Budi Pekerti

Kisah Si Payung Biru

©yvonne-ankerman

Biasanya sepulang sekolah Andy seorang diri berjalan kaki ke tempat lesnya, sebelum masuk ke tempat les, lebih dahulu membeli susu kotak di minimarket dekat sana.

Minggu lalu, selama beberapa hari selalu turun hujan. Hujan sebentar turun sebentar reda. Hari itu seperti biasanya Andy mampir dulu ke minimarket untuk membeli minuman. Setelah membeli minuman, keluar minimarket ternyata hujan telah reda, Andy tidak ingin membawa payungnya dalam keadaan basah ke tempat les. Oleh karena itu dia meninggalkan payung di tempat yang sudah tersedia depan minimarket. Nanti seusai les, setelah ibunya datang menjemput, ia baru akan mengambil payung itu.

Ketika sedang les, hujan turun kembali, bahkan lebih lebat dari sebelumnya. Untungnya ketika les selesai, hujanpun berhenti turun.

Saat les usai, ibu datang menjemput. Andy berkata pada ibunya, “Ibu, bisakah mampir sebentar di minimarket untuk ambil payung, tadi saya tinggalkan di sana.”

“Hah, payung bagus ditinggal disana, kalau diambil orang bagaimana?,” kata ibunya dengan sedikit kesal.

Setibanya didepan minimarket, Andy turun dari mobil, sedang ibunya menunggu di mobil. Tak lama kemudian tampak Andy menggerakkan tangan memberi isyarat kepada ibunya bahwa payungnya telah hilang.

“Ibu, payungnya gak ada, mana mungkin bisa hilang…kok bisa hilang ya?” kata Andy dengan penuh keheranan.

Ibunya juga menunjukkan keadaan yang tidak bisa berbuat apa-apa, terhadap anak kecil yang begitu polos, tidak tahu apakah harus dipersalahkan atau tidak.

Tetapi Ibunya tidak tahan untuk mengucapkan beberapa kata kepada Andy: ”Sudah pasti diambil orang, itu adalah payung bagus dan masih terhitung baru, jika seseorang ingin mengambilnya tentu dengan sangat mudah dibawanya pergi,” ujarnya masygul.

Andy berkata, ”Si Biru pasti tidak akan sedih diambil orang.” (Andy terbiasa menggunakan warna untuk memberi nama payung).

Ibunya dengan heran bertanya, “Bagaimana kamu bisa tahu kalau si Biru tidak sedih? Kamu tadi telah meninggalkannya di minimarket, dia pasti mengira kamu sudah tidak menginginkannya lagi.”

Andy menjawab, “Tidak akan begitu, sekarang si Biru pasti gembira. Karena baru saja turun hujan lebat, orang yang membawanya pergi pasti tidak membawa payung, barulah membawa si Biru pergi.”

“Si Biru pasti tahu dia telah menolong orang yang tidak membawa payung itu, membuat orang itu tidak sampai terguyur basah oleh hujan. Membantu orang seharusnya bergembira, makanya si Biru tidak mungkin bersedih.”

Pikiran anak begitu lurus dan murni. Kehilangan sebuah payung, perasaan hatinya sangatlah positif. Sebaliknya di dalam benak orang dewasa terbersit pertanyaan, mengapa orang itu mengambil barang yang bukan miliknya. Apakah dia tidak tahu kalau itu bukan milik sendiri tidak boleh diambil sesuka hati, walaupun hanya sebuah payung.

Tetapi seorang anak yang polos bisa berpikir bahwa payung itu sedang memberi pertolongan kepada orang yang tidak membawa payung, untuk menghindarkan orang tersebut basah kehujanan.

Di saat menghadapi suatu masalah yang sama, anak kecil dan orang dewasa seringkali punya pandangan yang berbeda juga perasaan hati yang berbeda.

Dalam masalah ini, nampak pikiran anak kecil yang begitu tulus dan polos. Ia tidak menggunakan pandangan nilai untuk menimbang hasil dari sebuah peristiwa, sedang orang dewasa sering kali mudah menggunakan konsep “untung-rugi” untuk melihat peristiwa.

Saya mengira segala sesuatu kejadian jika kita menggunakan sudut pandang yang positif untuk berpikir, akibat yang dihasilkan pastilah berbeda. (The Epoch Times/lin)