Budi Pekerti

Nasib Seseorang Diubah oleh Hati

Dingshi ©pngtree
Dingshi ©pngtree

Dalam kehidupan seseorang, meskipun sudah ditakdirkan dalam kehidupan, atau apakah seseorang itu kaya atau miskin, seseorang pasti mendapat berkah jika melakukan perbuatan dan bersikap baik, dan bertemu bencana jika melakukan kejahatan.

Nasib seseorang dapat berubah setiap saat, tergantung apakah hatinya baik atau jahat. Langit dan bumi, serta para dewa bisa menilai segala sesuatu dengan sangat jelas tanpa selisih sedikit pun. Jika hati seseorang selalu fokus pada kebaikan, dia akan mengumpulkan banyak keberuntungan dan kebajikan, dan bahkan ketika dia menemui situasi yang berbahaya, dewa akan mengubah ketidakberuntungan menjadi berkah.

Sebaliknya, jika seseorang sering melakukan keburukan, dia akan menanam benih kejahatan, dan bahkan jika ia seharusnya memiliki keberuntungan, dia akan berakhir dengan penderitaan. Ini adalah apa yang kita tahu dari prinsip hukum sebab-akibat. Oleh karena itu, hati seseorang dikendalikan sepenuhnya oleh dirinya sendiri. Dengan kebaikan hati, seseorang akan memiliki nasib yang baik dan dengan hati yang jahat, seseorang akan mendapatkan nasib buruk. Dibawah ini adalah salah satu kisah nyata yang dicatat dalam buku sejarah:

Kisah Ding Shi


Pada masa Dinasti Qing, ada seorang pelajar bernama Ding Shi. Dia sangat cerdas dan bertalenta, dengan kepribadian yang jujur. Namun ia menyukai judi, sehingga dia selalu mendapat kritikan dari ayahnya, tapi dia tidak pernah mengubah kebiasaannya.

Suatu hari, Ding Shi berjalan melewati Kuil Xiangguo, dan seorang peramal membuat dia terkejut dengan berkata, “Kamu terlihat amat baik! Saya sudah membaca garis wajah banyak orang, dan saya bisa melihat penampilanmu yang baik.” Setelah itu peramal tersebut menanyakan namanya, dia menulis dan memasangnya di dinding, “Ding Shi akan menjadi pelajar nomor satu tahun ini.”

Shi sangat gembira dan menjadi sombong, mulai malas belajar karena perasaan puas diri dan kembali melakukan permainan judi untuk bersenang-senang. Ketika dia mendengar ada dua orang kaya dari Sichuan, dia mengundang keduanya untuk berjudi. Ding Shi menang dan akhirnya dia memperoleh enam juta uang tunai.

Beberapa hari kemudian, Ding Shi pergi ke Kuil Xiangguo lagi. Sang peramal sangat terkejut melihatnya dan berkata, “Kenapa kamu tampak begitu mengerikan? Kamu sudah tidak ada harapan lulus ujian, apalagi menjadi pelajar nomor satu.” Saat berbicara, ia melepas kertas dari dinding yang ia tulis beberapa waktu yang lalu sambil mendesah: “Ini bisa merusak nama saya. Baru kali ini saya salah.”

Ding Shi bertanya apa yang harus ia lakukan. Peramal itu menjawab, “Dalam membaca wajah, yang kita lihat pertama adalah dari dahi seseorang. Jika warnanya kuning bercahaya, itu adalah tanda keberuntungan. Sekarang dahimu tampak hitam, kamu pasti memiliki pikiran yang buruk dan memperoleh keuntungan dengan cara tidak halal. Kamu telah membuat langit marah kepadamu.”

Ding Shi berpikir sang peramal pasti tahu apa yang telah dilakukannya, dan bertanya dengan rasa putus asa, “Kami hanya sedikit bersenang-senang. Mengapa begitu serius?” Peramal itu menjelaskan permasalahannya dan berkata, “Jangan berkata kamu sedikit bersenang-senang. Segalanya termasuk perolehan uang selalu diatur oleh dewa. Ketika seseorang mendapat perolehan yang tidak halal, dia akan mengurangi keberuntungannya.”

Ding Shi sangat menyesal atas apa yang ia lakukan dan bertanya dengan cemas, “Dapatkah saya mengembalikan uangnya?” Peramal itu berkata, “Jika dari dalam lubuk hatimu ingin memperbaiki diri, dewa pasti akan mengetahuinya. Jika kamu dapat memperbaiki tingkah lakumu dan berubah menjadi lebih baik, kamu masih bisa lulus ujian.” Ding Shi segera bergegas mengembalikan uangnya kepada pihak yang kalah judi, dan dia bersumpah tidak akan berjudi lagi.

Dan memang, saat daftar kelulusan itu diumumkan, seseorang bernama Xu Duo mendapat peringkat pertama dan Ding Shi mendapat urutan keenam.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI