Budi Pekerti

PODCAST Kisah seorang Mama dan Anak Perempuannya

Suatu hari, ada seorang gadis remaja yang dengan tinggal dengan mamanya yang cukup protektif. Kemana saja anak gadisnya itu pergi, sang mama akan selalu merasa khawatir dan akan menanyainya dengan detail hingga si anak gadis menjadi kesal. Pada suatu hari, mama dan si anak gadis ini bertengkar lagi.

PODCAST

“Tia, dengarkan mama ya. Kalau kamu pergi, harus selalu minta ijin mama! Kamu itu anak perempuan, tau?”

“Iya maaaa! Bawel banget sih. Tia kan jalan-jalannya sama teman-teman sekolah. Lagian, kita kan cewek semua!”

Mama Tia terlihat kesal. Di zamannya, anak perempuan tidak pernah keluar malam dan selalu menurut pada orangtua mereka. Tia menengok jam tangannya lalu berkata,

“Ma, ini baru jam 8. Jangan kuno gitu dong Ma. Tia kan udah gede, udah SMA. Malu dong, kalo ga gaul.”

Tia pun meninggalkan mamanya sendirian di ruang makan dan berlari keluar karena teman-temannya sudah datang menjemputnya. Mama Tia merasa tidak berdaya. Ia hanya bisa berharap anak gadisnya itu berhati-hati.

Beberapa jam kemudian, ia berusaha menelepon Tia namun Tia tidak menjawab. Karena tidak kuat menahan kantuk, ia pun pergi tidur dengan perasaan cemas.

Tia baru pulang ke rumah jam 2 malam. Ia berjingkat pelan-pelan ke kamar tidurnya agar tidak membangunkan sang mama. Esok paginya, Mama Tia menengok putrinya dan merasa lega melihat anaknya itu sedang terlelap di kasurnya. Ia pun membangunkan Tia dan menegurnya.

“Jam berapa kamu pulang tadi malam?”

“Jam 11 lewat Ma,” Kata Tia berbohong.

“Bohong kamu! Mana mungkin jam 11. Mama menunggumu hingga jam 12. HP mu juga sengaja dimatikan ya?”

“Aduuhhh, jangan kawatir deh Ma, Tia sudah besar. Tia sudah bisa membedakan mana yang salah dan benar. Tia tidak akan mengecewakan Mama. Coba mama lihat prestasi Tia, adakah yang turun? Semua berjalan baik kan, Ma?”

Mama pun terdiam. Tia memang adalah seorang pelajar yang cemerlang. Walaupun ia masih sering merasa khawatir, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa putrinya itu memang sudah besar dan patut dipercaya.

Hingga suatu hari, Mama mulai curiga putrinya itu sedang berpacaran dengan seseorang. Ada orang yang terus-menerus menelepon putrinya dan mereka bisa bercakap-cakap hingga berjam-jam. Mama pun menanyai Tia.

“Tia…. Siapa sih yang nelpon kamu terus? Apa kamu udah punya pacar sekarang?”

“Ih mama mau tau aja. Yang nelpon Tia terus itu namanya Dani. Lagi PDKT Ma dia…”

“Tia….. kamu harus berhati-hati saat bergaul dengan laki-laki ya! Ingat selalu pesan Mama padamu! Jaga kesucian dirimu!”

“Duh, mama nih kuno banget. Jangan kuatir deh Ma, Tia bisa jaga diri kok!”

Hari demi hari berlalu. Tia akhirnya berkata pada mamanya bahwa dia dan Dani kini sudah berpacaran. Tia pun mengenalkan Dani pada mamanya, yang ternyata adalah seorang pemuda tampan yang sopan.

Setiap berkunjung, Dani selalu membawa buah tangan untuk Mama Tia. Sehingga, kepercayaan mama Tia mulai terbentuk, dan ia sudah tidak menanyai Tia lagi jika ia pergi dengan Dani. Ia yakin, Dani akan menjaga putrinya dengan baik.

Namun pada suatu hari, bak halilintar di siang hari bolong, Tia mengaku pada mamanya bahwa ia tengah berbadan dua.

“Ma…. Maafkan Tia yah Ma….. Tia sudah melanggar kepercayaan Mama…. Kandungan Tia udah dua bulan sekarang….”

Mama Tia bagaikan serangan jantung. Dia menatap Tia tidak percaya.

“Tia….. bagaimana mungkin…?”

“Dani nggak mau tanggung jawab, Ma. Tia disuruh gugurin aja. Lagian dia sekarang kelas 3, bentar lagi mau ujian. Mana mungkin bisa menikah sekarang, katanya. Bisa dikeluarin dari sekolah. Dia bilang papa mamanya juga pasti bakal marah besar…”

Pikiran mama Tia menjadi kalut dan bingung. Akhirnya, dalam keadaan panik, Tia dan mamanya sepakat untuk menggugurkan kandungan Tia demi masa depannya. Seminggu kemudian, mereka pergi ke klinik aborsi dan Tia yang ketakutan berkata pada mamanya.

Tia: “Ma, apapun yang terjadi, ini bukan salah mama ya! Ini salah Tia. Tia tidak mendengarkan nasehat mama… maafkan Tia ya ma!”

Mama: “Tia…. Kamu jangan ngomong gitu. Mama tidak menyalahkan Tia. Yang penting habis ini, kamu harus ingat baik-baik pelajaran ini!”

Namun sayang sekali, aborsi itu gagal. Tia meninggal akibat kehilangan darah yang sangat banyak. Mama Tia, kini hanya bisa meratapi dan menangisi nasib putrinya yang malang itu.

Ketika seseorang masih dikategorikan sebagai anak di bawah umur, maka orang tualah yang wajib memastikan bahwa anaknya dalam pengawasan dan bimbingan moral. Kebaikan atau keberhasilan di satu sisi jangan membuat lengah di sisi lainnya. Jika anak membuat kesalahan pun, adalah kewajiban orangtua untuk membimbingnya kembali ke jalan yang benar dan kembali ke jalan Tuhan.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Dengarkan Podcast kami:

Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu