Budi Pekerti

PODCAST Kecerdikan

Seorang kakek pulang dari mengumpulkan kayu di hutan. Di perjalanan, ia berjumpa seorang pemuda yang tinggal dekat rumahnya, ia baru saja menangkap seekor kupu-kupu di genggamannya.

PODCAST

Pemuda ini menantang si kakek dan berkata:

“Kakek, saya ada sebuah pertanyaan, dan bagaimana kalau kita bertaruh?”

“Baiklah anak muda, bagaimana taruhannya?”

“Ada seekor kupu-kupu dalam genggamanku, coba kakek tebak apakah, dia masih hidup atau sudah mati? Nah, kalau kakek kalah, sepikul kayu itu jadi milik saya ya!”

Sang Kakek termenung sejenak mendengar tantangan si pemuda. Setelah menimbang-nimbang, ia pun mengangguk setuju, lalu berkata:

“Anak muda, kupu-kupu dalam genggamanmu itu sudah mati.”

“Hahahaha… sayang sekali, Kakek salah.”

Pemuda itu pun membuka genggaman tangannya, dan kupu-kupu itu pun terbang.

Kakek itu tidak terlihat kaget. Dengan tersenyum, ia menyerahkan potongan-potongan kayu miliknya pada si pemuda lalu pergi.

Dengan gembira, si pemuda membawa pulang kayu-kayu tersebut ke rumahnya, lalu bercerita tentang kejadian hari itu pada Ayahnya dengan bangga.

Begitulah ceritanya aku bisa mendapatkan potongan-potongan kayu bakar ini dengan mudah, Ayah! Aku bahkan tidak perlu melangkahkan kakiku ke hutan! Cerdik, kan, aku?

Namun tak disangka, Ayahnya menjadi sangat marah. Ia berkata:

“Hah? kamu mengira kamu betul-betul menang? Masih memanggil diri sendiri cerdik, lagi! Bodoh sekali kamu! Kita harus mengembalikan kayu-kayu itu minta maaf ke Kakek itu sekarang juga!”

“Apa maksud Ayah? Memang betul aku menang dan berhak atas kayu ini! Kakek itu kan salah menjawab pertanyaanku!”

Ayah dengan sedih menatap putranya yang keras kepala. Ia lalu menjelaskan.

“Anakku, dengarkan baik -baik ya, begitu kakek bilang kalau kupu-kupu itu sudah mati, kamu baru mau melepaskannya, sehingga kamu merasa ‘menang‘. Dan jika kakek mengatakan kupu-kupunya masih hidup, kamu pasti langsung meremas hewan lemah itu dalam genggamanmu hingga mati.

Kamu juga yang akan menang taruhan! Apa kamu mengira kakek itu tidak tahu kelicikanmu? Sebenarnya beliau merelakan kayu-kayunya itu demi menyelamatkan sang kupu-kupu! Kakek itu sebenarnya lebih cerdik daripada kamu, tapi kecerdikannya adalah berbelas kasih!

Sang pemuda terdiam mendengar hal ini. Dalam hati, ia mengakui “kecerdikannya” adalah kelicikan, sementara si kakek yang pintar menggunakan “kecerdikannya” untuk hal yang baik dan belas kasih. Ia pun berangkat bersama Ayahnya untuk mencari Kakek yang baik hati tersebut untuk minta maaf.

Kecerdikan yang sejati adalah berbelas kasih, memikirkan kebahagiaan orang lain tanpa pamrih dan keegoisan. Sementara kecerdikan yang tidak baik, pada akhirnya hanya dapat disebut “kelicikan”.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Saksikan video kami:

Youtube ☛ https://www.youtube.com/ntdkehidupan
Dailymotion ☛ https://www.dailymotion.com/ntdkehidupan

Dengarkan Podcast kami:

Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

VIDEO REKOMENDASI