Budi Pekerti

Mengatasi Perilaku Sensitif

“Tega sekali”… Mungkin kita tak sampai bereaksi keras, setidaknya ungkapan itulah yang kita rasakan ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang keterlaluan.

Tersinggung karena penghinaan blak-blakan, sindiran, ejekan atau hanya karena seseorang kurang peka terhadap kita.

Faktor yang menentukan adalah perasaan dicederai akibat tindakan ofensif yang menargetkan harga diri seseorang atau sasaran kritik. Membuat kita merasa diremehkan, direndahkan dan benci.

Faktor pemicunya bervariasi, tetapi ada beberapa tindakan ofensif yang berdampak pada semua orang. Serangan verbal terhadap penampilan atau karakter seseorang adalah penyebabnya, akan tetapi kita juga cenderung akan bereaksi ketika seseorang menentang cara pandang kita.

Terapis dan kepala klinik Foundations Wellness Center, Justin Baksh mengungkapkan sebagian besar rasa tersinggung dikarenakan seseorang mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan ideologi Anda.

“Ideologi melambangkan identitas dan citra Anda. Anda begitu kuat mempercayainya sehingga serangan terhadap ideologi sama dengan serangan terhadap diri Anda secara pribadi, ”kata Baksh.

Perasaan tersinggung merujuk akan hal-hal yang menjadi kepedulian kita. Sesuatu yang anda anggap sepele maka anda tidak akan tersinggung ketika seseorang mencemoohnya. Tetapi ketika seseorang menyentuh keterikatan anda maka hati anda seketika akan menjadi gusar.

Itulah mengapa sebuah acara debat yang awalnya bersahabat berubah menjadi agresif seiring berjalannya waktu. Logika berganti emosi, ketegangan meningkat, suara semakin keras dan tujuan awal diskusi berubah menjadi sebuah kontes siapa pemenangnya.

“Sebagian besar orang merasa sulit untuk melepaskan diri dari konflik ini. Mengapa? Karena itu berarti mengakui kekalahan,” kata Baksh. “Orang lain tidak menghormati atau tidak mendengarkan anda, lantas anda membiarkannya? Sebagai manusia, hal yang paling menyakitkan adalah tidak dihargai. Ini yang menyebabkan perasaan tersinggung. “

Menafsirkan Sindiran

Sesuatu yang ofensif itu menyakitkan, maka reaksi kita sering kali melawan atau melarikan diri. Namun sebenarnya ada cara lain dari sekedar yang kita pikirkan.

Miron-Shatz mengatakan, apapun bentuk sindiran, kita dapat melenyapkan atau memperkuat kapasitasnya berdasarkan interpretasi kita. Hal-hal yang mengganggu kita sebenarnya bukan karena sindiran itu, tapi lebih kearah bagaimana kita memandangnya sebagai sesuatu yang ingin disampaikan untuk diri sendiri.

Andaikata kita bisa membedakan antara realita dan persepsi, mungkin kita akan berkata, “Sepertinya saya membodohi diri sendiri. Andaikan saya bisa merubah persepsi, mungkin saya merasa jauh lebih baik.”. “Sebenarnya ini maksudnya, tak ada seorangpun yang ingin dirinya tersinggung.”

Ada beberapa kasus ekstrem, yakni orang yang tingkat tersinggungnya sudah kronis adalah individu yang menyedihkan, mereka merasa terhina karena urusan sepele. Mereka salah mengartikan komentar atau isyarat tubuh seseorang sebagai sindiran atau maksud buruk. Kita harus sangat cermat dalam menghadapi orang-orang tipe ini karena ada risiko melukai ego mereka.

Lebih lanjut Shatz menjelaskan bahwa orang-orang seperti itu terjebak dalam anomali bias. Mereka berprasangka seperti “saya tidak diterima, saya tidak dipedulikan” atau “mereka tidak menghargai saya.” Orang demikian berpikiran pendek dan akan terus mencari alibi untuk membuktikan kebenarannya.

“Mereka berusaha mencari kesalahan dalam segala hal karena dunia ini penuh dengan keambiguan,” ujar Shatz. “Jika ada orang tersenyum, anda akan berpikir, ‘Oh, mereka orang baik atau ‘mereka menyukai saya. Tapi anda juga bisa mengira, “mereka cuma kasihan pada saya.'”

Bagaimana membaca situasi disaat merasa tersinggung? Dengan membedakan antara fakta dan bayangan. Pikirkan apa yang dikatakan, kemudian pertimbangkan apakah anda telah memutar maknanya agar sesuai dengan cerita versi Anda sendiri.

“Mungkin ada sesuatu yang salah dengan dunia atau mungkin ada sesuatu yang salah dengan cara kita memandang dunia,” kata Miron-Shatz. “Selama kita tidak memperbaiki diri, kita akan terus mencari bukti bahwa kita sedang diserang atau diremehkan.”

Adakalanya lawan yang anda hadapi berwatak keras, anda masih memutuskan bagaimana menghadapinya, anda boleh belajar dari sajak anak-anak ini. “Tongkat dan batu bisa mematahkan tulang-tulangku, tetapi ejekan dan sindiran takkan pernah menyakitiku.” Kedengarannya sederhana namun orang dewasa pun merasa sulit menjalankannya.

Bagaimana suatu perkataan mampu membangkitkan reaksi yang kuat dalam diri kita? Menurut Paul Levin, hipnoterapis, motivator sekaligus penulis “Your Life Sucks No More: The Ultimate Guide to Manifesting Your Perfect Life,” kepekaan terhadap apa yang dikatakan orang lain berasal dari rasa takut. Resepnya adalah percaya diri.

Perasaan cemas yang berlebihan terhadap pemikiran orang lain tentang kita atau masalah dalam kehidupan kita, kerap membuat kita sulit menerima pendapat yang tidak sejalan dengan kita. Padahal, jika kita 1000% yakin dengan pendapat dan keputusan kita akan suatu hal, maka apapun yang dikatakan orang lain tidak jadi masalah. Yang penting kita benar, itu saja, “jelas Levin.

Selain mengatasi ketakutan yang menyebabkan kita rentan terhadap perilaku ofensif, Levin mengatakan kita juga perlu menghilangkan pemikiran akan takut menyinggung perasaan orang lain. Pemikiran demikian bisa membatasi kebebasan kita dan hanya akan memperkuat perilaku mudah tersinggung pihak lawan.

“Jangan pedulikan, itu masalah mereka. Itu tidak akan mempengaruhi anda,” tambahnya.

Tentu saja, hal ini bukan berarti kita boleh sembarang berucap atau berbuat sesuatu yang memancing amarah seseorang. Akan lebih baik jika anda membagikan pengalaman anda kepadanya dan bantu mereka untuk mengubah pandangan mereka ke arah positif.

“Disaat seseorang memaki anda, cobalah tetap tenang, pikirkan beberapa hal positif tentangnya dan jangan bicara. Mereka seketika akan berubah perilakunya tepat didepan mata,” tukas Levin. (epochtimes/ths/may)