Budi Pekerti

Orang Menangis dengan Alasan Berbeda

Sesuatu tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan, tapi belum tentu hasilnya buruk. Kadang hasilnya bisa menjadi sesuatu yang indah dan tak terduga.

Pada awal tahun 2016, Christine Herr, dari Lapeer, Michigan, mengambil cuti sehari karena bronkitisnya yang parah. Ibu tiga anak ini pergi menemui dokter, lalu menjemput anak-anak dari tempat penitipan anak sebelum pergi ke apotek untuk menebus resep dokternya.

Christine berpikir, “tidak apa-apa, saya hanya akan melewati drive-thru apotek di Meijer, tidak perlu keluar mobil, sehingga tidak repot.”

Namun ketika sampai di drive-thru apotek, ternyata tempat itu tutup. Ia terpaksa turun dari mobil, membawa anak-anaknya menebus resep di apotek biasa. Ia baru mengetahui bahwa obatnya baru akan siap dalam waktu satu jam.

Di deretan kursi depan ada seorang pria, yang juga sedang menunggu resep. Pria itu tidak berkata apa-apa, tetapi sesekali tertawa melihat celoteh dan polah mereka.

Sambil menjaga ketiga anaknya yang bermain di dalam apotek, staf apotek keluar dan menanyai Christine tentang kartu asuransinya lagi. Christine kemudian mengingatkan sang petugas bahwa asuransinya adalah Asuransi Tricare milik militer, dan berada di bawah nomor jaminan sosial suaminya.

 “Seharusnya sudah ada dalam sistem, tapi dia bilang dia akan mengulang lagi dan menyelesaikannya secepat mungkin. Jadi kami tetap menunggu, ”kata Christine.

Saat itu, si anak bungsu, Evelyn, memandangi Christine seolah-olah sesuatu akan terjadi.

“Evelyn menatapku,” katanya. “Tatapan yang tidak ingin dilihat orang tua ketika mereka sedang menunggu di suatu tempat yang tidak nyaman, dan tidak membawa pakaian ganti.”

Christine dengan cepat mengangkatnya dan bergegas membawanya ke kamar mandi, kedua putranya tepat di belakangnya. Setelah menyelesaikan “keadaan darurat” itu dengan susah payah, Christine kembali ke ruang tunggu apotek. Staf apotek memberitahunya bahwa kartu asuransinya tidak berlaku, tetapi pembayaran sudah dibereskan.

Ternyata pria yang duduk di depan Christine yang telah membayar semua tagihannya. Ia juga pernah berada di militer, dan dia “ingin memastikan bahwa sesama keluarga militer diurus.”

Christine yang sudah teramat lelah segera mengerti apa yang baru saja terjadi dan tak kuasa menahan tangisnya. Seseorang telah “membalasnya” dengan kebaikan, karena pengorbanan yang dilakukan suaminya, berada di militer.

“Saya bukan sedih. Orang-orang menangis karena berbagai alasan. Terkadang orang menangis ketika mereka benar-benar bahagia,” katanya kepada putranya, Jackson, ketika sang putra bertanya mengapa dia menangis.

Christine menceritakan bahwa veteran yang tidak dikenal itu tidak mungkin tahu kalau suaminya akan ditugaskan lagi, atau kalau anggaran sangat ketat; biaya pengobatan akan menjadi beban baginya dan anak-anak.

Tetapi kebaikan hati dan simpati yang dilakukan pria itu membuat perbedaan besar dalam hidupnya.

“Terima kasih kepada veteran yang dermawan di Lapeer Meijer malam ini, yang membelikan obat untuk saya,” tulis di halaman Facebooknya. “Dia tidak tahu bahwa saya benar-benar butuh suntikan semangat.”

 “Dia hanya melihat sekilas potret keluarga kami, lalu membuat pilihan berdasarkan itu. Dan pilihan itu membuat perbedaan besar dalam kehidupan saya.” tutup Christine. (ntd.com/eva)