Dalam arena pekerjaan, banyak orang merugikan orang lain (customer, rekan kerja ataupun kompetitornya) demi sedikit keuntungan, atau dalam segala hal selalu perhitungan dengan orang lain. Tak peduli perebutan posisi dalam pekerjaan atau persaingan dalam hal keuntungan dan kekuasaan, sedangkan hal-hal yang kita cari dan kejar dengan segala upaya acapkali hanya sebuah kekosongan.
Justru karena tidak bisa melepaskan kepentingan akan nama dan tidak dapat menghindari godaan akan kekuasaan dan keuntungan, maka kita berusaha mencari hal-hal tersebut dengan segenap upaya dan tenaga. Akhirnya setelah menghabiskan begitu banyak waktu, tubuh terluka lahir batin, dan hasilnya sia-sia belaka. Gejala seperti ini umumnya terjadi di zaman modern.
Di Afrika, ada sejenis kura-kura yang mempunyai kebiasaan tidak mau melepaskan makanan yang telah digigitnya. Kebiasaan tersebut mengakibatkan kura-kura sangat mudah ditangkap predatornya. Orang seringkali menertawakan kebodohan kura-kura, karena keterikatannya yang tidak mau melepaskan, seringkali menyebabkan dia kehilangan kesempatan untuk melarikan diri.
Sebenarnya jika dipikir secara serius, bukankah kita manusia juga sama, acapkali tidak mau melepaskan nama, keuntungan dan kekuasaan yang berada di depan kita, sehingga terjerumus dalam kesulitan hidup dan kerisauan hati, sehingga kita dengan mudah “ditangkap” oleh penyakit, baik jiwa maupun raga.
Hidup manusia di dunia hanya puluhan tahun lamanya, mengejar dan mencari dengan segala upaya lalu apa yang bisa ditinggalkan? Nama dan keuntungan bagai awan dan asap yang lewat di depan mata, lahir tidak dibawa serta, mati pun tidak bisa dibawa pergi. Hadapilah kehidupan dengan mengikuti keadaan secara wajar, melewatkan hari-hari dengan tenang dan tanpa beban.
Kehidupan ini bagaikan sebuah perahu yang mengarungi samudera kehidupan yang kadang diterpa badai, tidak bisa memuat terlalu banyak materi serta keinginan, nafsu, nama dan kepentingan. Jika ingin berlayar sampai ke seberang maka muatan perahu kita harus ringan, kita perlu melepaskan nafsu keinginan yang terlalu banyak.
Zaman sekarang yang penuh dengan keinginan nafsu dan materi, masihkah kita memiliki hati yang tulus dan murni, dan bukannya kerisauan yang tak kunjung habis? Mengapa tidak menyelami keindahan yang termasuk keabadian hidup yakni taraf kesejatian, kebaikan dan kesabaran. (epochtimes/lin)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
