Di suatu masa, hiduplah seorang nenek kaya yang bijaksana, dan memiliki putri yang masih muda dan cantik. Nenek sangat menyayangi putrinya ini, dan bertekad hendak mencarikan seorang pemuda baik untuk menjadi suaminya.
PODCAST
Nenek pun memutar otak untuk mencari cara. Saat ia berkeliling desa untuk berbelanja, ia akan sengaja membayar lebih banyak sedikit dari harga. Telah banyak toko yang ia masuki, namun belum ada pemilik toko yang mau dengan jujur mengembalikan kelebihan uangnya yang sedikit itu.
Hingga suatu hari, Nenek membeli kain dari seorang pemuda, yang menjajakan barangnya di pinggir jalan. Seperti biasa Nenek akan membayar lebih banyak sedikit dari harga yang ditentukan. Namun ternyata si pemuda dengan tekun menghitung kembaliannya, dan memberikannya pada Nenek.
“Nek, ini Nenek bayarnya kelebihan.”
“Oh, begitukah Anak Muda? Baik, baik, terima kasih kembaliannya. Anak Muda, maukah kamu mengantar saya pulang ke rumah, sebab saya sudah lelah, saya takut akan terjatuh di tengah jalan!”
Sang pemuda yang sopan itu segera menyanggupinya. Ia membereskan barang dagangannya lalu mengantar Nenek pulang ke rumah.
Nenek menyuguhkan teh padanya dan mengajaknya mengobrol.
“Anak muda, mengapa kamu sendirian saja berjualan? Apakah kamu memiliki anak dan istri?”
“Tidak Nek, saya tidak punya istri maupun anak. Namun saya memiliki ibu yang sudah tua dan harus saya rawat setiap hari. Usaha menjual kain ini pun baru saja saya mulai, saya tidak berani berpikir untuk mencari istri!”
“Maukah kamu berkenalan dengan putri saya? Sebagai teman!”
Sang Nenek pun memperkenalkan putrinya di rumah pada sang pemuda. Kepada putri Nenek yang cantik dan lemah lembut, si pemuda langsung jatuh hati, namun ia tidak berani mengungkapkan perasaannya.
Setelah beberapa waktu, Nenek yang bijak itu memanggil si pemuda, dan berkata: “Saya bisa merasakan perasaanmu pada putri saya. Apakah kamu tertarik padanya?”
“Tidak Nek, saya tidak berani! Orang miskin seperti saya tidak pantas bersanding dengan putri Nenek. Saya tidak memiliki uang untuk menikah, apalagi membahagiakan putri Nenek!”
Nenek tersenyum mendengar kata-kata si pemuda.
“Anak Muda, kejujuran, kesopanan dan kerajinanmu adalah kualitas yang jauh lebih berharga dibandingkan harta. Jangan kuatir dengan biaya pernikahan, saya akan menanggungnya! Dan kamu bisa mengelola bisnis saya setelah kamu menikahi putri saya.”
Begitulah, akhirnya sang pemuda menikahi putri si Nenek, dan pindah ke rumah Nenek yang besar. Berkat kerajinan dan kejujurannya, sang pemuda berhasil mengelola bisnis mertuanya dengan sangat baik.
Seringkali orang menilai orang lain berdasarkan status, kedudukan, maupun harta yang dimilikinya.
Namun kualitas penting dari seorang manusia seperti kejujuran, rendah hati dan kerajinan sering dikesampingkan.
Pastikan Anda memperhatikan kualitas ini saat Anda mencari pasangan hidup, teman, bawahan, atau siapapun yang akan membantu Anda mencapai tujuan hidup!
Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.


