Di suatu desa, hiduplah seorang Ibu Guru yang sangat ramah dan baik hati. Ia selalu memikirkan bagaimana caranya untuk memberikan pendidikan moral bagi siswa-siswinya.
Saat mengajar, ia sering melihat beberapa siswanya saling bertengkar dan membenci satu sama lain.
Hati nuraninya terpanggil, ia menyadari harus memberikan sebuah pendidikan moral untuk memperbaiki watak buruk dari para siswanya tersebut.
Suatu hari, saat mengajar di kelas, Ibu Guru berkata pada siswanya:
“Murid-muridku, Ibu ada sebuah permainan baru nih untuk kalian semua.”
Karena penasaran lalu salah satu murid pun bertanya:
“Wah asyik, permainan apa itu Bu Guru?”
Sambil tersenyum, Ibu Guru berkata: “Ya, ini permainan yang sangat sederhana dan kalian pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Besok pagi, saat berangkat ke sekolah, kalian masing – masing bawalah sebuah kantong plastik yang berisi kentang, tapi ingat, jumlah kentang yang dibawa itu, harus sesuai dengan jumlah teman yang kalian benci dalam kelas ini. Mengerti?”
Sambil mengganggukan kepalanya, murid pun menjawab:
“Mengerti Bu Guru!”
Jadi keesokan harinya, para siswa datang ke sekolah dengan membawa sebuah kantong plastik yang berisi kentang sesuai permintaan gurunya tersebut.
Setiba di dalam kelas, Ibu Guru tersenyum sambil memperhatikan kantong- kantong plastik yang dibawa oleh murid – muridnya. Ia melihat, ada murid yang hanya membawa 1 buah kentang, 3 buah kentang, bahkan ada juga murid yang membawa 5 buah kentang dalam kantong plastiknya.
Kemudian sang Guru berkata: “Bagus sekali, kalian telah melaksanakan tugas dari Bu Guru, nah sekarang permainan ini dimulai ya! Kantong plastik yang berisi kentang ini, kalian bawalah selalu kemanapun kalian pergi, selama seminggu.
Para murid berkata: “Mengerti Bu Guru!“
4 hari berlalu dan kondisi kentang – kentang tersebut pun mulai membusuk dan menimbulkan aroma yang sangat bau, sehingga para siswanya mulai mengeluh, khususnya siswa yang membawa 5 buah kentang dalam kantong plastiknya.
Setelah seminggu, permainan pun berakhir dan semua siswa merasa lega.
Kemudian, sang Guru pun bertanya kepada semua siswanya: “Murid-muridku, bagaimana perasaan kalian saat membawa kentang-kentang itu selama satu minggu ini?”
Murid – murid lalu menjawab: “Bu Guru, kentang – kentang yang kami bawa selama seminggu itu membusuk dan aromanya juga bau, uhhh,,,, kami benar – benar tidak menyukainya!”
Sambil tersenyum sang Guru berkata: “Kentang – kentang busuk itu, sama situasinya, ketika kalian membenci seseorang, di dalam hati kalian. Bau busuk dari kebencian itu akan terus mencemari kemurnian hati kalian. Sesungguhnya kebencian itu akan terus menjadi pengganggu di dalam hati kalian dan juga menyebabkan gangguan bagi orang lain di sekitar kalian.”
Ibu Guru kemudian berkata lagi: “Sekarang pikirkanlah, jika kalian sudah begitu terganggu dan tidak bahagia dengan semua kentang busuk itu hanya dalam waktu satu minggu, bisakah kalian bayangkan bagaimana rasanya hidup dengan kebencian di hati, dalam waktu yang jauh lebih lama lagi?”
Muridpun tersenyum dan menjawab: “Baiklah Ibu Guru, kami sudah mengerti, dan kami berjanji untuk tidak saling membenci serta bertengkar lagi.”
Kebencian terhadap seseorang hanya akan mendatangkan kerugian dan penderitaan bagi diri sendiri, bagaikan sebuah benda busuk yang akan terus mencemari pikiran dan hati kita. Semakin lama kita menggenggam erat kebencian itu, semakin lama pula kita akan menderita.
Karena itu, lepaskanlah hati yang penuh benci dan dendam itu, belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang lain, sesungguhnya, itu bukan hanya berkah bagi orang lain, namun juga adalah berkah bagi diri kita sendiri.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu


