnya tugas negara, saya harus menghukumnya di penjara selama seminggu.”

Hakim Zhang segera menghukum istri pegawai itu, ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara, dipenjarakan satu sel dengan wanita Shi yang dituduh membunuh mertuanya.

Istri petugas tersebut sepanjang malam memaki dan mengutuk hakim Zhang, bagaimana orang bisa menghormati hakim seperti itu, memenjarakan dia yang tidak bersalah. Wanita Shi tersebut tidak tahan mendengar dia memaki terus, tiba-tiba berkata: “Dunia ini mana ada keadilan? seperti saya ini yang menanggung ketidakadilan sampai mati, dan tidak berani mengatakannya, di penjara lima hari hanyalah masalah kecil, mengapa tidak menutup mulut dan diam saja?”

Hakim Zhang diam-diam mengutus orang bersembunyi di jendela menguping. Orang tersebut setelah mendengar perkataan tersebut, lalu melaporkan kepada hakim Zhang, Hakim Zhang sangat gembira.

Keesokan paginya dia menyuruh wanita Shi dan istri petugas bersama-sama ke pengadilan, mempertanyakan perkataan yang didengar tadi malam. Didengar dua orang, wanita Shi tidak bisa lagi menyembunyikan, Hakim Zhang akhirnya memahami kebenaran, maka merehabilitasi kasus ini dan melepaskan wanita Shi.

Hakim Zhang dengan diam-diam memberi hadiah kecil kepada istri petugas dan meminta maaf kepadanya. Setelah peristiwa tersebut terbongkar hakim Zhang dan wanita Shi itu dikagumi oleh seluruh rakyat atas kebijaksanaan mereka.

Jika hakim Zhang mengikuti keputusan mantan hakim terdahulu dan langsung mengeksekusi, maka wanita ini mati dengan sia-sia, tentu tidak diragukan lagi maka mertuanya di neraka mendapat hukuman atas kejahatan yang semakin serius. (Minghui School)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini

VIDEO REKOMENDASI