Ada seorang pemuda dengan sedikit uang yang harus berhenti dari sekolah untuk merawat orang tuanya yang lemah dan sakit.
Dalam perjalanan pulang, dia menemukan sebuah koin di tanah. Dia mendengar sekelompok tukang kebun mengatakan mereka haus, jadi dia membeli air dengan koin itu untuk memberi mereka minum.
Para tukang kebun berterimakasih, jadi masing-masing dari mereka memberinya seikat bunga sebagai imbalan. Dia memberikan bunga-bunga ini ketika dia melewati pasar. Mereka yang mendapat bunga masing-masing memberinya koin sebagai balasannya. Sekarang dia punya 8 keping koin.
Tidak lama kemudian, ada badai dan cabang-cabang pohon yang mati tersebar di sekitar taman. Dia bertanya kepada tukang kebun, “Jika saya membersihkan kebun untuk anda, apakah anda dapat memberi saya ranting-ranting mati untuk kayu bakar?” Tukang kebun menyetujuinya dengan senang hati.
Ketika pemuda itu sedang membersihkan taman dan mengumpulkan ranting-ranting yang mati, sekelompok anak-anak didekatnya bertengkar satu sama lain memperebutkan permen. Pemuda itu membeli permen dengan 8 keping koinnya dan memberikannya kepada anak-anak, mengajar mereka untuk tidak berkelahi karena sebuah permen. Anak-anak senang mendapatkan permen dan membantunya membersihkan kebun dan mengambil cabang-cabang yang mati.
Ketika pemuda itu menyeret ranting-ranting ini ke rumah, seorang koki melihat bahwa ranting tersebut berkualitas baik dan tidak akan menghasilkan asap. Dia ingin membelinya untuk di dapur, karena Tuannya yang menderita asma dan harus menghindari asap.
Mendengar itu, pemuda tersebut memberikan ranting-rantingnya kepada si juru masak, tetapi si juru masak tidak mau mendapatkannya secara gratis sehingga ia membayar kepada pemuda itu 16 koin.
Pemuda itu pulang dengan 16 koin dan membangun kedai untuk menjual minuman. Karena udara panas di musim panas, ia juga menyediakan air gratis untuk para pemotong rumput yang bekerja di dekatnya. Mereka berterimakasih untuk hal ini.
Orang-orang menertawakan pemuda yang konyol ini karena menjual minuman dengan harga murah dan menyediakan air gratis untuk para pemotong rumput itu.
Suatu hari, seorang pedagang lewat dan berhenti untuk mendapatkan air. Ketika dia mendengar apa yang dilakukan pemuda itu, dia menyetujuinya dan memberi tahu pemuda itu, “Besok, sekelompok penjual kuda akan berada di sini dengan 400 kuda; anda bisa menyiapkan lebih banyak air”. Mendengar itu, pemuda itu tahu bahwa kuda-kuda itu akan membutuhkan rumput juga. Dia memberi tahu para pemotong rumput tentang idenya, dan setiap pemotong rumput memberinya seikat rumput, sehingga pemuda itu segera memiliki ratusan ikat rumput.
Pada hari kedua, sekelompok penjual kuda tiba. Mereka melihat ikatan rumput sambil beristirahat di kedai, dan mereka bertanya untuk membeli rumput. Pria muda itu berkata, “Bawa saja jika anda mau. Saya tidak menggunakan satu sen pun untuk rumput itu !” Penjual kuda tertawa. Ketika mereka pergi, mereka mengambil semua ikatan rumput dan meninggalkan 1.000 koin untuk pemuda itu.
Beberapa tahun kemudian, pemuda itu menjadi orang kaya. Meskipun ini adalah kisah sukses yang sederhana, pemuda itu mendapatkan kesuksesannya dengan alasan tertentu. Dia mendapatkannya karena kebaikan dan kasih sayang yang dimilikinya. (visiontimes/bud/ch)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
