Ada yang bilang orang zaman sekarang begitu pelit. Mereka bahkan tak bisa tersenyum, malah mengerutkan kening yang membuat mereka tampak mengerikan. Kita cenderung memfokuskan semua pikiran kita pada apa yang kita harapkan untuk “diperoleh”, terus-menerus menghitung dalam pikiran kita: Manfaat apa yang akan kita dapatkan dari melakukan ini? Imbalan apa yang bisa kita nikmati? Kalau saya melakukan ini untuknya, nanti ke depannya dia akan melakukan apa untukku? Kita jarang “memberi yang tulus dan penuh sukacita.”
Pernahkah kita mempertimbangkan apakah tindakan kita dapat mempermudah orang lain? Bisakah kita mempermudah mereka? Tetapi jika kita tidak mau memberi kepada orang lain, apa hak kita untuk menuntut orang lain memberi kepada kita? Demikianlah kisah berikut tentang seorang umat beriman yang taat, seorang pengemis, dan seekor anjing.
Umat Beriman yang Taat dan Pengemis
Di Gunung Selatan berdiri sebuah kuil Buddha. Legenda mengatakan bahwa Buddha ini perkasa. Selama para umat membuat keinginan yang tulus dan benar, Buddha akan menunjukkan belas kasih yang besar dan membantu mereka mewujudkan impian mereka. Seorang umat mendengar tentang hal ini. Untuk menunjukkan baktinya, ia secara pribadi membawa tiga persembahan di punggungnya saat hari kelahiran Sang Buddha. Selangkah demi selangkah, ia mendaki Gunung Selatan, bersiap untuk menyampaikan permohonan kepada Sang Buddha di hari kelahirannya.
Ia mendaki gunung demi gunung. Ketika bermandikan keringat, ia takut kehilangan rasa hormatnya dan menolak untuk meletakkan persembahan bahkan untuk beristirahat sejenak. Ketika benar-benar kelelahan, ia takut melewatkan waktu kelahiranNya dan tidak memperlambat langkah atau berhenti.
Setibanya di kuil, umat beriman yang taat itu dengan khidmat meletakkan persembahannya di altar, berlutut dengan suara gedebuk, dan menyatukan kedua telapak tangannya dalam doa: “O Buddha yang perkasa. Selama sepuluh tahun, saya telah mengejar gelar kesarjanaan, namun keinginan saya tetap tak terpenuhi. Kekuatan dewa-Mu tak terbatas — demi baktiku, berikanlah saya kesuksesan dalam ujian kekaisaran tahun ini.” Setelah menyelesaikan doanya yang sungguh-sungguh, umat beriman itu mengumpulkan persembahannya dan bersiap untuk pergi.
Saat ia melangkah keluar dari pintu masuk kuil, ia melihat seorang pengemis mengulurkan tangannya, memohon, “Dermawan yang murah hati, saya sudah kelaparan selama tiga hari tiga malam. Kasihanilah saya — tolong beri saya sedikit persembahanmu untuk meredakan rasa laparku.” Melihat penampilan pengemis yang kotor, umat itu melambaikan tangan dengan jijik, berkata, “Pergi! Pergi! Kau compang-camping dan robek — jangan kotori persembahanku. Aku akan membawa ini pulang untuk dimakan istri dan anak-anakku. Tidak ada bagian untukmu di sini.”
Pengemis itu terus menundukkan kepalanya dan memohon, “Dermawan yang murah hati, saya hampir mati kelaparan. Sedikit saja persembahan sudah cukup. Tolong selamatkan saya.” Karena takut pengemis itu akan merebut persembahannya, umat itu segera mengangkatnya ke pundaknya dan berlari menuruni gunung tanpa menoleh ke belakang.
Kelelahan karena lapar, pengemis itu meringkuk di samping kuil, terbungkus selimutnya yang compang-camping. Malam semakin larut, dan hawa dingin semakin menyengat. Pengemis itu membungkus tubuhnya yang menggigil erat-erat dengan selimut tipis. Tiba-tiba, seekor anjing kudisan yang dipenuhi luka bernanah muncul entah dari mana. Tertatih-tatih, ia mendekati pengemis itu, meraih ujung selimut, dan menariknya menutupi tubuhnya yang bernanah. Ia meringkuk di dekat pengemis itu untuk mencari kehangatan. Luka-luka anjing itu pecah, nanahnya menodai selimut pengemis itu, membuatnya berbau busuk dan lengket.
Pengemis itu menendang anjing itu dengan marah, sambil berteriak: “Keluar! Keluar! Lihat dirimu, luka nanah dimana-mana. Jangan kotori selimutku. Tidak ada tempat untukmu di sini.” Tak tahan menahan rasa sakit, anak anjing itu perlahan berlari kecil pergi, matanya berkaca-kaca. Malam itu juga, ia mati kedinginan di dekat gerbang kuil.
Keesokan harinya, meskipun pengemis itu bertahan dari dinginnya udara dengan selimutnya, ia mati kelaparan.
Mereka yang Tidak Mau Memberi Tidak Dapat Menerima
Setengah tahun kemudian, umat beriman yang taat itu pergi ke ibu kota untuk mengikuti ujian kekaisaran dan sekali lagi gagal. Dengan sedih, ia mendatangi Gunung Selatan dan mengeluh kepada Sang Buddha. “Jika Engkau sungguh mahakuasa, mengapa Engkau tidak bisa membantu saya lulus ujian? Mengapa saya harus gagal total?”
Sang Buddha bertanya kepada umat itu, “Mengapa Aku harus membantumu?” Sang umat menjawab, “Saya membawa persembahan mendaki gunung dengan penuh pengabdian, bergegas mencapai kuil sebelum hari ulang tahun-Mu tanpa beristirahat sejenak. Hanya karena ketulusan ini, seharusnya Anda membantu saya.”
Sang Buddha memanggil arwah pengemis, yang meratap keras kepada sang umat: “Saya hanya meminta sedikit persembahan untuk mengisi perut saya, namun anda menolak. Anda bahkan tidak memiliki sedikit pun rasa welas asih. Mengapa Sang Buddha harus membantumu? Tetapi Buddha, Anda sungguh kejam. Anda lebih suka melihat saya mati kelaparan daripada memberi saya sepotong makanan. Apakah Anda tidak punya rasa welas asih sama sekali?”
Sang Buddha kemudian memanggil arwah anjing. Sambil menggonggong ke arah pengemis, ia berteriak, “Aku hanya meminta untuk meringkuk di samping selimutmu, untuk berbagi kehangatannya — hanya hal sepele bagimu. Namun kau menolak. Mengapa umat itu harus memberimu? Mengapa Sang Buddha harus menunjukkan belas kasihan kepadamu?”
Akhirnya, Sang Buddha menunjuk umat itu dan berkata, “Memberikanmu kesuksesan dalam ujian kekaisaran hanyalah jentikan tanganKu.” Sambil menunjuk pengemis itu, Beliau menambahkan, “Memastikanmu memiliki cukup makanan dan pakaian juga hanyalah jentikan tanganKu. Namun, engkau menolak untuk memberikan bantuan sekecil apa pun yang engkau mampu kepada mereka yang membutuhkan. Kebajikan apa yang engkau miliki sehingga membenarkan jentikan tangan-Ku kepadamu?”
Siklus Karma
Jika kita menolak mengulurkan tangan membantu ketika kita mampu, apa hak kita untuk menuntut bantuan ketika kita membutuhkan? Apa yang kita berikan kepada orang lain pada akhirnya akan kembali kepada kita. Berhentilah memikirkan apa yang hilang dari anda. Pikirkan apakah anda memiliki lebih banyak daripada orang lain. Pikirkan tentang kebahagiaan yang dibawa oleh harta anda.
Allah mengajarkan bahwa mereka yang kurang bersyukur akan kehilangan bahkan apa yang mereka miliki, dan mereka yang terus-menerus menuntut dari orang lain pada akhirnya akan dituntut dari diri mereka sendiri. Baik dalam hubungan manusia maupun interaksi dengan makhluk lain, selalu ada balasan. Jika tidak langsung, Siklus karma akan memastikan bahwa konsekuensinya pada akhirnya jatuh pada diri sendiri, menanggung beban terakhir.
Tuhan sendiri tidak akan datang untuk membantu anda. Dia akan mengirimkan orang untuk membantu anda. Dan orang-orang yang membutuhkan bantuan kita sebenarnya adalah penerima derma yang diatur untuk membantu kita menabur benih berkah. Perlakukan semua makhluk dengan baik; perlakukan dunia dengan baik. Jauhi semua kejahatan dan pilihlah untuk berada di pihak kebaikan. Apa yang anda tabur, itulah yang akan anda tuai. Perbuatan baik bermanfaat bagi diri sendiri; perbuatan jahat merugikan diri sendiri.
