Kong Zi dan muridnya Yan Yuan terperangkap diantara Negara Chen dan Negara Cai, hanya bisa memakan sayuran liar tanpa sebutir nasi selama 7 hari. Keesokan harinya ada orang menyumbangkan beras untuk dimakan. Yan Yuan mulai memasaknya, sementara Kong Zi pergi mandi ke sumur. Ketika akan kembali, Kong Zi tanpa sengaja melihat sebelah tangan Yan Yuan memegangi kuali sedangkan tangannya yang satu lagi mengambil nasi dalam kuali untuk dimakan.
Sejenak kemudian, nasi sudah siap untuk dihidangkan, Yan Yuan menyajikan nasi kepada gurunya.
Kong Zi pura-pura tidak mengetahui masalah Yan Yuan mengambil nasi dalam kuali untuk dimakan. Dia berdiri dan berkata, “Hari ini saya telah bermimpi bertemu dengan leluhur, saya kira nasi ini kita bersihkan dulu lalu kita pergi nyekar ke makam leluhur.”
Yan Yuan segera menjawab, “Jangan khawatir Guru, nasi ini saya pastikan bersih, tadi ada debu jatuh dalam kuali, saya ambil dan memakannya.”
Dengan kejadian ini sebagai contoh, Kong Zi mengajarkan murid-muridnya agar tidak sembarangan menuduh orang: “Yang kita percayai adalah mata, sedangkan apa yang terlihat oleh mata kita sendiri belum tentu adalah kebenaran sejati. Bersandar pada hati, namun apa yang diperkirakan oleh hati masih juga tidak bisa dijadikan sebagai dasar. Para murid kalian harus ingat: Memang tidak mudah untuk memahami seseorang.”
Inti Cerita:
Orang dulu mengatakan, “Peristiwa tidak dilihat dan didengar sendiri bolehkah hanya berdasarkan pandangan subyektif kita untuk menuduh orang?”
Di samping itu manusia sering mengatakan peristiwa itu nyata bila terlihat oleh mata kepala sendiri, namun apa yang terlihat oleh mata kita acap kali hanyalah gejala di permukaannya saja.
Beraneka ragam cara menanggulangi masalah dengan menggunakan cara “divonis dahulu, baru diselidiki di kemudian hari” hal ini hanya bisa mencelakakan orang lain dan merugikan diri sendiri.
Bagaimana Kita Memperlakukan Orang Lain
Pada suatu hari, Jefferson dan cucunya mengendarai kereta kuda keluar berjalan-jalan. Di dalam perjalanan, mereka bertemu dengan seorang budak yang tidak dikenal sedang membuka topi dan membungkukkan badan untuk memberi hormat kepada mereka. Jefferson juga mengangkat topinya memberi penghormatan balasan, tetapi cucunya sedang sibuk berbicara dengan orang lain, sama sekali tidak menghiraukan budak itu.
Dengan wajah yang sangat serius Jefferson menegur cucunya dengan kata-kata yang akan diingat cucunya seumur hidup.
Inti cerita:
Tidak ada satu alasan apapun yang memperbolehkan Anda bersikap dingin terhadap orang yang menyatakan hormat kepada Anda, biar pun Anda kelihatannya lebih luhur, dan orang itu kelihatannya sangat miskin.
Bagaimana orang lain memperlakukan kita, itu adalah wujud taraf dan moralitas dari orang lain. Bagaimana kita memperlakukan orang lain itu merupakan wujud taraf moralitas kita! Hal ini tidak ada hubungan langsung dengan orang lain itu.
Menghormati, memperlakukan orang lain dengan baik, menyayangi orang lain sama dengan menghormati, memperlakukan dengan baik, serta menyayangi diri kita sendiri.
Balasan Kejahatan Lekat Bagaikan Bayangan
Pada 1883, negara bagian Texas, Amerika Serikat, tinggal seorang penipu bernama Klin. Dia pernah mencampakkan seorang gadis yang telah dihamilinya. Gadis itu tidak bisa menahan kepedihan hatinya dan nekad mengakhiri hidupnya. Adik lelakinya bersumpah akan membalaskan dendam kakaknya.
Ketika adiknya mengangkat pistol dan membidikkannya pada Klin, peluru itu hanya berhasil menggores kulit wajahnya, kemudian tertancap masuk ke dalam batang pohon. Klin sangat ketakutan sekali seiring dengan suara letupan senjata api dia jatuh ke tanah.
30 tahun kemudian, pada 1913, Klin berkeinginan menggergaji dan menumbangkan pohon besar yang sering kali membangkitkan rasa takutnya itu. Namun pohon yang besar itu sangat sulit untuk ditumbangkan, sehingga membuat dia sangat gusar sekali. Klin memutuskan menggunakan bahan peledak untuk meledakkan pohon itu.
Ketika suara bom berdentum, peluru yang berada di dalam pohon melesat keluar, tepat mengenai kepala Klin.
Inti cerita:
Melakukan kejahatan pasti ada balasannya, bagaikan bayangan mengikuti diri. Balasan yang dekat adalah yang akan kita alami sebentar lagi dalam hidup ini dalam bentuk musibah dan kerugian, balasan yang jauh adalah kemalangan yang menimpa anak cucu kita, yang tentunya juga membuat hati kita nelangsa. Oleh karenanya jagalah perkataan dan perbuatan kita agar tidak merugikan orang lain. (minghui/lin)
