Budi Pekerti

PODCAST Kisah Sang Pemancing Cilik

Ada seorang bocah yang senang bermain di tepi sungai. Si bocah memperhatikan, selain dirinya, ada seorang paman yang juga selalu berada di tepi sungai untuk memancing. Suatu hari, ia mendekati si paman dan berkata:

“Paman, maukah paman mengajari saya memancing? Kelihatannya mudah saja, saya juga pasti harusnya bisa.”

“Oh, boleh saja Nak. Ayo sini duduk di sebelah paman.”

PODCAST

Paman itu pun mengajari si bocah memasang umpan dan melempar tali kail ke sungai. Mereka menunggu dengan sabar, dan tak berapa lama….. pancing pun mulai terasa berat ditarik. Si bocah kesenangan mendapatkan ikan, dan meminta untuk mengulangi kegiatan itu lagi dan lagi.

Setelah mereka berhasil menangkap beberapa ikan, si bocah berkata,

“Paman, memancing itu ternyata mudah ya. Bolehkah paman meminjamkan pancing paman agar saya bisa mencoba memancing di tempat lain?”

Si Paman tersenyum. Ia pun mengajak bocah ke rumahnya dan meminjaminya peralatan memancingnya yang sudah tak terpakai.

Bocah itu merasa senang. Keesokan harinya, ia pergi ke sungai yang lebih jauh dari rumahnya dan mencoba mempraktekkan hasil belajar memancing dengan si Paman. Namun kali ini, ia menunggu dan menunggu, tak ada ikan yang memakan umpannya. Ia tidak tahan lagi dan melempar pancingnya dengan kesal.

“Paman pasti meminjamiku pancing yang sudah rusak!”

Dengan marah-marah, ia kembali ke rumah Paman pemancing dan mengadu.

Paman pemancing menyambut si bocah dengan muka ramah dan tersenyum. Ia pun bertanya bagaimana hasil pancingan si bocah hari ini.

“Paman pasti meminjamiku pancing yang sudah rusak ya! Kenapa pas aku pakai untuk memancing sendirian, satu pun ikan tidak berhasil kutangkap! Padahal kemarin, aku sudah belajar semua cara memancing dan berhasil menangkap banyak ikan!”

Paman tersenyum lebar dan berkata:

“Nak, yang kemarin kamu pelajari adalah teori cara memancing. Tapi, kamu belum belajar bagaimana caranya sabar dan tekun saat menunggu ikan memakan umpanmu. Kamu belum belajar bagaimana cara mencari sungai yang banyak ikan, dan kamu belum belajar bagaimana caranya tidak menyerah bahkan di saat-saat kamu tidak boleh menyerah!”

Bocah menatap paman dengan bingung.

Paman berkata lagi,

“Tahukah kamu, paman bisa sampai ke sungai yang sering kamu kunjungi untuk bermain itu, adalah karena paman sudah menghabiskan banyak waktu di sungai lain dan sudah mengetahui bahwa di sungai lain, ikannya tidak sebanyak di sungai itu? Tahukah kamu bahwa untuk dapat memancing banyak ikan, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam menunggu dan tidak menyerah? Dan tahukah kamu bahwa ini adalah hari pertamamu mencoba memancing sendiri, dan pasti akan ada banyak kegagalan. Namun kamu telah menyerah dan menyalahkan pancingmu di hari pertama.”

Paman tersenyum dan menatap si bocah.

“Jangan kuatir, Nak. Kamu masih sangat muda, dan masih banyak belum mengerti akan banyak hal. Tapi paman cuma berpesan satu untukmu: dalam menghadapi sesuatu, kamu harus tekun, sabar, dan tidak boleh menyerah! Karena itu adalah kunci kesuksesan.”

Bertahun-tahun kemudian, si bocah yang telah menjadi direktur sebuah perusahaan besar, masih mengingat nasehat sederhana dari paman pemancing ini dan merasa sangat bersyukur mereka dipertemukan di sungai itu.

Beri seseorang ikan, dia akan kenyang selama satu hari.

Beri seseorang  kail, dia akan kenyang seumur hidup.

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Saksikan video kami:

Youtube ☛ www.youtube.com/ntdkehidupan
Dailymotion ☛ www.dailymotion.com/ntdkehidupan
Facebook ☛ https://web.facebook.com/ntdkehidupan​
Terhubung dengan kami di Twitter ☛ twitter.com/indonesia_ntd
Youmaker ☛ https://www.youmaker.com/c/ntdkehidupan

Dengarkan Podcast kami:

Anchor ☛ https://anchor.fm/ntd-kehidupan
Spotify ☛ https://open.spotify.com/show/4phapkNi7D1INq8emRB1Tu

VIDEO REKOMENDASI