Budi Pekerti

PODCAST Gadis Kecil dan Penjual Kue

Seorang Ibu dan putrinya yang berusia 7 tahun melakukan perjalanan dengan kereta api. Tidak lama setelah mereka duduk, seorang pria penjual kue, bertubuh kurus dan berpenampilan kumal, mendekati mereka dan menawarkan dagangannya.

PODCAST

Dia berkata: “Ayo kuenya, Nyonya, dipilih saja! Enak-enak semua!”

Sang putri lalu berkata:

“Bu, saya ingin makan kue ini, boleh ya Bu, kita beli satu buah saja?”

Namun sang Ibu, yang pernah mengalami kecopetan di dalam kereta api oleh pedagang asongan, merasa curiga pada si penjual kue. Ia menolak permintaan putrinya, dan berkata pada si penjual: 

“Pergi saja sana Pak! Kami tidak mau beli kue!”

Namun si penjual kue tidak marah. Dia malah tersenyum ke putri si Ibu, dan berkata,

“Yah! Sayang sekali ya Nak! Mungkin lain kali ya!”

Si gadis kecil tersenyum balik ke si penjual kue, dan membuat hati ibunya menjadi kesal. Ia segera menarik tangan putrinya itu dan berbisik,

“Hush, jangan senyum-senyum ke dia Put! Sudah, ayo kita pergi.”

Tak lama kemudian, kereta api tiba di stasiun. Ibu menggandeng tangan putrinya bergegas menuju ke pintu keluar. Turun dari kereta, mereka kembali bertemu dengan si penjual kue yang sama, berdiri di samping pintu sambil menjajakan kuenya.

Gadis kecil itu kembali memohon pada Ibunya dan berkata:

“Ibu, bapak itu kelihatannya pucat sekali Bu, boleh tidak kita kasih uang sedikit kepadanya?”

Namun Ibunya menjawab:

“Put, sudahlah, jangan mendekati Bapak itu lagi ya! Nanti kamu diculik lagi! Kelihatannya dia bukan orang baik tau!”

Ibu pun memimpin maju dengan putrinya mengekor di belakangnya. Ketika hendak menyebrang jalan, sang Ibu menjadi gelisah, karena melihat si pria penjual kue menguntitnya. Ibu mengira pria itu berniat jahat. Ia segera memanggil taksi di dekat sana lalu buru-buru mendorong putrinya masuk ke dalam taksi, menyuruh supir taksi untuk segera jalan.

Namun, si penjual kue berhasil tiba sesaat sebelum taksi itu jalan. Ia langsung mengetuk jendela taksi sambil menunjukkan sesuatu di tangannya.

Sang Ibu terkejut melihat barang yang ada di tangan penjual kue tersebut. Ternyata itu adalah gelang emas milik putrinya. Ia pun langsung membuka pintu taksi.

Si penjual kue menyodorkan gelang emas itu dan berkata,

“Maaf Nyonya, ini… tadi tiba-tiba putri nyonya memberikan ini pada saya di depan pintu keluar kereta api. Saya tahu Nyonya pasti tidak tahu tindakan putri Anda, dan saya tahu saya tidak bisa menerima gelang emas yang berharga ini.”

Ibu menerima gelang emas tersebut dengan terdiam. Saat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba si penjual kue itu menyorongkan sebungkus plastik berisi kue.

(Penjual kue): “Dan ini, Nyonya, tadi putri Anda ingin makan kue ini! Saya berikan satu ya, dia pasti kepingin makan! Saya sudah lama tidak melihat senyuman secerah senyuman putri Anda.”

Ibu dengan terbata-bata mengucapkan terima kasih. Otaknya berpikir keras dengan cepat, sebelum akhirnya dia mengatakan:

(Ibu): “Maafkan saya Pak, sudah berprasangka buruk pada Bapak! Saya juga sudah lama tidak merasakan hati sehangat hati Bapak. Ini, saya mohon, terimalah gelang emas putri saya ini sebagai tanda terima kasih atas pelajaran yang berharga ini!”

Jangan biarkan pengalaman buruk Anda menghilangkan kepercayaan Anda pada kemanusiaan. Dan jangan biarkan pikiran negatif Anda menutupi kebaikan orang terhadap Anda.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Dengarkan Podcast kami:

Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu