Hari ini adalah pembagian rapor sekolah anak saya, maka sekolahnya pun diliburkan. Guru akan bertemu muka dengan setiap orang tua murid untuk membicarakan persoalan anak-anak mereka. Yang paling berkesan bagi saya adalah pertemuan pertama dengan Ibu Debby, wali guru kelas 5 anak perempuan saya, Nida.
PODCAST
Ketika giliran saya, Ibu guru Debby memuji-muji anak perempuan saya.
Wah Pak, putri Bapak, Nida sangat pintar, berbakat, dia juga selalu mendapat nilai terbaik dan sepertinya dia tidak mengijinkan satu pun nilai di bawah A. Dia juga suka membantu temannya yang kesulitan belajar.
Hati saya berbunga dan memang saya sangat bangga sekali dengan putri saya.
Namun topik pembicaraannya segera berubah, dia berkata:
“Tapi…setelah Nida menjadi murid terbaik, ada satu hal yang saya kuatirkan. Andaikata pada suatu hari di dalam buku rapornya sudah tidak begitu indah lagi, katakanlah ada satu atau bahkan beberapa nilai B di dalam rapornya, apakah Nida bisa menanggulangi masalah itu?”
Saya dan istri saling memandang sejenak, rupanya perkataan ini membuat kami tersadarkan sekaligus terkejut, berusaha memahami apa yang hendak disampaikan Ibu guru Debby, kemudian Ia melanjutkan bicaranya,
“Sebetulnya anak perempuan saya Kristina, dulu pernah menjadi murid terbaik, setiap mata pelajarannya selalu dapat A. Tapi setelah dia naik ke SMA, karena mata pelajarannya semakin sulit, maka di dalam rapornya ada beberapa nilai B.
Kristina tidak bisa menerima kenyataan nilainya tidak semuanya A, dan dia bukan lagi yang terbaik, karena itu dia mengupayakan dengan segala cara untuk menjadi yang terbaik. Salah satu cara yang ditempuh adalah belajar keras berlebihan, sehingga lupa makan dan istirahat.
Akibatnya… tentunya Anda sudah tahu. Gadis saya hampir saja kehilangan nyawanya karena kelelahan dan beban psikologis yang sangat berat.
Saya hampir saja terlambat, tapi Tuhan masih berbelas kasih pada saya, gadis remaja saya selamat. Dan untuk kesembuhannya, saya butuh berbulan bulan mendukungnya.
Ada hal yang lebih penting dari sekedar nilai A, yaitu Kristina mampu mengatasi persoalan hidup, ini jauh lebih penting daripada nilai A.”
Kemudian ia melanjutkan lagi,
“Saya menceritakan kisah ini kepada Anda, supaya mencegah peristiwa ini jangan sampai terulang lagi. Saya menyayangi Nida, sama seperti saya menyayangi anak saya sendiri. Harapan saya yang terbesar Nida bertumbuh dengan sehat, baik jiwa dan raganya. Jika ini terjadi, itu adalah kebahagiaan saya sebagai seorang pendidik.”
Saya memahami apa maksud dari cerita Ibu Guru Debby. Sejujurnya, tidak terpikirkan bahwa terlalu membanggakan anak, bisa berdampak buruk di kemudian hari, terkilas saya pun menuntut Nida untuk selalu mendapatkan nilai terbaik, tanpa memikirkan dampak kedepannya.
Sesampainya di rumah saya disambut Nida, dan dengan antusias dia bertanya,
“ Ayah…. Bagaimana dengan nilai rapor saya Ayah?
Saya tersenyum dan memeluknya, sambil berkata:
“Nilaimu bagus nak, tapi Ayah lebih bangga karena hatimu yang baik, Ibu Guru Debby mengatakan kamu suka membantu temanmu yang kesulitan belajar. Terima kasih nak, sudah menjadi anak Ayah yang baik.
Adalah bijak mendorong anak untuk berprestasi dan menemukan potensi terbaiknya, namun akan lebih berharga baginya ketika dia bisa menyelesaikan persoalan- persoalan yang dihadapinya di masa depan.
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
Dengarkan Podcast kami:
Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu


