Tag: patuh

  • Ketika Anak-anak Tidak Taat: Mengabaikan Ketidaktaatan, Mengarah pada Perilaku Destruktif

    Ketika Anak-anak Tidak Taat: Mengabaikan Ketidaktaatan, Mengarah pada Perilaku Destruktif

    Seorang gadis kecil mengenakan tutu biru terlihat beberapa hari yang lalu ketika saya berjalan melewati tempat parkir sekolah. Tapi bukan tutu (rok yang berbahan dasar kain tulle, awalnya dikenakan para penari balet.

    Bahannya menerawang dan ringan, sehingga membuat bentuknya bisa mengembang cantik) yang menarik perhatian saya—namun bermacam perintah dan bujukan ibunya yang dia abaikan dengan sengaja.
    “Sudah waktunya untuk pergi, sayang!” Tidak ada gerakan. “Kita harus pulang sekarang,” terdengar permintaan yang berulang-ulang, tetapi gadis kecil bertutu itu terus bermain di balik tumpukan salju yang semakin menipis. “Satu … dua,” seru sang ibu yang semakin frustrasi mulai menghitung.

    Meninggalkan pasangan ibu-anak yang sedang berusaha menyelesaikan masalah “rumah tangga” mereka, saya kemudian bertemu anak lain yang sedang bermain, sementara orang tuanya melihat. Berulang-ulang mengatakan “waktunya pulang!” tetapi tidak berhasil. Si ibu akhirnya memberi tahunya bahwa dia hanya punya satu menit lagi untuk bermain, tetapi dalam beberapa detik, dia juga mengatakan pada si gadis kecil bahwa “menitnya sudah habis,” benar-benar mengingkari — tampaknya tidak jujur ​​— janji yang baru saja dibuat. .

    Saya mengerti. Faktanya, siapa pun yang pernah mengasuh anak kecil akan menemukan hal yang sama. Anak-anak memiliki pikirannya sendiri dan tidak serta merta patuh secara alami. Selain itu, tidak ada orang dewasa yang menikmati masa-masa malu dan kesulitan menghadapi tantrum anak di depan publik. Hal yang mudah dilakukan adalah “membiarkan” ketidaktaatan, membujuk dan memanjakan anak sebagai gantinya.

    Apa yang banyak kita lupakan, bagaimanapun, adalah bahwa pendekatan akan ketidaktaatan di masa kanak-kanak seperti ini, tidak hanya akan mempengaruhi anak dan orang dewasa yang bekerja dengan anak itu, namun juga memengaruhi masyarakat secara luas dalam banyak cara negatif, sebuah fakta yang banyak kita lihat di masa kini.

    Alasan berdampak negatif pada masyarakat adalah kegagalan seorang anak untuk belajar patuh pada otoritas yang tepat, membangun ketidakpercayaan, kebingungan, dan penolakan otoritas yang sah, saat anak itu tumbuh menjadi dewasa. Penulis dan pembicara Elisabeth Elliot telah menyampaikan ide ini kira-kira 50 tahun yang lalu dalam bukunya “Let Me Be a Woman“:
    “Kegagalan untuk memenuhi ancaman dan janji melatih seorang anak untuk mengabaikan apa yang dikatakan. Itu melatihnya untuk berbohong. Orang tua tidak dapat dipercaya, oleh karena itu mereka tidak perlu dipatuhi, oleh karena itu tidak ada otoritas yang dapat dipercaya atau perlu dipatuhi. Ketaatan adalah opsional, tergantung pada kenyamanan atau kecenderungan atau imbalan yang jelas.”

    Tetapi tindakan (atau kelambanan) orang tua seperti itu tidak hanya melatih anak untuk berbohong, tetapi juga melatihnya untuk mempercayai kebohongan. Ketika seorang anak tidak dapat mengandalkan orang tua atau guru untuk menindaklanjuti, dia hidup di dunia yang tidak pasti, yang menciptakan kekacauan lebih lanjut dalam hidupnya dan bahkan mungkin cukup membingungkannya untuk mengikuti dan mempercayai otoritas lain yang mengatakan kebohongan lebih lanjut dan menariknya ke bawah. Ke jalan yang merusak.

    “Seorang anak harus tahu pertama-tama dan tanpa keraguan bahwa kata yang diucapkan akan menjadi kata yang dilaksanakan,” tulis Elliot. “Ancaman (‘Jika Anda tidak melakukan ini, Anda akan dipukul’) atau janji (‘Jika Anda mengambil semua mainan Anda, Anda akan mendapatkan es loli’)—jika tidak dilakukan akan merusak moral anak. ”

    Dan rusaknya moralitas itulah yang kita alami saat ini. Kita melihatnya pada orang-orang yang memberontak yang secara teratur terlibat dalam smash-and-grab di toko-toko atau membajak mobil lain. Ini terlihat pada siswa yang marah tidak menghormati mereka yang menyajikan sudut pandang yang berbeda dari mereka sendiri. Mengangkat kepalanya pada mereka yang merobohkan patung-patung itu karena mengira mereka adalah simbol dari masa lalu yang rasis. Dan juga muncul pada orang-orang yang membodohi diri sendiri dengan berpikir bahwa seorang pria bisa menjadi seorang wanita, atau bahkan mereka yang tidak dapat secara jujur ​​mendefinisikan apa itu wanita.

    Faktanya adalah, ketika anak-anak tidak belajar bagaimana merespons dengan benar dan berinteraksi dengan orang tua mereka — otoritas pertama dan terpenting mereka — mereka tidak akan tahu bagaimana merespons otoritas lain di masa depan.

    Dengan demikian mereka berisiko disesatkan atau disalahgunakan oleh otoritas tersebut, atau sebaliknya, menyalahgunakan otoritas itu sendiri.
    Dewasa ini, banyak yang melihat bangsa ini semakin menurun dan bertanya-tanya apa yang dapat mereka lakukan secara pribadi untuk membantunya mengubah pandangan. Jawabannya hanya satu. Latih anak-anak Anda untuk taat. Tindak lanjuti tidak hanya pada ancaman Anda, tetapi juga pada janji Anda.

    Dengan demikian, Anda akan membesarkan anak-anak dengan kompas moral yang tepat, yang kemudian akan memiliki ketajaman dan karakter untuk memajukan jenis pemerintahan yang akan membuat bangsa kita makmur sekali lagi. (annie holmquist/theepochtimes/feb)

    Lebih banyak artikel Keluarga, silahkan klik di sini

    VIDEO REKOMENDASI

  • Hilangnya Pahala

    Hilangnya Pahala

    Dahulu di kota Changzhou, Jiangsu, ada sebuah kuil Tao. Di aula dalam kuil tersebut terdapat sebuah patung dewa. Ada seorang anak kecil setiap hari menjual kacang membantu perekonomian keluarganya, setiap hari dia akan melewati kuil ini, dia melihat patung dewa di dalam kuil sangat agung dan damai, anak kecil ini sangat menghormatinya dan selalu berhenti di depan kuil dalam waktu lama baru meninggalkan tempat tersebut.

    Pada suatu hari ketika dia melewati kuil ini untuk menjual kacang, dia berhenti lama di depan kuil seperti biasanya untuk menghormat. Tiba-tiba saja dia melihat patung dewa tersebut bergerak, bahkan melambaikan tangan kepadanya, memanggilnya masuk ke dalam kuil. Setelah anak kecil ini masuk ke dalam, dia melihat di tangan dewa menggenggam sebuah uang koin, seolah ingin membeli kacangnya, tapi anak ini tidak mengambil uang dewa, dan dengan sangat hormat memberikan semua kacang yang dibawanya di altar dewa.

    Patung dewa terlihat sangat gembira, mengambil sebutir pil berwarna merah diberikan kepada anak kecil ini, anak kecil ini menelan obat yang diberikan oleh dewa, tiba-tiba dia merasa agak doyong, seolah-olah seperti meminum anggur, kemudian dia merasa hatinya sangat tenang, di dalam otaknya seperti sangat jernih dapat mengerti banyak hal.

    Anak kecil ini kemudian pulang ke rumahnya, mengambil kertas, menulis puisi, semua karya tulis dan puisi yang ditulis bahasanya sangat indah. Mulai saat itu semua orang mengetahui anak kecil ini bukan anak biasa.

    Hal tersebut telah setahun berlalu, pada suatu hari, dia mendengar di lapangan di kotanya ada seorang narapidana yang akan dihukum mati, dia lalu berlari ke lapangan melihat keramaian.

    Dia melihat seorang narapidana yang akan dihukum mati tersebut, di hatinya tidak timbul belas kasih, malahan bersama orang lain berteriak ke arah narapidana tersebut, terlihat sangat gembira.

    Pada saat hukuman akan dijatuhkan, dia merasa seperti ada orang yang menampar pipi kirinya, bersamaan dengan bunyi tamparan yang keras, ia terbatuk, dan sesuatu keluar dari mulutnya terbang ke atas langit.

    Mulai saat itu, anak kecil ini kembali seperti dahulu, seperti seorang anak kecil biasa, semua kemampuan, keahlian dan kepintarannya lenyap.

    Anak kecil ini karena hormat dan kekagumannya terhadap dewa, maka mendapat pahala, tetapi dia kehilangan pahala tersebut karena sifatnya terhadap orang yang dihukum mati, walaupun narapidana terhukum mati melanggar hukum yang pantas membuatnya dihukum mati, tetapi sifatnya yang bergembira atas kesusahan orang lain adalah tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan para dewa. (epochtimes)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

  • PODCAST Kita Belajar dan Selalu Belajar

    PODCAST Kita Belajar dan Selalu Belajar

    Ketika menghadapi kesulitan, kita belajar untuk menjadi lebih kuat.

    Ketika berhasil melewati kesulitan, kita belajar untuk bersyukur.

    PODCAST:

    Ketika dikelilingi banyak hal negatif, kita belajar untuk tetap positif.

    Ketika bingung dengan kehidupan, kita belajar untuk merangkul harapan.

    Ketika dicela dan dihukum, kita belajar untuk menerima kesalahan dan memperbaikinya.

    Ketika bertemu orang yang tidak sejalan, kita belajar untuk menghargai perbedaan.

    Tidak peduli apapun itu, segala yang terjadi adalah kesempatan bagi kita untuk belajar,  menjadi lebih baik, lebih dewasa dan lebih bijak.

    Pengalaman adalah guru terbaik, jadi jangan sia-siakan setiap kesempatan yang ada, untuk belajar dan melangkah maju ke depan!

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Saksikan video kami:

    Youtube ☛ https://www.youtube.com/ntdkehidupan
    Dailymotion ☛ https://www.dailymotion.com/ntdkehidupan

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

    REKOMENDASI VIDEO INSPIRASI

  • PODCAST Harga dari Aroma Roti

    PODCAST Harga dari Aroma Roti

    Suatu ketika ada seorang petani yang pulang ke rumah setelah bekerja di ladangnya. Dalam perjalanan pulang, ia melewati sebuah toko roti.

    PODCAST:

    Petani yang merasa lelah dan lapar itu, terhenti langkahnya saat ia menghirup aroma roti segar yang menggoda dari si toko roti. Ia meraih uang di dalam sakunya, namun hanya menemukan beberapa uang logam, dan tidak akan cukup untuk membeli sepotong roti.

    Akhirnya petani malang ini hanya berdiri disana, menghirup aroma roti dalam-dalam sambil membayangkan ia memakannya.

    Ternyata tingkah-lakunya itu diamati oleh pemilik toko roti dari dalam toko. Pemilik toko yang terkenal amat kikir ini, menjadi amat kesal dan marah. Ia pun menghampiri si petani dan berkata:

    “Hey petani! Aku lihat kamu sudah lama berdiri di depan tokoku ini. Kamu pasti sedang menghirup aroma rotiku kan! Nah, sayang sekali, aroma rotiku tidak gratis! Ayo bayar!”

    Si petani menjadi sangat kaget, lalu berkata:

    “Ma…maaf Pak! Saya hanya mencium aromanya saja, sama sekali tidak memakan rotimu. Mengapa saya harus bayar?”

    Tapi si pemilik toko roti bersikeras bahwa menghirup aroma rotinya berarti sama dengan memakan rotinya, dan petani harus membayar. Si petani pun terdiam agak lama, sebelum tiba-tiba ia menemukan sebuah akal.

    Petani mengambil beberapa keping uang logam yang ada di sakunya, kemudian ia menggerincingkan uang logam itu di genggamannya. Setelah itu, ia pun berjalan pergi.

    Si pemilik toko roti yang masih merasa kesal itu menghentikannya dan berkata:

    “Hey berhenti! Kamu tidak boleh pergi sebelum membayar!”

    “Loh saya kan sudah membayarnya barusan. Kamu sudah mendengar suara gemerincingan uang logam saya kan? Kalau menghirup aroma rotimu saja dianggap telah memakannya, itu artinya sama kalau kamu mendengar suara gemerincingan uang logam saya, berarti kamu telah menerima uang saya.”

    Dalam hidup, kita bisa saja bertemu dengan orang yang curang dan licik seperti si tukang roti. Dan terkadang kita juga perlu memanfaatkan taktik lawan, untuk mengalahkan lawan.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Saksikan video kami:

    Youtube ☛ https://www.youtube.com/ntdkehidupan
    Dailymotion ☛ https://www.dailymotion.com/ntdkehidupan

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

    REKOMENDASI VIDEO INSPIRASI

  • PODCAST Ujian Guru untuk Menentukan Penggantinya

    PODCAST Ujian Guru untuk Menentukan Penggantinya

    Suatu ketika seorang Guru bijak memiliki tiga murid utama. Karena Guru semakin tua, dia memutuskan untuk memilih salah satu dari mereka sebagai penggantinya.

    Untuk menguji kebijakan dari tiga murid tersebut, ia memanggil mereka dan berkata:

    “Murid-muridku, saya akan berkelana selama beberapa bulan, ini tiga kantong bibit tanaman. Kalian masing-masing ambillah satu, dan simpan baik-baik sampai nanti saya kembali. Nanti saya akan memeriksanya.”

    Kemudian, ketiga murid itu masing- masing mengambil satu kantung berisi bibit tersebut.

    Setelah sang Guru berangkat, murid pertama segera menyimpan sekantong benih itu di dalam kotak berharganya, lalu menguncinya baik-baik dengan aman.

    Sementara murid kedua berpikir bahwa jika sekantong benih itu disimpan, tentu akan busuk. Ia pun menjual benih-benih itu di pasar, dan menyimpan uangnya untuk dibelikan benih baru saat Gurunya pulang nanti.

    Dan si murid ketiga, menyimpan bibit itu dengan caranya sendiri.

    Beberapa bulan kemudian, Sang Guru pun kembali dan memanggil ketiga muridnya dan berkata:

    “Murid- muridku, coba kalian perlihatkan kembali bibit tanaman yang saya tugaskan kepada kalian.”

    Murid pertama mengeluarkan sekantong bibit yang disimpan. Dan saat diperiksa, ternyata semua bibitnya sudah membusuk.

    Ketika Guru meminta kantung bibit pada murid kedua, dia langsung pergi ke pasar dan membeli kembali bibit baru serta memberikannya kepada sang Guru.

    Giliran si murid ketiga, ia mengajak sang Guru ke halaman belakang rumah, dan menunjukkan sebuah taman bunga baru disana. Ia berkata:

    “Guru lihatlah, ini bibit-bibit yang Guru berikan, saya menanam dan merawatnya, dan kini, benih-benih itu telah tumbuh menjadi bunga-bunga yang sangat indah.”

    Akhirnya sang Guru memutuskan, bahwa murid ketiganya-lah yang terpilih untuk menjadi penggantinya.

    Apapun yang kita miliki, dapat bertahan jika kita memanfaatkannya ataupun membudidayakannya. Jika kita memiliki sesuatu, dan hanya menyimpannya begitu saja, lama kelamaan nilai benda tersebut akan berkurang, kecuali kita membudidayakannya untuk suatu manfaat.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Cara Menangkap Kepiting

    PODCAST Cara Menangkap Kepiting

    Ada seorang nelayan yang setiap hari menangkap kepiting, untuk dijual ke pasar.

    Setiap hari, dia selalu berhasil mendapatkan banyak kepiting.

    PODCAST:

    Untuk menangkap kepiting, dia hanya memerlukan sebatang kayu, dan cukup dengan satu alat itu saja, dia pun berhasil menangkap banyak kepiting.

    Suatu hari, nelayan yang lain merasa heran dengan caranya menangkap banyak kepiting, jadi dia bertanya: “Hai kawan, saya melihat, kamu selalu berhasil menangkap kepiting hanya dengan menggunakan sebatang kayu, dan tanpa memerlukan peralatan lain apapun. Memangnya, bagaimana caranya kamu bisa menangkap kepiting hanya dengan menggunakan sebatang kayu?”

    Si nelayan pertama menjawab: ”Oh, itu mudah saja, mari saya tunjukkan caranya kepadamu.”

    Jadi hari itu, mereka berdua pergi ke sarang kepiting.

    Setelah menemukan satu sarang kepiting, nelayan pertama menggunakan sebatang kayu, untuk mengetuk-ngetuk bagian atas cangkang kepiting.

    Kepiting itupun langsung marah, dan segera mencapit batang kayu tersebut.

    Kemudian, dengan mudah si nelayan mengangkat kepiting marah yang mencapit batang kayu yang dia pegang.

    Nelayan pertama ini kemudian menjelaskan kepada nelayan kedua: “Lihat, mudah sekali bukan? Usik saja kepiting-kepiting itu hingga marah, dan kita akan langsung bisa menangkap mereka dengan mudah.”

    Sama seperti dalam kehidupan kita, jika kita mudah terusik dan menjadi marah karena suatu hal, maka kita akan mudah dimanfaatkan oleh pihak lain, dan akan mudah jatuh ke situasi yang merugikan kita.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Kisah Harimau Angkuh dan Tikus Penyelamat

    PODCAST Kisah Harimau Angkuh dan Tikus Penyelamat

    Ada seekor harimau yang sangat kuat dan ganas di hutan, semua hewan di dalam hutan takut padanya. Dia benar-benar adalah si raja hutan.

    Suatu hari, saat sedang berkeliling mencari mangsa, dia melihat ada seekor tikus.

    PODCAST

    Tepat ketika akan memangsanya, si tikus berkata: “Oh, raja hutan, mohon lepaskan saya, jangan makan saya!”

    Si harimau kemudian berkata: “Saya lapar dan ingin makan, buat apa saya melepaskanmu?”

    “Saya hanya binatang kecil, dan memakan saya tidak akan membuat paduka kenyang. Jika paduka mau melepaskan saya, saya berjanji, suatu hari, saya pasti akan membalas kebaikan paduka.”

    ”Hahahahaha, hewan kecil sepertimu, bisa menolong saya apa? Lagipula, saya ini sangat kuat, kesulitan macam apa yang tidak bisa saya atasi?”

    Si tikus terus memohon agar dirinya tidak dimangsa dan dilepaskan.
    Tiba-tiba saja si harimau berubah pikiran, dan akhirnya dia berkata: “Hmm.. baiklah, saya tidak akan memangsamu, sana pergilah!”

    Dan si harimau pun melepaskan si tikus.

    Sebelum pergi si tikus berkata: “Terima kasih paduka, suatu hari saya akan membalas kebaikan paduka, yang telah mengampuni nyawa saya.”

    Dan si tikus pun pergi.

    Di hari yang lain, ketika si harimau sedang berjalan-jalan, tanpa sadar, dia masuk ke perangkap yang dipasang oleh seorang pemburu. Akibatnya, kini si harimau terkurung di dalam jaring-jaring tali yang sangat kuat.

    Si harimau berpikir: “Aduh, habislah saya, saya terperangkap di jaring pemburu, bagaimana ini?”

    Ketika si harimau sedang kebingungan dan hampir putus asa, tiba-tiba datang si tikus yang dulu pernah dia lepaskan.

    “Paduka, apa yang terjadi?”

    “Tikus, saya terperangkap di jaring ini, bisakah kamu menolong saya?”

    “Tidak masalah paduka, tunggu sebentar.”
    Si tikus kemudian pergi.

    Harimau itu berpikir: “Hah? Kenapa tikus itu pergi, kurang ajar, dia telah menipu saya!”

    Tapi kemudian ternyata si tikus kembali lagi bersama teman-temannya. Mereka semua kemudian mulai menggigit jaring-jaring tali yang menjebak si harimau. Tidak lama kemudian, jaring-jaring tali itu pun putus, dan si harimau berhasil lolos.

    Harimau berterima kasih kepada si tikus, yang telah menyelamatkan nyawanya.

    Tikus itu membuktikan kata-katanya, bahwa suatu hari, dia akan membalas kebaikan si harimau yang telah mengampuni nyawanya. Dan membuktikan bahwa si harimau yang begitu besar dan kuat, ada kalanya memerlukan bantuan dari si tikus, yang kecil dan lemah.

    Jangan pernah meremehkan siapapun, tidak peduli betapa besar ataupun kecilnya mereka, tidak peduli betapa kuat ataupun lemahnya mereka.
    Karena, kita tidak pernah tahu, bisa saja suatu hari, mereka yang kita remehkan, justru menjadi penyelamat hidup kita.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • Menghormati Orang Lain

    Menghormati Orang Lain

    Seorang blogger di industri manajemen hotel berbagi pengalaman yang merupakan pelajaran berharga bagi semua orang, yaitu kejadian yang baru terjadi sebulan yang lalu:

    Saat melamar pekerjaan, ia menjalani beberapa sesi wawancara untuk posisi sebagai asisten general manajer sebuah hotel. Dia dan satu kandidat lainnya, seorang wanita muda, mencapai babak akhir untuk wawancara langsung dengan general manager.

    Pada hari wawancara, keduanya diminta untuk menuju ke kantor general manager. Di perjalanan, mereka melihat seorang wanita cleaning service sedang membersihkan dinding kaca. Tak disangka, air dalam embernya tumpah entah kesenggol atau apa, tumpahannya muncrat kemana-mana membasahi pakaian dan sepatu wanita muda itu, serta celana dan sepatu blogger itu.

    Wanita muda itu segera menjadi marah, berteriak pada wanita pembersih itu: “Apa kamu tidak melihat? Apakah kamu melakukan ini dengan sengaja ?! Saya ada wawancara. Bagaimana saya bisa kesana sekarang? Saya menganggap anda bertanggung jawab jika wawancara tidak berjalan dengan baik! Oh, sungguh hari yang sial!”

    Wanita itu berkata: “Kamu tunggu saya. Saya perlu sedikit merapikan, lalu kembali lagi. Tanpa menunggu jawaban, dia bergegas ke kamar kecil.

    Mendengar kata-katanya, blogger itu memiliki kesan yang buruk tentang wanita muda itu. Dia menoleh ke ibu cleaning service itu dan mencoba menghiburnya: “Ibu, saya baik-baik saja. Itu hanya air. Lain kali lebih berhati-hatilah”.

    Dia kemudian membantu membersihkan tumpahan air di lantai. Sambil menunggu wanita muda itu kembali, dia terus mengobrol dengan sang wanita pembersih, membantunya menyeka area atas dinding kaca yang sulit dijangkau olehnya.

    Wanita muda itu akhirnya kembali dan mereka berdua pergi ke kantor general manager. Manajer segera mengulurkan tangannya kepada blogger tersebut: “Selamat! Anda Diterima!”

    Tahap terakhir dari wawancara itu sebenarnya adalah tes untuk mereka berdua yang dilakukan oleh sang wanita pembersih. Manajer menjelaskan: “Sebagai industri jasa, kita harus selalu perhatian kepada orang lain di hati kita. Mengetahui bagaimana menghormati orang lain adalah yang paling penting dalam layanan hotel”.

    Menunjukkan rasa hormat kepada orang lain adalah menunjukkan karakter moral yang kuat dan menghormati diri sendiri. Dengan mempertimbangkan perasaan orang lain, dan bertindak pada posisi mereka, kita tidak hanya bertindak dari kasih sayang dan kebaikan, tetapi kita juga mendapatkan kepercayaan dari orang lain. (visiontimes/bud)

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    VIDEO REKOMENDASI

    https://youtu.be/mx_xSxvxKHc
  • PODCAST Suami Istri yang Selalu Bertengkar

    PODCAST Suami Istri yang Selalu Bertengkar

    Ada sepasang suami istri, yang selalu bertengkar. Hari-hari mereka selalu dipenuhi dengan pertengkaran.

    PODCAST

    Tepat di sebelah rumah mereka, hidup sepasang suami istri lain.

    Kehidupan mereka sangat damai.

    Kadang-kadang memang terdengar suara mereka berargumen, tetapi tidak pernah lama. Yang sering terdengar adalah suara obrolan riang dan tawa yang ceria. 

    Suami istri yang suka bertengkar ini merasa iri sekaligus heran, mengapa tetangga mereka itu selalu hidup rukun.

    Suatu hari si istri berkata suaminya:

    “Hei, lihat tetangga kita itu, mereka tidak pernah bertengkar, pergilah ke sana, coba intip, lihat mengapa mereka bisa hidup begitu damai.”

    Si suami kemudian pergi ke rumah tetangganya.

    Dari jendela, dia melihat, sang istri di rumah itu sedang mengepel lantai, tiba-tiba dia berlari keluar dapur, dan berteriak.

    Tampaknya suara teriakannya terdengar oleh suaminya.

    Si suami berlari ke arah sumber teriakan, dan tanpa sengaja menendang ember di lantai.

    Air di dalam ember itu tumpah semua.

    Suami dari tetangga sebelah yang melihat pemandangan ini, merasa senang.

    Ia merasa yakin sebentar lagi istri tetangganya itu akan mengamuk melihat tumpahan air dari ember.

    Ia sendiri, mungkin akan membalas istrinya dengan perkataan ‘salahmu sendiri menaruh ember sembarangan! Memangnya kakiku punya mata!’

    Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat istri tetangganya itu, menepuk suaminya dari belakang, dan berkata,

    “Aduh Abang! Maaf ya bikin kamu menendang ember itu! Saya menaruhnya sembarangan tadi karena saya melihat kecoak! Saya buru-buru kabur!” 

    Suaminya kemudian berkata,

    “Aduh Dik! Maafkan saya. Pekerjaanmu jadi bertambah. Saya tidak hati-hati. Biarkan saya membersihkan semua genangan air ini!” 

    Setelah melihat semua itu, si suami yang selalu bertengkar dengan istrinya ini pun pulang.

    Ia termenung sendirian, memikirkan betapa berbedanya dirinya dengan sikap tetangganya itu terhadap satu sama lain. 

    Istrinya melihat suaminya lalu berkata,

    “Jadi? Kamu sudah ke sebelah? Apa yang kamu lihat?” 

    Sang suami menjawab,

    “Tidak, saya tidak melihat apa-apa, mereka ternyata sedang pergi keluar.” 

    Namun sejak itu, sang suami berusaha merubah dirinya agar menjadi tidak egois lagi, dan selalu memikirkan istrinya terlebih dahulu.

    Sebelum menyalahkan istrinya, ia selalu meminta maaf terlebih dahulu. Istrinya yang selalu bertengkar dengannya, tiba-tiba berubah menjadi penyayang, baik hati, dan tidak egois.

    Ia pun mengerti, kunci dari hidup yang damai adalah dengan mencari ke dalam, bukan keluar. 

    Anda tidak akan bisa merubah orang lain. Yang bisa Anda lakukan hanyalah merubah diri sendiri.

    Dengan merubah diri sendiri, niscaya orang-orang di sekeliling Anda juga akan berubah. 

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

  • PODCAST Tidak Ada Perbuatan Baik yang Sia-Sia

    PODCAST Tidak Ada Perbuatan Baik yang Sia-Sia

    Suatu pagi saya pergi ke danau untuk berjalan-jalan. Saat sedang berjalan di sekitar danau.

    PODCAST

    Saya melihat ada seorang nenek tua yang sedang menyikat tempurung seekor kura-kura.

    Saya merasa tertarik, dan menghampirinya.

    “Nenek, apa yang sedang nenek lakukan?”

    Nenek menjawab:

    “Oh ini, saya sedang membersihkan lumut yang tumbuh di tempurung kura-kura ini. Saya suka kura-kura dan saya ingin melakukan sesuatu untuk membantu mereka.”

    Saya berkata lagi: “Oh, sudah berapa ekor kura-kura yang nenek sudah bantu bersihkan tempurungnya.”

    “Dari pagi saya baru membersihkan 2 tempurung kura-kura saja, kura-kura di tangan saya ini adalah yang ketiga, saya baru saja mulai membersihkannya.”

    Dengan sedikit tertawa, saya berkata:

    “Tapi nek, di danau ini, entah ada berapa banyak kura-kura, dan berapa banyak yang bisa nenek bantu bersihkan tempurungnya? Apa artinya hanya membersihkan batok beberapa ekor kura-kura saja?”

    Nenek menjawab lagi:

    “Saya tidak tahu ada berapa ekor kura-kura di danau ini, tapi saya yakin, kura-kura yang sedang saya bersihkan ini, jika saja dia bisa berbicara, dia pasti akan berterima kasih.”

    Tidak pernah ada kebaikan yang sia-sia, kebaikan yang kita lakukan mungkin tidak bisa mengubah dunia, namun pasti akan mengubah satu kehidupan, dari satu makhluk yang kita tolong.

    Jangan pernah ragu untuk melakukan kebaikan walau sekecil apapun, kapanpun, dan dimanapun.

    Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

    Dengarkan Podcast kami:

    Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
    Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu