Menurut Anda pekerjaan apa yang paling sulit? Konstruksi, penambangan? Itu adalah pekerjaan fisik. Bagaimana dengan operasi otak atau astronot yang memperbaiki stasiun ruang angkasa? Ini semua adalah pekerjaan yang sangat sulit, memang, tidak diragukan lagi. Kinerja tinggi membutuhkan banyak dedikasi, dan dibutuhkan ketekunan selama bertahun-tahun sebelum seorang dapat disebut pakar. Namun ada satu pekerjaan yang disebut-sebut sebagai yang terberat dari semuanya. Jadi, pekerjaan apakah itu? Perbaikan diri.
“Semua orang berpikir untuk mengubah dunia, tetapi tidak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.” — Leo Tolstoy
Bukan perbaikan diri mengenai “belajar berbicara di depan orang banyak” atau membentuk badan six pack. Hal itu bisa dilakukan oleh banyak orang dan hanya membutuhkan sedikit usaha dan waktu, meskipun tidak sebanyak usaha yang dilakukan atlet olimpiade atau pengacara.
Sebenarnya, ketika perbaikan diri benar-benar diterapkan, maka tidak lagi disebut perbaikan diri — namun disebut kultivasi. Sama seperti menanam tanaman, Anda harus selalu membersihkan gulma, menghilangkan hama, dan memastikan tanah terhidrasi dengan baik dan mengandung nutrisi penting untuk mempertahankan pertumbuhan yang sehat. Jadi seberapa sulit kultivasi itu sebenarnya?
Hampir dari kita semua telah mencoba mengadopsi kebiasaan yang lebih baik dalam hidup. Bisa jadi itu pergi olahraga ke gym, mengurangi junk food, atau hanya berusaha untuk tidak memiliki rasa dikasihani. Beberapa orang berhasil mempertahankan kebiasaan baru, tetapi sebagian besar berhenti, dan yang benar-benar bisa bertahan akhirnya berhenti setelah beberapa waktu berlalu. Sebuah studi menemukan bahwa resolusi Tahun Baru sebagian besar bertahan sampai sampai 19 Januari.
Kultivasi seperti membuat resolusi pada diri sendiri (seperti berhenti merokok). Bukan kebiasaan keseluruhan (seperti menerapkan gaya hidup sehat). Tetapi sebelum kita melangkah lebih jauh, inilah satu definisi kultivasi: Kultivasi adalah proses memperbaiki diri sendiri, melalui refleksi diri dan belajar, untuk mencapai kondisi moral yang lebih tinggi dan peningkatan secara spiritual. Jadi, apakah kultivasi berarti hidup sebagai seorang bhikkhu? Biksu itu sendiri sebenarnya juga adalah seorang yang berkultivasi. Yah, bukan biksu profesional yang menganggap profesinya sebagai pekerjaan rutin yang diupah dan dijamin kehidupannya. Para biksu seharusnya menjadi kultivator.
Perbedaan antara self-help dan kultivasi
Anda mungkin pernah mendengar mengenai teori self-help, yang mulai menjadi populer di sekitar akhir tahun 1930-an, kala Dale Carnegie dan Napoleon Hill menjadi pendukung utama. Namun itu berbda dengan kultivasi. Self-help lebih ditargetkan pada tindakan individu sementara kultivasi adalah mengubah cara pandang hidup. Self-help membantu dalam membangun kepercayaan diri dan mendapatkan pasangan, sementara kultivasi membantu Anda menjalani kehidupan yang bermakna sambil memahami tujuan Anda dalam lingkungan yang penuh materi. Tapi kemudian, hal ini menimbulkan pertanyaan – mengapa harus memperbaiki diri? Apa tujuannya? Apa intinya?
Memperbaiki diri sendiri adalah usaha mulia. Pentingnya hal ini tidak sekedar diucapkan, namun lebih merupakan panggilan jiwa. Keinginan mendalam yang dimulai dengan pertanyaan: “Siapa saya?” Apa yang saya lakukan disini? Apa tujuan hidup saya? Bekerja, makan, tidur, tertawa – apakah hanya untuk ini semua?
Untuk memperbaiki diri dimulai dengan serangkaian pertanyaan yang membuat Anda merenungkan keberadaan hidup Anda di alam semesta. Kebanyakan orang mengeluh karena tidak dapat beradaptasi dengan rangsangan eksternal, sementara yang lain, lebih gigih, mencari jawaban yang lebih dalam. Dan kemudian, apa yang mereka temukan adalah bahwa untuk mengenali diri sendiri, Anda perlu meningkat. Dengan memperbaiki hati dan pikiran, Anda dapat memahami sedikit lebih baik. Dan kemudian, Anda perlu meningkat lebih banyak, dan prosesnya berjalan.
Mengapa begitu sulit?
Anda mungkin menganggap diri Anda fleksibel. Anda bisa menjadi apa pun yang Anda inginkan, cukup punya keinginan dan keterampilan. Keyakinan ini telah digembar gemborkan melalui media, pendidikan, dan hiburan. Anda hanya perlu percaya bahwa Anda bisa. Tapi itu tidak mudah, bukan?
Mengubah diri sendiri membutuhkan banyak upaya, usaha, dan waktu untuk setiap perubahan yang berarti. Untuk berubah dan kemudian mempertahankan perubahan itu membutuhkan dedikasi tinggi.
Tubuh Anda sangat mudah beradaptasi. Ada banyak keuntungan untuk ini, tetapi seperti dalam banyak kasus, ada juga kesulitan. Salah satu kesulitannya adalah keterbatasan dan kelemahan Anda adalah bagian dalam diri Anda. Ketika Anda berusaha untuk berubah, seluruh tubuh menolak. Otak, otot, dan saraf secara kolaboratif menolak upaya itu karena itu bukanlah Anda.
Bagian dari Anda yang membutuhkan perbaikan telah menjadi unit terpadu yang kuat dalam diri Anda. Jadi ketika Anda ingin melakukan perubahan, rasanya seperti mencabik-cabik diri sendiri. Tubuh menolak. Pikiran menolak. Anda harus memiliki kemauan luar biasa untuk membuat perubahan yang diinginkan. Kemudian, Anda harus terus berupaya untuk mempertahankan perubahan sampai, suatu hari, perubahan itu telah menjadi bagian dalam diri Anda.
Hal itu bagaikan mengambil sepotong baja (misalnya, karakter keras kepala Anda), menghancurkannya, dan menempanya dengan memukulnya dengan palu di atas api. Anda harus melakukan ini berulang-ulang sampai Anda berhasil memperbaiki semua kekurangan Anda. Bisakah Anda bertahan? Apakah Anda memiliki tekad untuk jangka waktu yang jauh?
Ketika seseorang menyakiti Anda, meremehkan Anda, membuat Anda tersinggung, mengkhianati Anda – dapatkah Anda melepaskannya meskipun hati terasa sakit dan bertahan sekuat tenaga? Di saat seperti itu, saat Anda merasa sudah tak sanggup lagi, masalah lain menghantam Anda entah dari mana. Apa yang Anda lakukan? Apakah Anda mampu bertahan dan terus bergerak maju?
Ketika Anda melakukannya dan melakukan upaya luar biasa yang diperlukan untuk meningkat, maka Anda telah melakukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh segelintir orang di Bumi ini — kultivasi. Dan itulah mengapa itu adalah pekerjaan terberat di alam semesta. (eva/visiontimes)
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
