Budi Pekerti

Kisah tentang Bertahan dari Hawa Nafsu

Orang Tiongkok kuno
Orang Tiongkok kuno. (Ma Yuan, Public Domain)

Shu adalah seorang penduduk kota Guan An. Dalam perjalanan menuju Beijing untuk ujian beasiswa negara dia singgah di sebuah penginapan yang terlihat paling sederhana di kota Guan An untuk beristirahat, karena uangnya pas-pasan. Pada saat itu hari sudah senja, wanita pemilik penginapan sedang berada di depan pintu menyambutnya dengan tersenyum ramah, dan menyapa tamunya, “Tuan sudah sangat capek melakukan perjalanan, silahkan masuk ke kamar untuk beristirahat!”

Ketika Shu sudah mau tidur, wanita pemilik penginapan datang ke kamar Shu mengetuk pintu sambil membawa arak dan berkata, “Tuan, saya ingin melewati malam ini ngobrol-ngobrol dengan tuan, apakah tuan bersedia?” Shu setelah mendengar perkataan ini sangat terkejut lalu bertanya, “Ada masalah apa, kenapa tengah malam datang ke kamar saya?” Wanita itu menjawab: ”Ayah saya pedagang sutra di Beijing, memiliki sebuah toko sutra di jalan Haoan. Ayah saya menikahkan saya dengan anak pemilik penginapan ini. Belum lama ini suami saya dan orangtuanya tewas dalam sebuah kecelakaan, namun saya miskin tidak bisa pulang ke rumah ayah saya di Beijing, dan tidak dapat menahan kesepian, oleh sebab itu malam ini saya datang ke kamar tuan.”

Shu setelah mendengar cerita wanita tersebut dengan lembut berkata, “Saya sangat bersimpati mendengar cerita kamu, tapi saya tidak bisa menemanimu malam ini. Begini saja, setelah saya sampai di Beijing, saya berjanji kepadamu akan pergi mencari ayahmu, supaya dia dapat menjemputmu, terlebih dahulu maafkan saya.” Setelah mendengar perkataan Shu wanita ini merasa malu, membalikkan badan meninggalkan Shu.

Shu setelah sampai di Beijing pergi mencari toko sutra milik ayah wanita ini, setelah menceritakan keadaan putrinya kepada pemilik toko sutra, ia berkata, “Beberapa hari yang lalu, saya bermimpi bertemu dengan dewa, dewa mengatakan kepada saya putri saya jika tidak bertemu dengan pria terhormat bernama Shu akan terjerumus kedalam dosa, dan berada dalam keadaan bahaya! Dewa mengatakan engkau adalah seorang pria terhormat, ternyata tidak salah!”

Akhirnya pedagang itu menjemput putrinya pulang ke rumahnya, dan dinikahkan dengan orang lain dan hidup dengan bahagia. Sedangkan Shu berhasil memperoleh beasiswa negara, setelah lulus menjadi pegawai negeri dan dua tahun berikutnya jabatannya di pemerintahan dinaikkan menjadi wali kota. (minghuischool)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI