Budi Pekerti

PODCAST Kasih Sayang yang Terlupakan

Di sebuah desa, tinggallah seorang Ibu dengan dua orang putrinya, Rini dan Tina.

PODCAST

Rini sang kakak mempunyai wajah yang biasa-biasa saja, sedangkan sang adik Tina, memiliki wajah yang sangat cantik.

Perbedaan wajah kedua putri itu menarik perhatian banyak orang. Banyak tetangga serta saudara mereka, yang meramalkan bahwa Tina sang adik yang cantik, pasti akan menjadi model atau bintang film sukses di masa depan, namun tidak ada yang menaruh perhatian pada Rini sang kakak yang berwajah biasa saja.

Sang Ibu, walaupun menyayangi keduanya, lama-kelamaan menjadi percaya omongan orang dan menaruh harapan besar pada Tina anaknya yang cantik untuk menjadi seorang bintang di masa depan. Tanpa sadar, ia banyak menghabiskan uang untuk les-les model dan akting bagi Tina, membelikannya baju, make-up, dan berbagai kemewahan lain untuk putri cantiknya tersebut, dan kurang memperhatikan putrinya yang lain.

Lama-kelamaan, sang adik cantik Tina tumbuh menjadi anak yang egois dan narsistik, sementara sang kakak Rini tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri dan selalu murung dan pendendam.

Tahun berganti tahun, kedua anak perempuan ini kini telah dewasa. Tina telah berkarir menjadi seorang model di kota besar, sementara kakaknya Rini mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor menjadi sekretaris yang biasa-biasa saja. Kehidupan terlihat berjalan normal, sampai suatu hari sang Ibu tiba-tiba jatuh sakit dan diopname. Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter berkata:

“Bu, ginjal Ibu bermasalah dan tidak bisa diobati. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan melakukan transplantasi. Apakah Ibu memiliki sanak saudara yang dapat ditest untuk kecocokan ginjalnya? Jika sanak saudara itu bersedia, kita harus segera melakukan proses transplantasi demi kesembuhan Ibu.”

Sang Ibu sangat terkejut dan sedih mendengar hal ini. Ia pun segera menelpon kedua putrinya Rini dan Tina, dan keduanya segera datang ke rumah sakit. Setelah mendengar keterangan dokter, kedua putri ini terdiam. Ibu mereka bertanya dengan pedih:

“Rini, Tina,… hidup Ibu akan terancam jika tidak segera transplantasi. Apakah kalian bersedia untuk melakukan pengetesan ginjal, dan jika ginjal kalian cocok, apakah kalian bersedia memberikan satu untuk Ibu? Ibu tidak bisa memaksa kalian…. Ini tergantung ketersediaan kalian…..”

Rini dan Tina terdiam cukup lama. Mereka saling melirik.

(Tina): “Uh… Bu…. Bagaimana kalau kak Rini dulu yang ditest ginjalnya? Kalau tidak cocok baru aku ditest…. Masalahnya… uh…. Aku lagi sibuk dengan pekerjaanku Bu… ini saja kesini aku sudah setengah mati minta cuti, bahkan sempat dimarahi bosku, Bu…”

Sang Ibu yang mendengar hal ini pun hancur hatinya. Air matanya mengalir, dan ia mulai terisak. Ia tidak menyangka anak kesayangannya yang cantik, Tina, tega berkata seperti itu padanya. Tina pun menundukkan kepala, tidak berani melihat Ibunya.

Ibu lalu mengalihkan pandangan pada putri pertamanya Rini, sambil mengusap airmatanya: “Rini, Nak,…. Bagaimana denganmu? Apakah kamu bersedia menjalani test ginjal itu?”

Rini menatap Ibunya dengan pandangan kosong. Perlahan ia berkata: “Tidak masalah, Ibu. Dari dulu toh Ibu tidak pernah menyayangiku. Dari dulu aku merasa hidupku ini tidak berarti. Tidak masalah satu ginjalku atau dua ginjalku diambil untuk Ibu, karena aku ini tidak berarti apapun….”

Mendengar kata-kata jujur dari putri pertamanya ini kembali membuat hati Ibu hancur berkeping-keping. Ia menangis terisak-isak, hingga Tina si putri kedua tidak tahan. Ia pun berdiri dan bergumam, hendak keluar menelepon seseorang. Sementara Rini tetap duduk mematung disana. Lama ia duduk menemani Ibunya menangis tanpa berkata sepatah kata pun. Setelah tangis Ibunya mereda, ia pun berkata: “Ibu, tidak usah menangis lagi. Aku bukan anak yang egois seperti Tina. Menurutku, sikap Ibu selama ini-lah yang menyebabkan hal ini. Semuanya sudah terjadi, sudah terlambat, menyesal pun sudah tidak bisa. Sekarang Ibu hanya memiliki dua putri, Tina yang egois dan aku yang pendendam.
Sudah lama hatiku ingin memberontak seperti ini pada sikap Ibu yang pilih kasih. Tapi aku sadar diriku bukanlah siapa-siapa. Karena Tina sudah pergi, Ibu hanya bisa memilih aku, dan aku sudah bersedia untuk menyumbangkan ginjalku jika memang cocok. Terimalah diriku ini apa adanya, Bu, untuk sekali ini saja.”

Ibunya kini hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil kembali terisak. Ia pun memeluk Rini dengan sepenuh hati. Rini yang kaku, perlahan berubah menjadi lembut dan membalas pelukan Ibunya.

(Rini): “Sudah Bu, jangan menangis lagi. Aku akan lapor ke dokter sekarang untuk menjalani test ginjal itu ya!”

Ibu pun mengangguk.

Tak lama, Rini pun menjalani prosedur pengetesan ginjal, dan untunglah, ternyata ginjalnya memang cocok. Ia dan Ibunya pun menjalani operasi transplantasi ginjal, dan operasi itu dinyatakan sukses. Sang Ibu kini kembali sehat.

Sebelum meninggalkan rumah sakit, Ibu bertanya dengan tulus pada Rini: “Rini, Nak, bolehkan Ibu menebus kesalahan Ibu di masa tua ini? Biarkan Ibu tinggal bersamamu, Ibu ingin memanjakanmu dan memasakkanmu masakan-masakan enak setiap hari! Biarkan Ibu menunjukkan padamu, bahwa dirimu berarti sangat besar bagi Ibu dan orang lain! Kamu telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk Ibu, jadi biarkan Ibu membalas kebaikanmu, ya!”

Rini menatap Ibunya dengan ragu. Rasa dendam masih tersisa di dalam hatinya, tetapi kedekatannya dengan Ibunya belakangan ini telah perlahan mengobati rasa sakit hatinya. Hatinya yang selalu dingin, kini mulai dihangati oleh cinta kasih Ibunya.

Rini pun berkata, “Baiklah Ibu. Tinggallah bersamaku.”

Begitulah, Rini dan Ibunya kini mulai tinggal bersama, menebus kembali kasih sayang yang terlupakan dari masa kecil Rini. Sementara sang adik Tina, hanya menelepon beberapa kali menanyakan kabar Ibunya, namun tidak pernah datang menjenguk.

Sebagai orangtua, adalah bijak untuk memberi kasih sayang yang adil tanpa membeda-bedakan. Sikap pilih kasih dari orangtua, akan memberikan dampak psikologis yang sangat besar bagi anak-anaknya di masa depan, dan akan harus ditanggung oleh orangtua mereka di masa tuanya kelak.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Dengarkan Podcast kami:

Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu